#SelaSastra 10 November 2015

Tips-tips Praktis dalam Menulis Fiksi (lanjutan)

Jangan jadi Ustaz

Benar adanya bahwa penulis pasti tidak kosong subyektivitas. Di dalamnya ada visi dan misi tentang apa yang dia tulis. Ada pesan moral yang terkandung. Selalu ingat bahwa yang kita tulis adalah sebuah cerita, bukan sedang menjadi seorang juru dakwah. Oleh karena itu, tidak perlu menjadi ustadz dalam menuliskan cerita. Berikut beberapa tipsnya:

  1. Kita harus bisa menyajikan pesan moral tetap dalam bingkai sebuah cerita.
  2. Paling mudah menyodorkan pesan moral melalui dialog tokoh-tokohnya
  3. Smooth, lembut, kalem, begitulah caranya.
  4. Hindarkan berkalimat panjang-panjang pada bagian pesan moral ini. Karena rentan menyulapmu jadi penceramah.
  5. Jangan memvonis! Kita hanya cukup menyodorkan sebuah ‘nilai moral’, tapi tidak perlu menghakimi ini benar itu salah secara verbal. Biarkan pembaca tetap asyik dengan cerita yang kita buat tanpa perlu merasa digurui.
  6. Hindarkan penggunaan-penggunaan kutipan yang straight! Dibiarkan dalam kutipan dalil, misal, tapi kemaslah dalan sebuah cerita.
  7. Wajib diingat!! Terseret untuk banyak menyodorkan pesan moral, bahaya menjadikan cerita yang kita buat, bisa-bisa malah kayak pamflet, kitab, dll.
  8. Pastikan semua itu berjalan secara alamiah dan tidak terkesan dipaksakan masuk dalam cerita.
  9. Kita harus bisa menjaga keutuhan logika cerita, jangan sampai tidak logis. Misal seorang nenek menasehati cucunya dengan mengutip wikipedia.

Kalimat Tidak Kaku

Agar kalimat-kalimat yang kita buat, baik narasi maupun dialog, tidak kaku dan membosankan, simak tips berikut ini:

  1. Kombinasikan kalimat panjang dan pendek secara harmonis. Jangan oanjang terus atau oendek terus. Itu membosankan.
  2. Kombinasikan antara narasi dan dialog secara seimbang. Dialog melulu, kesannya encer banget dan kayak nggak penting. Narasi melulu kesannya berat dan membosankan.
  3. Buat tokoh-tokoh bergerak dinamis, jangan lelet, beku dan stuck. Caranya? Sisipkan kalimat-kalimat naratif yang menjelaskan perubahan suasana latar atau emosi tokoh di antara dialog-dialog yang mengalirkan cerita.
  4. Pastikan kalimat yang kita bikin itu tuntas. Maksudnya, jangan terjebak pada frase. Setiap kalimat pasti punya (minimal) predikat. Kalau frase tidak ada predikatnya.
  5. Gunakan tanda baca dengan tepat yang mencerminkan suasana cerita yang sedang berjalan.
  6. Kita bisa menyelipkan teknik flashback untuk memvariasikan alur yang sedang berjalan.
  7. Pastikan kalimat yang diucapkan tokoh sesuai dengan karakter logisnya.
  8. Jangan terlalu kaku membuat kalimat yang berpedoman pada EYD atau tata bahasa baku. Yang penting kalimatnya sudah benar (bukan sebagai frase).
  9. Gunakan kata-kata kecil penyambung, seperti: ah, huh, wah, heh, nah, dll.
  10. Kombinasikan penggunaan kata pengganti untuk subyek, misal: aku,ku,dia,nya. Tambahkan kombinasi kata aktif dan pasif, misa: ‘dia memukul’ jadi ‘dipukulinya’, dst.
  11. Pastikan setiap perubahan pengucap atau suasana dipecah dalam paragraf sendiri.
  12. Dalam dialog, pastikan setiap pengucap yang berbeda di letakkan pada paragraf sendiri, jangan ditumpuk-tumpuk.
  13. Bisa menggunakan pola-pola yang variatif. Misal: mengangkat kalimat-kalimat yang dipakai dalam adegan SMS, BBM,FB,twitter,pamflet,spanduk, dsb.
  14. Jangan bebani kalimatmu dengan idiom-idiom puitik atau pun makna-makna yang tidak berkepentingan sesuai konteksnya.
  15. Bersikaplah alamiah,natural, sesuai dengan alur dan tokoh yang dialirkan

Tanda Baca dalam Dialog dan Narasi

Kesalahan teknis penulisan tanda baca benar-benar sangat mengganggu pembaca. Berikut beberapa tips yang harus diperhatikan:

  1. Pahami bahwa tanda baca itu berguna untuk membangun suasana emosi atau karakter latar dan tokoh, bukan hiasan belaka.
  2. Pahami bahwa tanda baca itu sama persis dengan ‘intonasi’ dalam bahasa lisan.
  3. Perkuat tanda baca dengan kata sambung untuk menegaskan suasana cerita (dalan dialog).
  4. Jika sebuah dialog diakhiri dengan tanda tanya (?) dan atau tanda seru (!), maka tidak perlu titik lagi dan kata sambungnya ditulis dengan huruf kecil. Misal: “Apa maumu?!” Teriakku keras.
  5. Jika sebuah dialog tidak diakhiri dengan tanda tanya (?) dan atau tanda seru (!), maka gunakan koma (,) dan tanda sambung (kecuali pengucap sudah jelas, kata sambung tidak perlu ada lagi). Misal: “Ah, kamu memang selalu punya alasan.”
  6. Jika sebuah dialog dilanjutkan dengan keterangan suasana latar atau berganti adegan, maka cukup diakhiri dengan titik. Misal: “Sudahlah, aku capek bahas ini terus.” Kubuang mataku ke seberang jalan.

Beberapa tips tambahan:

  1. Jika tulisan sudah jadi, endapkan sekitar 2-3 hari. Lalu baca lagi. Jangan begitu jadi langsung dikirimkan, karena pasti akan merasa tulisan kalian sudah sangat bagus, padahal banyak kelemahan di sana-sini. Jeda itu diperlukan untuk mengendurkan emosi pada karya kalian yang sangat tinggi akibat efek psikis menulis itu.
  2. Perbanyak membaca novel orang dan cermati tekniknya. Jangan cuma menikmati ceritanya, tapi juga amati bagaimana cara penulisembuat alur, konflik, kalimat,idiom (kosa kata), dll.
  3. Rajin-rajin sharing,perkaya wawasan, bergaul, dll.
  4. Yang utama dan terutama: TERUS BERLATIH MENULIS.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *