#Rabuku 4 November 2015

Super Sad

Super Sad True Love Story ini merupakan sebuah novel satir yang ditulis oleh Gary Shteyngart, seorang penulis asal Rusia namun sekarang menetap di Amerika. Buku ini cukup padat karena berisi banyak sentilan namun cukup membikin penasaran.

Dari kalimat pembukanya saja sudah kelihatan kalau novel ini akan asik untuk dibaca dan direnungi. Dimulai dengan:

‘Hari ini aku membuat keputusan penting: Aku tidak akan pernah mati. Tidak akan pernah mati.’

Keren bukan??

Tokoh utama dalam novel ini bernama Leonard Abramov, tapi biasa dipanggil Lenny, dia tinggal di masa yang jauh dari masa sekarang. Bisa dibilang Gary Shteyngart sudah menyiapkan sebuah dunia yang mengakomodir hal itu, dengan segala perkembangan teknologi yang lebih maju dari hari ini. Sayangnya novel ini tidak menyebutkan tahun berapa, namun dapat disimpulkan dari bagaimana para tokoh tokoh di dalam buku ini menyebut Arcade Fire sebagai jadul. Pun ketika menyinggung soal buku, di satu bagian, ada seorang anak muda yang menyebut buku yang sedang dibaca Lenny sebagai bau kaus kaki. Kenapa?

Karena buku cetak sudah tidak diproduksi lagi, jadi buku yang Lenny punyai bisa dibilang merupakan sebuah barang sejarah. Kuno. Bahkan generasi pacarnya Lenny sudah tidak ada lagi yang membaca buku cetak

Tokoh utama dalam novel ini sendiri sudah berumur 39 tahun, single, asli rusia, imigran di Amerika. Lenny punya seorang pacar bernama Eunice yang berumur 25 tahun (ehem selisih 14 tahun lho). Yang menyedihkan adalah ketika Lenny sedang membaca buku Leo Tolstoy yang super dupel tebal, War and Peace. Orang-orang seolah tidak mengerti kenapa Lenny bisa begitu terhanyut ketika membaca buku. Dalam buku ini digambarkan kalau Lenny disebut-sebut sebagai pembaca buku terakhir di dunia!

Gery dalam novelnya ini menggambarkan orang-orang seprti Eunice dan generasinya sebagai generasi yang membaca untuk mencari informasi, bukan lagi orang orang yang memang menikmati kenikmatan membaca. Sedih ya. Makin sedih lagi kalau hobby yang kita sukai dianggap aneh oleh pacar sendiri, orang yang kita sayangi.

Mungkin sebagian pembaca akan bilang: kenapa Lenny nggak mutusin di Eunice?

Dengan posisi Lenny yang berumur 39, single, kemampuan finansialnya enggak kaya banget tapi enggak miskin juga, dan bisa dibilang Eunice ini cinta sejatinya. ‘Hari ini aku membuat keputusan penting: Aku tidak akan pernah mati. Tidak akan pernah mati.’ Itu merupakan kalimat pertama yang diucapkan ketika Lenny baru saja ketemu Eunice. Bisa dikatakan kalau eunice ini menghidupkan kembali gairah hidup Lenny.  Semacam, I feel alive!

Kembali ke settingan novel satir ini. Dalam penggambaran Gary, mereka hidup di dunia yang berbeda dengan dunia kita. Kenapa? Amerika Serikat di dalam buku ini bukanlah Amerika yang kita kenal sekarang: Amerika yang adikuasa, Amerika yang perekonomiannya begitu kuat sampai rupiah tembus 13.425,- per dolar. Di buku ini dolar kalah sama yuan, kalah sama yen. Bahkan diceritakan Amerika mau dibeli (kayaknya istilah dibeli ini kurang tepat deh, entah apa istilahnya yang bener, pokoknya amerika butuh suntikan dana) China. Teknologi di masa itu, mereka sudah bisa memerangi kanker. Bisa memperbaiki sel sel yang rusak, serta bisa kembali muda lagi bagi mereka yang mampu. Jadi bisa dibilang umur bisa dibeli. Itulah kenapa Lenny memutuskan tidak ingin mati. Karena dia bisa hidup selamanya, kalau dia kaya dan demi Eunice juga, tentunya.

Namun sayangnya Gary tidak menjelaskan secara gambling kenapa Amerika yang saat ini kita kenal dengan negara adikuasa bisa ambruk seperti itu. Mungkin lebih karena budaya konsumtif. Dalam artian, kita tau kekuatan produksi negara China, ketika semua orang amerika membeli produk negara China, itu berarti harta atau uang yang tadinya milik Amerika menjadi milik China. *CMIIW*

Di buku ini diceritakan kalau gawai yang mereka miliki disebut dengan ‘aparat’. Nah, si aparat ini menyimpan segala informasi pribadi pemiliknya, mulai dari kemampuan finansial yang merujuk pada peringkat kartu kreditnya, lalu informasi pribadi semacam KTP, dan isi aparat ini tidak bisa dipalsukan karena hal itu bisa menjadi identitas resmi dari si pemilik. Catatan kriminal dll dll semua sudah ada di dalam aparat itu, dan semua orang bisa mengunduhnya.  Dajaibnya ajaibnya, aparat itu bahkan bisa memberikan nilai kemampuan bercinta si pemilik. Nggak kebayang kan?? Pada bab yang membahas mengenai ‘aparat’ ini sempat diceritakan ada suatu ketika internet mati, sampai tiga hari, dan Gary sebagai penulis berhasil menyindir tentang orang orang yang kecanduan teknologi terutama internet. Di buku diceritakan ada sekelompok remaja yang frustasi dan bahkan sampai bunuh diri karena gawainya enggak bisa tersambung ke internet.  Pada masa itu, facebook sama twitter udah nggak ada, semua make Globalteens. Biarpun namanya ada ‘teens’ nya tapi para orang tua kayak Lenny juga makai globalteens kok. Tagline globalteens itu:kurangi kata kata, perbanyak gambar (foto).  #JlebBanget

Kerennya Globalteens ini, si pemilik akun bisa jadi seleb ‘citizen jurnalis’ juga. Jadi seorang pengguna misalnya, bisa melaporkan kejadian secara langsung tentang suatu demo atau apapun itu, enggak harus demo dan kejadian besar lainnya, bahkan teknik nyepik misalnya pokoknya bebas banget. Kalau kita lihat sekarang ini gejala ke arah ini sudah jelas terlihat. Kita semakin mudah untuk mengakses berita, dan tentunya kita jadi semakin bingung akan kebenaran berita yang tersebar.

Salah satu kelemahan buku ini adalah alurnya yang lambat karena Gary harus mengenalkan dulu dunia tempat Lenny hidup, ya karena dunia mereka hidup. Agak aneh sih dunia mereka ini dan jauh sekali dari bayangan dunia yang kita temui di Indonesia. Gary sendiri membingkai cerita tentang Lenny ini dalam bentuk semacam buku harian dengan sudut pandang utama dari si Lenny dan selang seling sama Eunice Park, pacaranya. Yang lebih nyebelin lagi dari PoV Eunice ini cuma sekadar balas balasan pesan di Globalteen, jadi emosi sebenernya Eunice kurang teraba ya. Itu nyebelin sekaligus bikin pembaca penasaran.

Lalu kenapa novel ini diberi judul Super Sad True Love Story?

Jadi, Lenny ini kan lajang, umur 39 sudah masuk ke krisis kepercayaan diri juga karena belum nikah juga, trus kemampuan finansialnya, biarpun enggak miskin tapi bikin was was juga kalau menurut Lenny sendiri, dan hal ini diperparah dengan posisi dia dikantor yang sudah digusur oleh juniornya karena dia kelamaan ditugaskan ke eropa, yang dimanfaatkan sama Lenny untuk sekalian libur, selama setahun. Ketika dia sedang mau menata ulang hidupnya inilah Lenny ketemu Eunice, yang berumur 25 tahun, seorang keturunan Korea, dengan segala macam tradisi yang membelenggu nya, dengan menjadi kakak tertua, cewek, yang diharapkan atau dianggap sebagai kakak lelaki yang harus memanggul beban keluarga. Dengan semua tekanan itu, Eunice memutuskan untuk memberontak, pergi dari rumah, ketemu Lenny. Lenny suka, Eunice butuh tempat buat bersandar. udah deh pacaran. Ini semacam cinta dengan dua akar budaya yang berbeda, ditambah lagi keduanya sama sama perantau di negeri orang.

Silahkan gunakan imajinasi kalian bagaimana hal itu bermain dalam asmara mereka.

Salah satu bagian yang cukup menguras emosi adalah ketika bos Lenny, Joshie Goldman, yang seharusnya lebih tua dari Lenny, karena berduit, bisa melakukan perawatan sel dan jadi lebih muda, lebih tampan, yang jelas sih lebih kayaaaaaa. Dan Joshie suka sama Eunice. Eunice yang sedari awal melihat Lenny sebenarnya tidak menarik dan tidak terlalu kaya, jadi sedikit ‘terpengaruh’ dengan perhatian yang diberikan oleh Joshie.

Percayalah, kalau kalian mengira Eunice dan Joshie akan hapily ever after, itu cuma bualan, itu hanya imajinasi.

Penasaran dengan endingnya? Segera ke tokobuku terdekat dan baca sendiri.

*diubah seperlunya oleh Tim Admin KBY*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *