#SelaSastra 8 Desember 2015

Gaya Bahasa [1]

Untuk sesi #SelaSastra kali ini, saya akan coba membahas sedikit mengenai ‘Gaya Bahasa’.

Ayo di sini siapa saja yang suka menulis? Kalau yang pengen jadi penulis? Mau nulis apa?

Secara sederhana, karya tulis bisa dibagi menjadi dua yaitu: fiksi dan non fiksi.

Fiksi merupakan sebuah prosa naratif yang bersifat imajiner, meskipu begitu sebuah karya fiksi harus masuk akal. Contohnya: cerpen, novel, prosa, puisi, drama, lirik dll

Sedangkan non-fiksi merupakan tulisan yang bersifat factual, hal-hal yang terkandung didalamnya nyata dan benar terjadi, bukan hasil imajinasi atau rekaan penulisnya. Contoh: berita, kritik, essai, tulisan ilmiah, skripsi, thesis dll.

Tidak semua penulis pada awalnya mampu menghasilkan sebuah tulisan yang ‘menggoda’ untuk dibaca. Untuk itu perlu diingat bahwa kalimat pertama di paragraph pembuka harus mampu menggoda pembaca untuk terus melanjutkan membaca hingga selesai.

Agar dapat menulis kalimat atau paragraph yang menggoda penulis hendaknya mampu memilih kata-kata yang tepat, kosa katanya harus luas, harus mampu menggunakan kamus yang ada, dan yang paling penting harus mampu menyampaikan ide atau gagasan yang ingin disampaikan kepada pembaca. Gaya bahasa juga mempengaruhi apakah seorang pembaca akan melanjutkan membaca sampai tuntas atau berhenti pada halaman pertama.

Gaya bahasa setiap orang tidaklah sama. Gaya bahasa bisa dipelajari tetapi tidak bisa diambilalih. Seorang penulis bisa menemukan gaya bahasa pada saat pertama kali menulis, bisa juga setelah melalui serangkaian proses panjang dengan jam terbang yang juga tidak sedikit.

Lalu sebenarnya gaya bahasa itu apa?

Menurut Gorys Keraf gaya bahasa atau style ini adalah sebuah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakaian bahasa).

Gaya bahasa ini tidak hanya melulu mengenai diksi atau pemilihan kata, tetapi didalamnya terkandung juga cocok atau tidaknya penggunaan kata-kata tersebut, pilihan frasa, klausa , kalimat dan kesinambungan paragraph secara keseluruhan.

Sebuah gaya bahasa yang baik setidaknya harus mengandung tiga unsur yaitu:

Kejujuran

Kejujuran dalam bahasa berarti seorang penulis mengikuti aturan-aturan, kaidah-kaidah yang baik dan benar dalam berbahasa. Pemilihan dan penggunaan kata-kata yang kabur dan tidak terarah, penggunaan kalimat yang berbelit-belit bisa mengundang ketidakjujuran dalam menulis. Penulis tidak menyampaikan pikirannya secara terus terang, seolah menyembunyikan apa yang sesungguhnya ingin disampaikan melalui kata-kata dan kalimat berbelit. Banyak penulis yang memilih menggunakan kata yang ‘sophisticated’ dan kalimat berbelit hanya untuk terlihat lebih intelek dan hebat. Padahal bisa jadi ini sebuah jebakan.

Sopan-santun

Sopan santun yang dimaksud disini adalah memberi penghargaan atau menghormati orang yang membaca melalui penggunaan kata-kata yang jelas dan singkat. Menulis dengan jelas ini berarti tidak membuat pembaca memeras keringat atau otak untuk mencari tahu apa yang ditulis penulis, pembaca tidak perlu membuang waktu untuk membaca sesuatu yang panjang lebar yang sebenarnya dapat disampaikan dalam beberapa kalimat saja. Singkat berarti menggunakan kata-kata secara efisien, mengurangi dan menghindari tautology (pengulangan gagasan, pernyataan, atau kata yang tidak diperlukan).

Menarik

Kejujuran, kejelasan serta kesingkatan merupakan langkah dasar dan langkah awal. Apabila gaya bahasa hanya mengandalkan hal itu saja, maka sebuah tulisan masih terasa hambar atau tawar. Untuk itu gaya bahasa harus menarik. Menarik atau tidaknya gaya bahasa seorang penulis dapat diukur melalui beberapa hal, yaitu: variasi, humor, pengertian, dan imajinasi.

Demikian sedikit penjelasan mengenai ‘Gaya Bahasa’ untuk #SelaSastra malam ini. Nantikan penjelasan lebih lanjut mengenai ‘Gaya Bahasa’ di #SelaSastra minggu depan. Lebih dan kurang saya mohon maaf.

Ayo teman-teman yang ingin bertanya atau berpendapat, dipersilakan.

[Momo]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *