#Rabuku 25 November 2015

Rindu

Kawan-kawan tahu dong siapa itu Darwis Tere Liye? Ya, Tere Liye merupakan nama pena seorang penulis berbakat di Tanah air. Darwis Tere Liye lahir dan tumbuh dewasa di pendalaman Sumatera. Tere Liye sendiri diambil dari bahasa India yang artinya Untukmu. Tere Liye lahir pada tanggal 21 Mei 1979. Tere Liye menikah dengan Ny. Riski Amelia dan di karunia seorang anak putra bernama Abdullah Pasai. Tere Liye berasal dari keluarga sederhana yang orang tuanya berprofesi sebagai petani biasa. Anak ke enam dari tujuh bersaudara ini sampai saat ini telah menghasilkan 20 karya. Semua karya-karyanya memiliki ciri khas dan cita rasa yang berbeda.

Rabuku kali ini membahas salah satu karyanya, novel Rindu. Rindu merupakan buku ke-20 karya Tere Liye. Novel rindu adalah karya yang tak pernah terbayangkan. Tidak habis pikir, lagi-lagi Tere Liye menyuguhkan tema yang tidak biasa.

Novel rindu ini begitu sederhana dan tidak muluk-muluk, tapi keren. Buku setebal 544 halaman ini bercerita tentang perjalanan panjang jamaah haji Indonesia tahun 1938, perjalanan kapan Blitar Holland selama berbulan-bulan (mulai dari Momakassar-Surabaya-Semarang-Batavia(Jakarta)-Lampung-Bengkulu-Padang-dan Aceh. Kemudian singgah di Kolombo(Sri Lanka)-Jeddah-dan Rotterdam). Tentang sejarah nusantara. Dan tentang pertanyaan-pertanyaan seputar masa lalu, kebencian, takdir, cinta, dan kemunafikan.

Yang spesial dari novel Rindu adalah bisa menciptakan ruang imajinasi dan bisa jadi pembaca akan sempat tertipu mengikuti alur cerita novel Rindu ini. Mungkin saat membaca buku Rindu terlalu buru-buru ingin cepat kelar dan mengambil kesimpulan begitu saja.

Novel Rindu tidak hanya bercerita tentang perjalanan panjang ke Tanah Suci saja. Dengan beragam konflik, tragedi, dan serangkai peristiwa yg menyertainya. Novel Rindu semakin berbobot dengan cuplikan sejarah di beberapa daerah yg dijadikan setting dan nama-nama tokoh antara lain yaitu Mangoenkoesoemo dan Soerjaningrat. Mereka adalah Anggota tiga serangkai. Pernahkah kawan-kawan mendengar istilah tiga serangkai? Lebih tepatnya Tiga serangkai adalah tiga tokoh yg mendirikan Indische Partji, yaitu; Dr. Cipto Mangunkusumo, Dauwess Dekker, dan Ki Hajar Dewantoro. Indische Partji merupakan organisasi yg populer karena mempunyai tujuan untuk memerdekakan Indonesia. Jadi, tiga serangkai adalah orang yg hebat.

Tere Liye ini menulis 5 kisah yg akan terpecahkan disaat perjalanan haji. Nah, disetiap cerita yg Tere Liye suguhkan ada cerita sejarahnya. Dalam novel ini salah satu tokoh yg memiliki masa lalu yg begitu kelam. Masa lalu yg sama sekali tak ingin dia ingat, yg kalau bisa rasanya ingin dia hapuskan dari memori otaknya. Ia dulu pernah menjadi seorg pelacur(cabo). Dia merasa hina dan kotor karena profesinya yg dulu. Hingga akhirnya ia merasa perlu untuk melarikan diri dari segalanya, dari kehidupannya yg dulu. Itu adalah masa lalu Bunda Upe yang dulunya namanya Ling Ling.

Dalam kisah kedua, seseorang tokoh bernama Daeng Andipati, memiliki rasa benci yg telah bertahun-tahun ia rasakan dan ia simpan pada Ayahnya sendiri. Karena perlakuan kejam sang ayah terhadap dirinya dan seluruh keluarganya, tak terkecuali terhadap ibunya.

Berlanjut ke kisah ketiga, cinta yg pergi dan cinta tak bisa memiliki. Cinta, satu kata dengan sejutaa kisah didalamnya. Apakah berlebihan? Saya rasa tidak. Karena seperti itu adanya. Dan kisah cinta yg diwakili oleh dua orang tokoh dalam novel ini.

Kisah pertama tentang cinta ini adalah kisah seorang kakek tua yg akrab dipanggil mbah kakung. Dalam perjalanan menuju tanah suci, Mbah kakunh kehilangan cinta sejatinya, yakni sang istri, mbah Putri. Sedangkan perjalanan haji adalah perjalanan yg amat mereka nanti-nantikan. Ini adalah pembuktian cinta mereka berdua yg telah berjuang bersama umtuk mengumpulkan keping demi keping uang selama bertahun-tahun untuk bisa naik haji, karena mereka bukun berasal dari keluarga yg berada. Mimpi mbah kakung kandas seketika setelah ditinggalkan oleh Mbah Putri.

Kisah cinta kedua adalah kisah tentang cinta yg tak bisa dimiliki. Seorang pelaut bernama Ambo Uleng telah jatuh cinta dengan seseorg anak gadis dari keluarga kaya dan terpandang. Dan cintanya ditolak mentah-mentah oleh keluarga sang gadis hanya karena ia bukan anak bangsawan. Padahal sang gadis diam-diam menyukai dirinya. Kenyataan pahit ini membuat Ambo Uleng memutuskan untuk pergi sejauh mungkin dari kota tempat tinggalnya, dan bergabung dalam rombongan kapal penumpang haji dgn mendaftar menjadi seorang kelasi.

Jadi kedua kisah cinta diatas adalah kisah ketiga dan keempat dari buku Rindu.

Kisah kelima adalah kemunafikan. Ini adalah kisah kelima, kisah dari seorg laki-laki paling bijak diantara seluruh anggota di atas. Laki-laki yg selalu dimintai nasehat dan pendapatnya ttg segala permasalhan. Kisah ini datang dari Gurutta, sang ulama mahsyur. Mungkin bagi beberapa orang, peperangan dan pertumpahn darah adalah sesuatu yg sngt amat tidak baik. Karena peperangan, kita bisa kehilangan orh2 yg kita sayangi, kita bisa kehilangan segalanya. Oleh karena itu org2 memilih jln yg lebih bqik, salah satu contohnya adlh yg dilakukan Gurutta, ia memilih untuk menulis. Gurutta menginginkan negeri ini merdeka dari penjajahan. Gurutta takut untuk ikut peperangan dan selalu mnghindr dari medan perang. Gurutta memilih melawan dgn cara yg lembut, melalui tulisan-tulisan dan ceramah-ceramah agamanya.

Lima kisah di atas adalah cerita sepanjang perjalanan haji. Setiap kisah memiliki pertanyaan sendiri. Dan Gurutta lah yang memecahkan semua masalah tersebut (kecuali kisah kelima).

Bagaimana? Penasaran dengan kelanjutannya? Selamat membaca!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *