#JumatBarokah 20 November 2015

Romantisme dalam Islam [Part 1]

Dalam pembahasan ini saya tidak menjelaskan tentang gerakan romantisme dalam kejayaan dunia Islam masa lampau yang memberikan sumbangan besar bagi zaman pencerahan (renaisans di Prancis, aufklarung di Jerman, enlightment di Inggris) di dunia eropa-barat, dan juga tidak dalam hal-hal yang barbau filsafat, walaupun dalam historisnya ia memiliki keterkaitan dengan aliran-aliran filsafat dalam dunia Islam (baca: timur tengah), namun saya akan menjelaskan mengambil sedikit bait-bait romantis dari syair-syairnya Abu Muhammad Qasim ibn Musa ibn Yamun al-Thalibi al-Akhmasi (Ibnu Yamun) yang di syarahi oleh Muhammad at-Tahami ibni al-Madani Kanuni (Abad 13 H/ 18 M) dengan nama kitab Qurratul ‘Uyun (menyejukkan mata dan menenangkan hati).

Berbicara romantis dalam Islam, tidak bisa lepas dari masalah pernikahan, dan berbicara romantisnya pernikahan tidak asyik kalau tidak membahas hubungan bercinta. asiiiiikkkk

Bahasa ‘romantis di atas ranjang’ dalam Islam namanya jima’ (bersenggama) ketika sudah halal, bernama zina ketika belum, sedangkan ahli seksolog menamainya berhubungan seksual, orang romantis mengatakannya bercinta, jadi pembahasan ini saya sebagai orang April yang Romatis (halahhhhh) akan menggunakan kata ‘bercinta’ untuk mewakili berbagai jenis bahasa tersebut. (padahal ga ada sangkut pautnya hahahaha)

Dalam pembahasan ini saya tidak berniat memberikan etika normatif tentang bercinta (lha wong aku aja belum nikah kok sudah ngajarin etika bercinta hehehe), tetapi kita sama-sama belajar -bagaimana Nabi SAW mengajarkan kita bagaiman cara-cara bercinta yang baik- demi keturunan yang baik pula dari yang kita hasikan bersama pasangan kita nantinya (pasangan halal). Tentang waktu dan tata cara bercinta, dari apa yang baik dan buruk, serta boleh dan tidak boleh dilakukan dalam pandangan agama Islam.

Pada dasarnya, menurut Islam, jika sudah halal (suami-istri) seks itu bebas (tapi yo juga terbatas to yo), (nanti kalau ga ada batasannya nikmat seks malah cuma angin jadi angin kenangan penyesalan hehehe) kapanpun ingin menyalurkan syahwat bercinta, apapun yang hendak dilakukan dan bagaimanapun mengeksplorasikan model bercinta, pada intinya semua itu dibebaskan akan tetapi demi kebaikan, kesehatan, serta keturunan, al-Qur’an dan Hadits telah mengaturnya; memberikan  peraturan-peraturan (syari’at), anjuran-anjuran dan larangan-larangannya, demi kebaikan umatnya.

Allah berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 223 yang berbunyi:

نِسَآؤُكُمۡ حَرۡثٞ لَّكُمۡ فَأۡتُواْ حَرۡثَكُمۡ أَنَّىٰ شِئۡتُمۡۖ وَقَدِّمُواْ لِأَنفُسِكُمۡۚ ……………………………………

Artinya : “Istriistrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanam itu bagaimana saja kamu kehendaki.”

Tentang waktu -kapan dianjurkan dan dilarang- bercinta, dan apa saja yang berhubungan dengannya, selain hari-hari yang akan dijelaskan di bawah, pada dasarnya, diperbolehkan untuk bercinta setiap waktu, baik pagi, siang maupun malam. Adapun bahwa bercinta di awal malam itulah yang lebih utama. Terutama pada malam jum’at, karena malam jum’at adalah malam yang paling utama dalam satu minggu. Dan juga disunnahkan pada malam senin karena ada keutamaan yang besar di dalamnya.

Sedangkan waktu-waktu yang dilarang untuk hubungan bercinta adalah larangan (haram hukumnya) melakukan berenggama dalam keadaan istri sedang haid dan nifas, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah al-Baqarah ayat 222 :

وَيَسۡ‍َٔلُونَكَ عَنِ ٱلۡمَحِيضِۖ قُلۡ هُوَ أَذٗى فَٱعۡتَزِلُواْ ٱلنِّسَآءَ فِي ٱلۡمَحِيضِ وَلَا تَقۡرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطۡهُرۡنَۖ فَإِذَا تَطَهَّرۡنَ فَأۡتُوهُنَّ مِنۡ حَيۡثُ أَمَرَكُمُ ٱللَّهُۚ إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلۡمُتَطَهِّرِينَ

Artinya : Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri

Yang dijauhi bukan istri kalian lho ya tapi farjinya (vagina). Adapun keturunan yang dihasilkan dari berhubungan ketika keadaan haid, seperti kata Nabi Sulaiman kepada seorang laki-laki yang tidak mengakui anaknya yang hitam kulitnya :“Apakah kamu menjima’ istrimu ketika ia haid? Maka sang suamipun berkata ‘benar’. maka Nabi Sulaiman As pun berkata: “Ia adalah anakmu, pastinya Allah Swt menjadikan anak itu hitam kulitnya sebagai bentuk hukuman atas kalian berdua.” Dan Hadits Nabi SAW yang artinya : Barang siapa bersetubuh dengan istrinya yang sedang haid, kemudian ditakdirkan mempunyai anak dan terjangkiti penyakit kusta, maka jangan sekali-kali mencela, kecuali mencela dirinya sendiri. Dan jelasnya, janganlah kalian menyalahkan syariat (agama) karena syariat telah memberi peringatan akan hal itu.

Sedangkan hari-hari yang perlu dihindari dalam bercinta itu ada 4 hari; pertama, pada malam Idul Adha, karena ada riwayat menceritakan bahwa anak yang terlahir dari hubungan malam ini akan mempunyai sifat pembunuh. Kedua, ketiga dan keempat pada malam di hari awal, pertengahan dan akhir setiap bulannya. Karena ada sebuah hadits Nabi mengatakan “janganlah berjima’ pada awal dan pertengahan di setiap bulan”. Hal tersebut akan mengakibatkan gila pada anak yang terlahir. Akan tetapi larangan-larangan tersebut hanya sampai batas makruh, tidak sampai berhukum haram. Wallahu A’lam

Kemudian, tentang tata cara bercinta, istri itu laksana kendaraan suami, mau model berhubungan model seperti apa, atas, samping, belakang, asalkan di satu lubang yang sama (vagina) diperbolehkan menurut agama. Sedangkan model berdiri, hukumnya makruh (dihindari dapat pahala, tidak ya tidak apa-apa). Akan tetapi sifat/model bersetubuh yang lebih utama adalah model suami di atas istri, meskipun sebagian ada juga yang mengatakan bersetubuh model belakang itu lah yang lebih utama dan nikmat rasanya. Hahahahahahaha nikah ah

Disunnahkan, ketika akan bersetubuh (tidur) seorang istri hendak memakai wewangian dan mempercantik diri untuk suaminya dan si suami hendaknya mengharumkan bau mulutnya.

Demi kesehatan, hindarilah berhubungan bercinta dalam keadaan perut sangat kenyang, lapar dan habis makan ikan dendeng kering. Karena, ketiga hal tersebut akan mudah terjangkit penyakit tulang, bahkan kematian. (bener ga bu doktel? Eh sudah left ya dia)

Ketika hendak berhubungan, suami tidak boleh memberikan uang (nyawer) kepada istri, dengan niat agar sang istri mau melepaskan celana dalamnya. Dengan istrinya sendiri saja tidak boleh, apalagi membeli pelacur guna menikamti tubuhnya.

Seperti sebuah musik, keindahan dan kenikmatan musik itu diawali dengan intro. Jadi hendaknya sebelum bercinta dianjurkan terlebih dahulu buat bercakap-cakap dengan bahasa romantis (ngegombal), bercumbu rayu, meraba, memeluk, dan mencium (tidak boleh mencium mata) dengan penuh kehangatan, dengan penuh cinta, eaaaaaaa. Hadits Nabi; “Barang siapa bercumbu rayu dengan istrinya, maka Allah tetapkan baginya dua puluh kebaikan, dan Alloh hapus darinya dua puluh kesalahan. maka apabila ia memegang tangan istrinya, maka Alloh tetapkan baginya empat puluh kebaikan, dan Allah hapus darinya empat puluh kesalahan. dan apabila ia menciumnya, maka Alloh tetapkan baginya enam puluh kebaikan, dan Allah hapus darinya enam puluh kesalahan. dan apabila ia menjima’nya, maka Alloh tetapkan baginya seratus dua puluh kebaikan, dan Allah hapus darinya seratus dua puluh kesalahan. maka apabila ia mandi besar, maka Allah berseru kepada malaikat malaikatnya: “Lihatlah hamba Ku, ia mandi besar karena takut kepada Ku serta ia meyakini bahwa Aku adalah tuhannya, maka saksikanlah oleh kalian bahwasanya Aku telah menghapus dosa dosanya, maka tidaklah air mengalir dari rambut rambutnya, melainkan Alloh tetapkan baginya kebaikan”. Hadits lain Nabi Muhmmad bersabda : “Janganlah salah seorang dari kalian menjima’ istrinya sebagai mana jima’nya binatang akan tetapi hendaklah ada antara mereka berdua perantara, Maka Sahabat berkata:”Apakah perantara itu wahai Rasulullah?’ maka Nabi Saw berkata:“Berciuman dan rayuan”.

Lakukanlah dalam keadaaan tanpa sehelai benangpun menutupi tubuh, tapi tidak seperti telanjangnya kuda, maksudnya adalah lakukan dan nikmatilah bercintamu di bawah satu selimut. Kenapa Islam menyuruh begitu, karena tidur dalam keadaan telanjang bulat mendatangkan banyak manfaat, antara lain; menjalankan perintah Nabi, menyehatkan, tubuh terasa lebih rileks, gerakan tubuh lebih bebas, menambahkan kemesraan, dan menjaga kebersihan. Hadits Nabi; ‘janganlah kalian bersenggama dalam keadaan telanjang bulat seperti telanjangnya kuda’

Tahap awal bercinta, mulailah sang suami mengangkat kakinya kemudian naik ke atas tubuh istri, dan hendaknya posisi kepala istri lebih rendah dari pada pantatnya (diangkat/diganjal bantal). Menurut ahli fiqih dan kedokteran (dokter mana ya ini) cara atau posisi seperti inilah yang paling nikmat dalam bersenggama.

Menurut Ibnu Yamun: “disarankan kepada suami ketika akan memasukkan penisnya ke dalam vagina istrinya, hendaknya suami memegang penisnya dengan tangan kirinya sambil mengusap-usap kepala zakarnya di atas bibir vagina sang istri. Kemudian zakarnya baru dimasukkan ke dalam vagina. Dan ketika suami hendak akan ejakulasi, ada baiknya suami mengangkat pantat istrinya lebih ke atas serta membaca firman Allah sebagai berikut “ALHAMDULILLAHILLADZI KHOLAQO MINAL MAAI BASYARON FAJAALAHU NASABAN WA SIHRON WAKAANA ROBBUKA QODIIRON”. Artinya “Segala puji bagi Allah yg telah menjadikan dari air mani manusia, maka ia menjadikan manusia itu beranak pinak, dan adalah Tuhanmu itu maha kuasa.“ Dengan begitu, sesungguhnya suami-istri akan merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa nikmatnya yang tak bisa digambarkan oleh siapapun. Sebagai catatan, sebelum berejakulasi, janganlah suami mencabut penisnya dari vagina istrinya (yang masih perawan).

Jika suami lebih dulu mengeluarkan mani dari pada istrinya, dianjurkan suami tidak mencabut penisnya dari vagina istrinya, sampai istrinya mengeluarkan maninya. Begitu sebaliknya, jika istri mengeluarkan lebih dulu dari pada suaminya, hendaknya si suami cepat-cepat mencabut penisnya, karena jika tidak, sang istri akan merasakan kesakitan. Diantara tanda-tanda keluarnya mani seorang perempuan adalah; keningnya berkeringat, pelukannya makin kuat, lemas persendiannya, dan malu-malu memandang laki-lakinya, dan kadang-kadang gemeteran.

Sebagai catatan, ketika hendak bercinta, bacalah bismillah dan berdoa seperti yang ada dalam kitab Hadits Shahih Bukhari: “BISMILLAHI ALLOHUMMA JANNIBNASSAYTOONA WAJANNIBISSAYTOONA MAA ROZAQTANA”. Artinya “Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah setan dari kami, dan jauhkanlah setan dari sesuatu yg telah engkau rizqikan kepada kami”. Sedangkan Imam Ghazali dalam kitabnya yang fenomenal Ihya’ Ulumuddin, beliau berkata “Disunahkan bagi yg hendak seggama, hendaklah ia memulai dengan membaca basmalah, kemudian membaca surat Al Ikhlas dengan tidak membaca takbir dan tahlil, kemudian ia membaca doa: BISMILLAHIL ‘ALIYIL ADZIMI. ALLOHUMMA’JALHAA ZURRIYYATAN TOYYIBATAN IN KUNTA QODDARTA AN TAKHRUJA DZAALIKA MIN SULBI. Artinya “Dengan menyebut nama Allah yg Maha Besar lagi agung. Ya Allah, jadikanlah istriku ini penyebab adanya turunanku yg baik, apabila engkau memastikan turunan itu keluar dari tulang rusukku”.

Banyak ulama’ berpendapat, ketika melakukan hubungan bercinta tidak diawali dengan menyebut Nama Allah, maka setan akan duduk di atas zakar (penis) suami, kemudian ketika zakar suami mengeluarkan mani ke dalam farji (vagina) istri, setan juga akan mengeluarkan maninya masuk ke dalam farjinya (vagina) sang istri. Wallahu A’lam

Demikian penjelasan dari saya yang jauh dari kata sempurna ini, tentang etika bersenggama dalam kitab Qurratul ‘uyun. Untuk lebih menyempurnakan, dan menambah keilmuan keislaman kalian, bacalah bukunya, kalian akan mengerti kalau Islam itu inklusif tidak eksklusif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *