#SelasaKreatif #2

Malam ini kita akan jabarkan 5 unsur dalam teknis menulis. 5 unsur dalam teknik menulis itu antara lain:

  1. Alur cerita
  2. Setting/ latar cerita
  3. Penokohan
  4. Konflik
  5. Ending

ALUR CERITA

Alur cerita adalah jalan cerita. Apapun bentuknya. Sebuah fiksi harus memiliki jalan cerita. Alur cerita ini mempunyai 3 jenis bentuk, yaitu, alur maju (A-Z), alur mundur (Z-A atau biasa disebut flashback), atau alur maju-mundur (non linear). Semuanya bisa menjadi pilihan satu-satu atau bahkan gabungan sekaligus. Bebas! Intinya adalah kita harus menciptakan alur cerita. Nah, untuk mengalirkan yang namanya jalan cerita, hal pertama yang harus kita miliki adalah ‘gambaran jalan cerita’. Mau dikemanakan sih jalan cerita (cinta) kita.

Gambaran jalan cerita itubisa kita tuangkan ke dalam sebuah outline (semacam kerangka cerita) sebelum memulai menulis. Kira-kira ceritanya akan dialirkan gimana? Outline ini salah satu cara efektif untuk membantu kita mengingat rencana alur cerita yang sudah tergambar di otak.

Untuk pemula diasarankan lebih baik membuat outline dulu dan disiplin dengan outline itu sendiri. Tentu akan terjadi pergeseran-pergeseran alur di tengah proses penulisannya nanti. Dikhawatirkan, jika terus menerus menuruti pergeseran-pergeseran itu cerpen atau novel kita nggak akan pernah jadi lantaran terus berubah-ubah. Nglambyar gitu deh jadinya.

Selanjutnya, mengalirkan cerita bisa kita bangun melalui narasi dan dialog. Kita bisa mengombinasikan keduanya secara proporsional. Imbang lah. Kebanyakan narasi juga akan membuat pembaca bosan, pun sebaliknya. Kalau terlalu dominan dialog bisa membuat pembaca meyakini kita bahwa kita lebih rewel dan cerewet dari Omas.

Jangan pernah membuat narasi dan dialog yang tanpa peran untuk membangun cerita. Basa basi gitu deh maksudnya. Itu sangat tidak menarik. Juga, jangan mengulangi inti dari narasi dalam bentuk dialog atau sebaliknya. Karena pengulangan yang seperti itu akan  mencederai karya kita.

Ini contoh kombinasi narasi dan dialog yang berperan mengalirkan cerita:

Kyoto mulai beku. Lalu-lalang yang tadi tamoak berisik kini melengang. Siklus alam, ya, selalu saja orang akan kembali pulang saat malam kian kencang menorehkan lelah. Tapi tidak buatku! Aku masih saja duduk di taman yang gigil ini, setia menunggumu. Setia menanti janjimu, Dewi. Kulirik lagi arlojiku, sudah pukul 2 dini hari.

“Benar ya, pukul 10 nanti?” tanyaku penuh semangat.

Dewi tersenyum manis, menjereng deretan giginya yang putih mempesona, menaklukkan hatiku.

“Ya, aku akan datang,” sahutnya.

“Aku akan menunggumu, lebih dulu dari jam yang kamu janjikan. Pasti itu!”

Ah, kembali, lagi-lagi, ia mengingkari janjinya. Pukul 10? Sekarang sudah pukul 2 dini hari, dan tak ada secuil kabar pun darinya. Selalu begini!

Tetapi aku masih saja selalu setia memberikan dada lebarku padanya untuk mengerti dan mengerti, meski tentu saja aku sama dengan lelaki lain yang tersuruk kecewa saat kekasihnya kembali ingkar janji.

LATAR CERITA

Setiap cerita selalu membutuhkan latar yang menjadi tempat ia hidup. Apa pun dan bagaimana pun latar tu diciptakan, entah itu nyata atau imajiner dan fantasi, latar itu harus ada. Latar bukan hanya lukisan tentang temoat. Bukan! Latar juga mencakuo suasana emosi yang terbangun dalam tokoh-tokoh itu. Karenanya, latar bisa dibangun dengan model narasi dan dialog pula. Dan yang harus diingat: lukisan latar itu harus natural, jangan dipaksakan. Ini bukan berarti tidak boleh membuat latar yang fantasi atau imajiner, bukan! Latar yang natural itu alamiah dan logis. Kalau malam pasti gelap donk. Nah, kalau tahun 1945 ya otomatis suasananya harus revolusi. Saat itu belum ada blackberry, kan jadi jangan bikin latar yang gak logis.

Hal lain yang kudu diperhatikan dalam membangun latar cerita adalah jangan terjebak untuk menjadi reporter.

Memang benar, bahwa fiksi yang berhasil menyajikan latar dengan kuat dan detail tentu akan memiliki kekuatan lebih. Pasti itu! Sebuah novel yang berhasil menceritakan kota Manchester dengan detail, pasti akan memiliki kekuatan lebih di mata pembaca. Dan kita sekarang beruntung banget hidup di era mbah Google yang selalu sedia membantu kesulitan-kesulitan kita. Jadi kita nggak perlu keliling dunia hanya karena riset latar novel.

Nah yang dimaksud jangan terjebak sebagai reporter adalah kita keasyikan menuturkan latar sampai-sampai lupa bahwa kita sedang menulis cerita, bukan berita.

Misal nih ya:

Al Shafwa Royale Orchid, Room 734. Dari kamar ini, pesona misterius Masjidil Haram begitu terang di depan mataku. Ya, begitu dekat! Aku hanya perlu waktu 5 menit untuk sampai ke hadaoan Ka’bah. Turun ke lift dua kali, lalu di pintu keluar hotel sudah berjulang jelas bangunan dominan abu-abu berarsitektur Timur Tengah ini.

Selalu saja, seperti yang kali ini pun kukatakan pada istriku tanpa bosan, Masjidil Haram beda auranya dengan Masjid Nabawi. Jika Masjid Nabawi bernuansa anggun elegan, Masjidil Haram kental suasana misterius-mistik. Dia mengangguk, membenarkan: ah, senangnya memang punya isteri yang nyaris selalu menyetujuiku untuk hal-hal yang tidak prinsipil.

“Kamu ngerasa kayak disambut bara tungku nggak setiap keluar pintu lobby hotel?”

“Iya, panas sekali, maklum suhunya sekarang sampai 47 derajat…” sahut istriku sambil sedikit menghempaskan napas.

Kujawil lengannya, “Lihat itu, di pojok, dekat wanita berjubah hitam yang jualan tasbih dan Al-Quran itu. Anak tanggung di sebelahnya itu tangannya terpotong. Apa kena qishas ya?”

Istriku menoleh, lalu menepi sejenak saat rombongan besar jamaah dari Turki melintas membelah jalannya. Sebagian besar gundul. Seluruhnya tambun-tambun kayak timbunan lemak.

“Awas, minggir…!” teriakku sambil menepikannya lagi.

Sebuah bus yang berkaca hitam berhenti di sebelahnya. Hafil, kubaca tulisan itu di body bus itu

Coba bandingkan dengan ini:

Malam hari terasa masih terang sajadi sekitaran Eiffel ini. Ada banyak sekali orang-orang yang berjualan segala macam merchandise khas Paris di sekitarnya. Anak-anak kecil juga banyak melintas, bermain-main di taman yang hijau membentang ini. Sebuah hotel bertuliskan Hilton bersiri gagah sekali. Di ujung barat taman yang mengitari Eiffel ini, ada sebuah gang kecil yang jika diikuti akan menuju ke sebuah perkampungan penduduk Paris kelas bawah. Suasana yang bertolak-belakang dengan jalan-jalan besar yang mengitari taman Eiffel ini, yang dipenuhi oleh mobil-mobil lalu-lalang tanpa terputus.

Eiffel memang memikat mata. Menjulang tinggi. Para pelancong tampak bersemangat semua untuk menaiki Eiffel dengan cara antri di depan lift itu.

Kalian nemuin tokoh nggak di sana? Alur ceritanya ada nggak? Kayak berita kan? Nah, itulah mengapa penting dipahami bahwa sebuah karya bisa memiliki kekuatan plus jika mampu membangun latar yang detail, tetapi tetap kudu dalam bingkai cerita, baik melalui narasi atau dialog.

PENOKOHAN

Di dalam sebuah cerita, tentu wajib hukumnya untuk ada tokoh-tokoh. Tokoh utama hingga tokoh sambilan. Semua tokoh ini harus diciptakan karakternya. Dari watak sampai kebiasaan harian atau pun fashionnya. Posisi peran setiap tokohnya pun harus terang dalam cerita yang kita buat. Itulah yang disebut penokohan. Semua penokohan ini harus diciptakan oleh penulis secara konsisten dan logis. Kalaupun di bagian tengah atau akhir ada perubahan terhadap penokohan seorang tokoh, maka tetap harus ada penjelasan cerita yang logis sebab dari perubahan karakter tokoh tersebut.

Misal nih, tokohnya sedari awal diceritakan cewek penggila nongkrong di cafe. Di bagian tengah, cewek ini berubah style jadi cewek rumahan, maka harus ada jalinan cerita yang menguraikan secara logis sebab-sebab pemicu hal tersebut.

Logika tokoh juga mutlak untuk diperhatikan. Misal, seorang anak SD kelas 4, tapi dialog-dialognya terasa begitu wise layaknya seorang pertapa usia 60 tahun. Ini nggak logis. Maka sesuaikan saja secara alamiah level setiap tokoh yang kita buat dengan perannya, caranya berbicara, caranya beraktivitas, dan sebagainya.

So, mau dijadiin apapun tokoh-tokoh karya yang kita buat, bebaas. Tapi tetap memperhatikan aspek konsistensi peran dan logika ketokohannya.

KONFLIK

Setiap cerita harus ada konflik cerita. Tanpa konflik, cerita yang kita bikin meskipun sudah berhasil membangun alur,latar, dan penokohan, akan terasa sangat datar bin garing bin anyep kayak jomblo akurat. Konflik sesungguhnya merupakan jantung dari sebuah cerita. Berdasar konflik yang dibangun bisa dari awal langsung atau mengalir landai. Maka, kemampuan kita membangun titik konflik yang mendidih akan benar-benar menjadi jantung dari bagus atau tidaknya tulisan yang kita buat.

Dalam sebuah cerita,konflik memang tidak harus tunggal. Kalau tunggal, cerita akan terasa sangat sempit. Konflik boleh diciptakan sebanyak-banyaknya, asalkan kita mampu mengalirkannya dalam cerita. Meskipun begitu, tetap saja hanya ada satu konflik utama. Konflik-konflik lainnya bisa disebut dengan ‘bumbu konflik’ penyedap cita rasa masakan cerita yang kita buat.

Kita harus ingat benar bahwa konflik yang membahana, yang disajikan dengan alur yang mengalir, latar yang detail, dan penokohan yang kuat, akan benar-benar menjadi pelengkap bangunan cerita yang kita buat. Karena itu, jangan memilih konflik ala kadarnya. Kita harus bisa memilih konflik yang cetar, yang tidak monoton, yang bakal bisa menyedot rasa penasaran pembaca. Dukunglah konflik cetar dengan item-item lainnya dari akur sampai penokohan, maka niscaya cerita kita akan mampu menyeret pembaca.

Cerita yang baik adalah cerita yang mampu’menyeret’ : rasa penasaran pembaca agar terus membaca, emosi pembacanya sampai dia merasa benar-benar menjadi bagian dari jalan cerita dan kehidupan si tokoh.

Kalian pernah kan merasa sebel,sampai mau banting hape, nangis dan senyum-senyum sendiri. Berarti kalian udah terseret dalam cerita tersebut. DRAMATIS guys.

ENDING

Apakah ending harus selalu ada?? Tidak juga sih. Lha kenapa kok memasukkan aspek ending dalam rangka membuat cerpen atau novel? Sengaja dimasukkan untuk membantu supaya kita mengerti bahwa setiap cerita tentu akan memiliki akhirnya. Sekalipun menulis novel romance setebal 500 halaman, tetap saja akan ada akhirnya. Nah akhir itulah yang disebut ending.

Ending tidak harus berupa ‘akhir cerita tokoh’. Ending tidak mesti berupa mati atau bahagia. Menikah. Punya anak. Kaya raya! Itu udah basi. Ending pun tidak harus ada di akhir bagian novelmu. Bisa ada di mana saja, misal di depan atau tengah, dengan catatan harus mampu memelihara alur dan logikanya dengan kuat dan baik.

Pada tahu istilah ending menggantung kan? Nah ending menggantung adalah menutup cerita dengan sebuah adegan atau suasana atau dialog bahkan yang dibiarkan menggantung begitu saja. Dan ini sah-sah saja

Mau gimanapun endingmu, buatlah ending yang menyentak! Ya, yang menampar, menyergap,ngagetin. Itu penting lho agar pembaca kita menjadi lebih teraduk-aduk emosinya.

Ini salah satu contoh ending:

“Maafkan tak setiaku selama ini. Kalau boleh kuminta sesuatu padamu, tolong sampaikan ini pada anak-anakku bahwa aku sangat menyayangi mereka. Tolong peluk mereka setiap malam jelang tidur, dan katakan bahwa pelukanmu adalah pelukan sayang ayah buat mereka…”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *