#Rabuku 18 November 2015

abah bilang

Abah Bilang, Tuhan Tidak Ada

Abah Bilang, Tuhan Tidak Ada adalah buku kumpulan cerpen Mohammad Diponegoro. Bagi yang ingin mengenal lebih dekat tentang si penulis, berikut sedikit biografinya yang dikutip dari wikipedia.

Mohammad Diponegoro lahir di Yogyakarta, 28 Juni 1928 – meninggal 9 Mei 1982 pada umur 53 tahun. Ia menyelesaikan pendidikannya di HIS Muhammadiyah Yogyakarta pada tahun 1942; SMP Muhammadiyah Yogyakarta tahun 1954; dan SMA “B” Negeri Yogyakarta tahun 1950. Setelah itu, ia melanjutkan ke Fakultas Teknik Universitas Indonesia di Bandung, tetapi hanya setahun. Kemudian atas anjuran dokter, ia pindah ke Universitas Gadjah Mada, Fakultas H.E.S.P. jurusan Ekonomi.

Pada tahun 1964, ia belajar ke Nippon Bunka Gakuin tingkat Sho-kyu- ranking I dan dikirim ke Jepang selama 6 bulan; dan pada tahun 1969, kembali ke Universitas Gadjah Mada, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, jurusan Hubungan Internasional sampai tingkat III. Selain itu, ia juga mengikuti beberapa kursus, menguasai beberapa bahasa asing, seperti Inggris, Arab, Jepang, dan Belanda, serta pernah menjadi santri di Pondok Modern Gontor, Ponorogo.

Pada masa revolusi kemerdekaan, ia turut aktif dalam bidang kemiliteran. Sekitar April sampai Juni 1945 mengikuti latihan kemiliteran di Cibarusa, Jawa Barat. Selain itu, pernah menjadi opsir TRI (Tentara Rakyat Indonesia) dengan pangkat letnan dua, menjabat dalam Staf Resimen Ontowiryo (TNI Masyarakat), dan memegang pimpinan Komandan Seksi sampai tahun 1947.

Di bidang jurnalistik, ia pernah duduk dalam redaksi majalah Tunas, yang diterbitkan oleh PII (Pelajar Islam Indonesia) pada tahun 1947-1950; kemudian dalam redaksi majalah Media, yang diterbitkan oleh HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) pada tahun 1955; dan redaksi majalah Misykah, yang diterbitkan oleh H.P.S.I. (Himpunan Peminat Sastra Islam) pada tahun 1960.

Pada bulan Juni 1965, ia duduk dalam redaksi majalah Suara Muhammadiyah, yang diterbitkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah Yogyakarta. Kemudian pada tahun 1975, ia diangkat menjadi wakil pemimpin redaksi/wakil pemimpin umum majalah itu sebagai pengasuh ruang cerita pendek, sajak, rubrik opini, karikatur, dan pembaca menulis. Sebagai pengasuh rubrik “English Column”, ia menggunakan nama samaran Ben Hashem.

Di samping sebagai sastrawan dan wartawan, ia [J1] juga pelukis batik, fotografer, dan sering menjadi juri deklamasi sajak, serta juri sayembara drama televisi dan radio. Selain itu, ia pun gemar musik, bahkan menguasai beberapa alat musik, seperti piano, gitar, dan biola, serta pernah mencipta syair lagu. Syair-syair lagu ciptaannya, antara lain Mars Aisyiyah (lagu oleh M. Irsyad) dan Bidan Prajurit Islam, sebuah gubahannya untuk siswa Sekolah Bidan P.K.U. (Pusat Kesejahteraan Umum) Muhammadiyah. Namanya juga tercatat sebagai anggota B.K.K.I.I. (Badan Kongres Kebudayaan Islam Indonesia).

Cerpen-cerpen yang dihasilkannya itu tidak hanya disebarkan melalui majalah dan harian, tetapi juga disiarkan melalui radio. Sejak tahun 1969, ia membuat rekaman cerita pendek untuk disiarkan pada Radio ABC Siaran Bahasa Indonesia, Melbourne, Australia, pada setiap hari Rabu malam. Hal itu berlangsung tidak kurang dari sepuluh tahun lamanya. Karena itu, tidak mustahil jika cerpen-cerpen yang dihasilkannya mencapai jumlah seperti disebutkan di atas. Selain itu, ia juga membacakan cerpen-cerpennya dalam ruang cerita pendek di RRI Studio Nusantara II Yogyakarta, pada setiap Minggu pagi. Salah satunya buku Abah Bilang, Tuhan Tidak Ada.

Buku ini terdiri dari 11 cerita pendek, salah satu judulnya adalah judul di buku ini, Abah Bilang Tuhan Tidak Ada. Cerita Abah Bilang Tuhan Tidak Ada kita sebut saja (odah) ini mengambil sudut pandang dari aku (seorang tentara NICA). NICA adalah tentara sekutu yang bertugas mengontrol daerah Hindia Belanda setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu pada perang dunia II 14 Agustus 1945. Dalam tugasnya tentara-tentara NICA ditugaskan di berbagai pelosok daerah, cerita ini berawal dari penugasan salah satu tentaranya ke daerah Sunda. Di sana dia bertemu dengan gadis kecil berumur 12 tahun, (yang digambarkan memakai baju sehari-hari berupa kutang dan kain bernama ODAH).

Disebutkanlah, tentara NICA ini mengenal Odah dengan keluguannya, interaksi tentara & anak kecil yang saling memiliki rasa penasaran satu sama lain. Odah tinggal bersama dengan ayahnya, Suma, yang menganggap Tuhan itu tidak ada. Ibunya meninggal kerena pasukan Belanda yang menyerang desa mereka. Hal ini membuat ayahnya menjadi anti Tuhan. Sebenarnya ada ‘shock fact’ di lingkaran ceritanya.

Beberapa dialog menceritakan keluguan Odah yang mempertanyakan keberadaan Tuhan, yang dijawab oleh si tentara dengan analogi sifat Tuhan dan persamannya dengan angin. Cerita berakhir dengan perpisahan si tentara yang ditugaskan ke daerah lain hingga membuat Odah sedih. Diceritakan juga ada adegan intim antara tentara dan Odah. Hmm.

Si penulis menjawab kegundahan-kegundahan para pencari Tuhan yang mencari Tuhan sebagai subjek yang kasat mata, yang dijelaskan dengan dialog-dialog tentara-Odah, semacam The Alchemist-nya Paulo Cuelho mungkin si tentara ini. Keberadaan Tuhan dianalogikan dengan angin oleh Mohammad Diponegoro. Mungkin kalau penulisnya Pidi Biq akan ada dialog seperti ini:

Pak kenapa Tuhan tidak memperlihatkan wujudnya? | Karena kalau Tuhan memperlihatkan wujudnya, kasihan umatnya yang tunanetra”

#LOL

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *