#Rabuku 16 Desember 2015

30 Pasport di Kelas Sang Profesor

Buku ini mengisahkan tentang Rhenald Kasali, salah satu dosen di Universitas Indonesia. Beliau mengampu mata kuliah pemasaran internasional. Pada suatu kali, Rhenald memberikan tugas pada mahasiswanya untuk pergi ke luar negeri seorang diri. Tapi, ada syaratnya nih. Satu negara hanya untuk satu mahasiswa dan tidak boleh mengunjungi negara yang menggunakan bahasa Melayu, contohnya Malaysia. Nah, kebayang dong gimana hebohnya para mahasiswa?

Awalnya sebagian mahasiswa risau, gimana nggak risau? Satu negara buat satu mahasiswa, nggak mengenal siapapun di negara orang. Belum lagi jika berurusan sama masalah komunikasi dan kerisauan lainnya. Hmm..

Jeng jeng..

Kira-kira bagaimana nih mahasiswa jadi pada berangkat nggak ya?

Dengan tekad dan keberanian mereka dan tentunya dukungan dari keluarga akhirnya mereka sampailah ke negara tujuan masing-masing. Banyak sekali kejadian yg bikin baper, bikin nangis, bikin ketawa. Pokoknya campur aduk!

Oya kira kira apasih alasan Rhenald kok ‘setega’ itu melepas para mahasiswanya?

Salah satunya adalah ‘self driving’. Rhenald mengajak mahasiswa menggunakan paspor mereka masing-masing adalah ibarat melepas jahitan yang ada di sayap mereka dan melatih terbang kembali menjelajahi alam semesta menjadi rajawali. Juga menjadi great driver yang pandai mengendarai kendaraan pemberian Tuhan. Memindahkan ilmu bukan dari buku ke kertas melainkan seluruh tubuh dan karakter manusia agar kelak memiliki kualitas yang lebih hebat dr guru-gurunya sendiri. Anak-anak muda yg pertama kali ke luar negeri, sendiri pula, akan berhadapan dengan banyak ketidakpastian, kegundahan, ketidakberdayaan, dan segala keterbatasan.

Dan melalui latihan self driving yg dijahit ke dalam mata kuliah, manusia belajar membentuk diri dengan self-talk, self-confidence, self-discipline, self-creativity.

Terus sebenernya mereka pada ngapain aja sih di luar negeri ? Tidur di hotel enak kah? Jalan jalan tanpa beban atau ngapain?

Yang jelas kisah mereka membuat si pembaca baper. Bukan bawa perasaan lho ya, tapi bawa perubahan. Hehehe. Dan mahasiswa yg pergi itu, bukan mereka yang fasih berbahasa Inggris, bukan mereka yg punya duit banyak, namun mereka yang mau belajar hidup yg sesungguhnya.

Meskipun banyak kejadian tak terduga yg mereka alami.

Apakah para mahasiswa kapok utk keluar negeri sendirian?

Jawabannya adalah tidak. Mereka justru ketagihan.

Pesan yang paling diingat dalam buku tersebut adalah:

‘yang kita butuhkan yaitu menghadapi warna warni situasi di dunia nyata. Yang kadang tidak dijelaskan dalam buku-buku teks. Siapa pun bisa melakukan tanpa kecuali. Siapapun bisa!’

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *