#Rabuku 11 November 2015

Cinta Tak Pernah Tepat Waktu

Cinta Tak Pernah Tepat Waktu ini merupakan novel perdana dari Puthut EA yang selama ini lebih dikenal dengan cerpenis spesialis cerita cinta. Model penuturan, gaya bahasa dan diksi yang dipakai cukup sederhana tanpa banyak bumbu tapi cukup mengenyangkan. Menyinggung banyak hal, tanpa menghilangkan esensi utama dari bukunya sendiri.

Buku bersampul merah (kebetulan saya membaca ulang yang cetakan ke-3) ini terdiri dari 17 bagian, termasuk prolog dan epilog serta 15 cerita utama yang cukup mengaduk-ngaduk pikiran dan perasaan.

Saya pertama kali membaca buku ini bertahun yang lalu, waktu buku ini masih berjudul ‘Berani Beli Cinta dalam Karung?’ dan bukan buku pertama Puthut EA yang saya baca. Ketika membaca ulang untuk kesekian kali, selalu ada hal baru yang saya dapatkan. Sepertinya buku ini memang ditakdirkan untuk menghadirkan rasa berbeda pada setiap pembacaannya. Demikian pula dengan pembacaan kali ini.

Beberapa hari yang lalu seorang teman tiba-tiba berkomentar seperti ini ketika saya memegang buku merah ini: ‘asik ya punya teman yang mau menuliskan kisah hidupmu dalam sebuah buku, bukan biografi, tapi novel.’ Benar juga ya, novel Cinta Tak Pernah Tepat Waktu ini bisa dikatakan sebagai sebuah biografi singkat ‘Bung N’ tokoh utama Aku dalam novel ini. Beruntung sekali Bung N ini memiliki teman seorang Puthut EA yang mau menvelkan sepenggal kisah hidupnya.

Dalam novel ini diceritakan bahwa si ‘Aku’ –tokoh utama novel ini– mengalami kesialan akut dalam hal percintaan. Bukan karena tidak ada satupun wanita yang mau berpacaran dengannya, tetapi karena dia masih dibayang-bayangi oleh seorang perempuan dari masa lalunya. Setiap kali si Aku ini ingin memulai sebuah hubungan serius dengan seorang perempuan, kenangan akan perempuan dari masa lalunya menyeruak menghadirkan sebuah kebimbangan yang memposisikan si Aku dalam posisi yang serba salah. Sepertinya banyak diantara kita yang mengalami nasib serupa dengan si Aku, bukan? Masih sulit menghapus masa lalu, atau‘move on’ kata anak kekinian?

Buku setebal 278 (cetakan ke-3) ini tidak melulu berkisah mengenai si Aku dan kisah cintanya yang tragis, setragis sisa saldo di ATM ketika akhir bulan. Dibuku ini si Penulis juga menceritakan bagaimana hubungan si Aku dengan orangtuanya, terutama Ibu, yang selalu bersemangat mencarikan jodoh untuk si Aku yang tidak kunjung menikah. Ada yang pernah punya pengalaman serupa? Didesak-desak orangtua dengan pertanyaan kapan menikah karena sampai saat ini belum pernah sekalipun mengenalkan calon pendamping hidup? Kalau iya, mungkin ada baiknya kalian berguru pada si Aku ini.

Dibagian ke-13 (halaman 197) yang oleh penulis di beri judul ‘Surga-surga Kecil’ juga tidak menceritakan tentang sederet kesialan yang menimpa si Aku. Pada bagian ini, dengan apiknya penulis berhasil menghadirkan sepotong cerita mengenai tempat-tempat yang memiliki kesan mendalam dalam kehidupan si Aku. Di mulai dari rumah Tante Wijang –tante dari salah satu mantan pacar si Aku ini– yang sangat nyaman dan asri karena dipenuhi oleh berbagai macam bunga dan tanaman. Tempat kedua yang menjadi surge bagi si Aku ini adalah sebuah toko buku kecil yang berada di Kota Bandung, dalam perkembangannya kemudian toko buku kecil ini berubah menjadi semacam pusat bekumpulnya orang-orang yang ingin berbagi dan mendapatkan ilmu. Toko ini pulalah yang memperkenalkan si Aku kepada dua orang yang berhasil membuat dia menjadi pembunuh bayaran. Surga selanjutnya adalah sebuah sanggar kecil yang berada di kota Salatiga dimana terdapat beberapa orang yang mengelola pertanian organic dan memberdayakan masyarakat desa. Siapa saja boleh ikut main kesana, dengan satu sarat, telpon genggammu harus dalam keadaan mati. Ironi sekali ya dengan keadaan saat ini, dimana orang-orang enggan lepas dari telepon genggamnya, sepertinya mereka sudah terborgol erat dengan gawai tersebut. Dan masih ada tiga surga kecil lainnya yang diceritakan pada bagian ini.

Tiap orang mungkin punya tempat yang bisa membuat mereka nyaman dengan keadaan dirinya. Tempat bukan rumah yang selalu menghadirkan kenyamanan seperti rumah dan memanggil-manggil untuk sejenak mampir. Entah itu sepetak taman kecil yang berada di belakang sekolah,rooftop bangunan paling tinggi dikota, toko buku dengan koleksi ajaib, atau bahkan hanya berupa emperan toko dimana disana pernah tercipta sebuah kenangan manis dengan seseorang dalam sebuah perjalanan.

Perjalanan dan hidup merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Terkadang dalam sebuah perjalanan tiba-tiba saja semua serasa dibalik-balik. Masa lalu muncul tanpa bisa dibendung, memutar kembali kenangan seperti film lawas. Flash back kemasa-masa jahiliah. Dalam sebuah perjalanan menuju suatu tempat, bukan pemandangan diluar kereta yang kalian saksikan, tetapi sederet peristiwa yang pernah terjadi selama hidup kalian. Pada bagian ke-10, Bayang Wajah di Jendela Kereta, secara singkat penulis novel ini menceritakan bagaimana kisah hidup si Aku dan pemberontakan-pemberontakan yang berlangsung pada tahun penuh gejolak. Mulai dari ikut bergabung dengan tim untuk pemanasan 98, ‘disekolahkan’ di Jawa Tengah, Lampung, Jakarta dan Tawangmanu serta beberapa daerah lainnya hingga kegilaan si Aku yang tiba-tiba mendatangi tempat kostan perempuan yang mengganggu ketentraman hatinya lalu mengungkapkan cinta, tetapi perempuan itu menolak dan besoknya si Aku datang lagi dan melakukan hal serupa, menyatakan cinta hingga lagi, hingga pada kedatangan ketiga si Aku menerima jawaban dan kenyataan menyakitkan dari perempuan tesebut kalau ternyata si perempuan tersebut sudah memiliki pacar. Bagian ke-10 ini kurang lebih serupa dengan bagian ke-7 yang berjudul ‘Bab Khusus, tentang Kamu, untuk Kamu’.

Di atas seluruh kesempurnaan hanya ada sikap sederhana dan rendah hati, sebuah pepatah bijak yang tertulis ditembok kamar si Aku yang selalu mengingatkan si Aku bahwa hidupnya hampir sempurna, dengan sebuah masalah besar: tanpa pasangan hidup. Permasalahan yang cukup pelik bagi si Aku.

Hidup si Aku ini berjalan sebagai mana mestinya, tidur disaat yang lain bangun dan bangun di saat yang lain tidur, menyelesaikan pekerjaan sebagai pembunuh bayaran, mengunjungi teman, mendatangi acara dan lain-lain. Cukup normal dan teratur menurut hemat si Aku. Sampai suatu ketika telepon genggam miliknya bordering. Dari nomor yang dikenalnya sebagai nomor perempuan itu. Ada pergolakan batin yang menghampiri si Aku apakah telpon dari perempuan masa lalu tersebut harus di terima atau tidak. Kesalahan terbesar yang si Aku lakukan saat itu adalah menjawab panggilan telpon itu. Ada debar tersendiri yang si Aku rasakan ketika bercakap dengan perempuan diseberang sana. Ada perasaan sesal yang menghampiri kenapa dia memutuskan menerima telpon dari perempuan itu. Percakapan yang terjadi di antara si Aku dan perempuan itu berujung pada badai yang memporak-porandakan hidup si Aku untuk sesaat. Dan dari bagian ke-9 ini –Ah, Badai Itu– bisa diambil sebuah kesimpulan kalau kamu nggak kuat, jangan coba-coba deh kepoin seseorang dari masa lalu mu, apalagi sampai menghubungi dia kembali dan mengungkapkan perasaan.

Trust me, ini hanya akan menghasilkan banjir air mata yang membikin mata bengkak dan kemudian sadar kalau ternyata hidup tidak melulu diisi dengan keberuntungan.

Ada yang merasa hidupnya selalu beruntung? Hidupnya selalu lurus-lurus saya? Hampir tidak ada bukan? Sama seperti si Aku, selain kemalangan dalam bidang percintaan yang selalu menghampirinya, ternyata ada sederetan kesialan lainnya yang pernah dia alami. Hujan yang tiba-tiba mengguyur deras ketika hendak pergi kencan, serentetan ketidak beruntungan ketika bekejar-kejaran dengan tenggat waktu pengumpulan tugas, hingga tidak datang ke salah satu ujian akhir semester hanya karena jam weker yang seharusnya berbunyi malah dengan manisnya dimatikan oleh seorang kawan yang sedang berkunjung. Ketidak beruntungan memang sering kali datang tanpa diduga-duga. Tapi pernahkah kita melihat dari sisi sebaliknya ‘look at the brightest side’, ada sesuatu dibalik kesialan yang menimpa kita. Nah, lain kali cobalah untuk melihat dari sisi terangnya, mungkin Tuhan punya rencana yang nggak kalah kerennya dari serentetan kesialan yang menimpa kalian.

Bagian ke-4 Sesaat di Dalam Kamar ini menceritakan pertemuan si Aku dengan seorang perempuan di sebuah kamar hotel. Itu bukan pertemuan pertama mereka. Mereka pertama kali bertemu di sebuah acara beberapa minggu sebelumnya. Perempuan tersebut pernah berpura-pura meminjam korek api kepada si Aku. Salah satu taktik untuk berkenalan yang cukup ampuh ternyata, bisa di tiru nih. Si Aku dan perempuan ini mulai bercerita banyak hal dan diakhir pertemuan si perempuan ini meminta kepastian hubungan mereka, seperti apa jenisnya.

Berbicara tentang sebuah hubungan, kepastian menjadi salah satu momok yang menakutkan bagi beberapa orang. Kepastian ini pula yang kemudian menentukan akan dibawa kemana arah hubungan tersebut. ‘Mau di bawa kemana hubungan kita, jika kau terus menunda-nunda dan tak pernah nyatakan cinta.’ Daripada terus di gantung sampe kering mending cari yang baru. Ini hati bung, bukan cucian.

Tapi jangan pula menjadikan sebuah kepastian sebagai pelarian. Di bagian ke-5 Sesaat yang Kembali Gagal, penulis menceritakan pertemuan kembali si Aku dengan perempuan yang pernah dekat dengannya. Ya, tentu saja diantara mereka sempat ada rasa, tetapi lagi-lagi cinta tak pernah tepat waktu. Tiba-tiba saja perempuan ini datang dan menodong si Aku dengan sebua pertanyaan: kamu mau nggak menikah denganku?

Saya langsung bertanya, perempuan ini gila atau sinting?

Tapi mungkin aja sih. Jauh-jauh datang menemui si Aku hanya untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan ‘kamu mau nggak menikah denganku?’ Bayangkan, ada seorang perempuan dari masa lalu yang mendatangi kamu hanya untuk bertanya ‘kamu mau nggak menikah denganku’ dan mendesak jawaban dalam waktu singkat, sesingkat secangkir kopi yang disajikan. Si Aku yang berada diposisi ini tidak menjawab pertanyaan mendadak dari perempuan tersebut dan perempuan tesebut kemudian memilih untuk meninggalkan si Aku seorang diri.

Pernikahan menjadi sebuah momok yang semakin menakutkan bagi si Aku.

Bagian ke-8 yang diberi judul Hampir Mengulang Kesalahan, diceritakan bahwa si Aku bertemu kembali dengan perempuan (lainnya) yang pernah didekatinya dahulu. Saat ini si Aku ingin memberi kepastian hubungan, tapi sayang sekali, si Aku malah menemui sebuah kenyataan pahit kalau perempuan ini sudah memiliki pacar. Pada bagian ini, ada satu nasihat yang diberikan si Aku untuk siapapun diluar sana: jangan pernah memindahkan keresahan hati dengan cara pacaran lagi.

Kenapa? Lebih baik coba, rasakan dan temukan sendiri jawabannya apa.

Dari sekian banyak perempuan yang diceritakan dalam novel ini, hanya dua orang yang beruntung ‘diberi’ nama, sisanya hanya perempuan yang dibedakan dengan kenangan yang mewakili mereka. Dua wanita beruntung ini bernama Kikan –yang menjadi judul bagia ke-6, dan Kania –yang juga sama-sama beruntung diberi porsi satu bagian, tepatnya bagian ke-15.

Kania dan si Aku pertama kali berjumpa di sebuah kedai kopi rahasia yang berada di lantai dua sebuah toko buku. Kania membawakan pesanan si Aku, segelas teh susu. Kalau kalian nggak percaya sama yang namanya love at the first sight, coba tanyakan kepada si Aku, si Aku pasti akan dengan sukarela menceritakan bagaimana dalam pertemuan pertama ini si Aku sudah bisa merasakan debaran-debaran aneh ketika menatap Kania.

Kikan lebih beruntung lagi, karena akhirnya dengan Kikanlah si Aku ini menikah. Tidak jauh berbeda dengan Kania, begitu melihat Kikan si Aku sudah merasakan perasaan aneh. Mereka pertama kali bertemu dalam sebuah pameran lukis, disana ia melihat seorang perempuan dengan nanar memandang sebuah luisan perempuan. Di mata si Aku, perempuan dalam lukisan dan Kikan saling menatap. Adalah sang kurator lukisan yang juga merupakan teman si Aku yang kemudian memperkenalkan mereka. Kemudian serentetan pertemuan dihadirkan si Aku dan Kikan. Dan akhirnya mereka menikah, mereka mencoba hidup berdampingan dengan kebiasaan yang saling bertolak belakang. Tapi sayang tiba-tiba si Aku harus menghadapi kenyataan pahit, kalau cerita mengenai pernikahannya dengan Kikan hanyalah mimpi.

Kenangan adalah sesuatu yang tidak akan habis dibicarakan sampai kapanpun. Kenangan itu seperti sepasukan kecil gerilyawan yang liat, bersembunyi dibalik angin, malam dan hujan, lalu tiba-tiba saja keluar dan meremukkan seluruh batalyon tempur. Ada kalanya kenangan ini datang ketika menemukan sesuatu hal yang sama dengan apa yang kita hadapi. Kenangan ini juga seperti Tuhan yang jika didekati sejari maka Tuhan akan mendekati sehasta. Semakin kita berusaha melupakan sebuah kenangan, semakin sering kenangan ini muncul begitu saja. Ini pesan yang ingin disampaikan penulis pada bagian ke-12 yang berjudul Berkas Kenangan.

Bagian-bagian lainnya yang ada di buku ini menceritakan pergolakan batin si Aku dengan kesehariannya, terutama yang berhubungan dengan cinta dan perempuan dan tentu saja perempuan dari masalalunya yang membuat si Aku sulit untuk move on walaupun sudah berkali-kali kemudian menjalin hubungan percintaan dengan perempuan lainnya. Satu yang menarik bagi saya disini: mungkin kita berhak menemukan pengganti seseorang yang pernah mengisi relung dihati kita, tapi ada baiknya untuk menyembuhkan dulu luka yang tersisa, karena jika dipaksakan yang ada hanya akan semakin terluka, bukan hanya melukai diri sendiri, tetapi akan melukai orang lain juga. Obati dulu luka hati itu hingga sembuh, barulah kemudian mencari penggantinya. Jangan pernah mencoba mencari pengganti sebelum kamu benar-benar merasa yakin kalau kamu sudah sembuh.

Dan terakhir dari saya, seperti judul novel ini, Cinta Tak Pernah Tepat Waktu, kita tidak pernah tau kapan cinta akan datang dan mampir. Jadi, persiapkan diri kalian untuk setiap rasa yang akan hadir. Persiapkan diri kalian untuk setiap orang yang mungkin singgah dan mampir barang sejenak, karena kita benar-benar tidak tahu kapan cinta itu akan datang.

*dengan perubahan seperlunya oleh tim admin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *