#Rabuku 23 Desember 2015

Yang Sulit Dimengerti Adalah Perempuan

Penulis: Fitrawan Umar

Buku ini bisa jadi masih terlihat asing bagi khalayak publik. Yup. Karena penerbitnya (sepertinya) baru dan memang buku baru juga. Dan karenanya, ekspektasi terhadap buku ini tidaklah amat tinggi. Banyak yang tidak (baca: belum) mengenal sosok penulisnya, Fitrawan Umar alias belum pernah membaca karyanya. Penerbitnya adalah penerbit baru. Namun berkat melihat peran  editornya, membuat yakin bahwa buku ini bukan produk asal jadi.

Secara garis besar, Yang Sulit Dimengerti adalah Perempuan (YSDAP) bercerita mengenai Renja, mahasiswa jurusan teknik yang jatuh cinta (kembali) dengan teman masa kecilnya, Adel. Romansa mereka dibumbui dengan kehadiran Rustang sebagai karib Renja, munculnya “orang ketiga”, hingga ke konflik politik (khususnya Kospin) yang belum selesai. Hal-hal tersebut berkaitan dan mendukung satu sama lain; membuat novel setebal 245 halaman ini menjadi menarik dan “mudah” dihabiskan.

YSDAP bukanlah novel yang berat meski terdapat bumbu-bumbu politik di dalamnya. Dengan gaya menulis yang sederhana namun kadang menggelitik, Fitrawan Umar berhasil membuat sulit berpaling dari buku. Alhasil, buku tersebut mampu habis dalam waktu kurang dari sehari.

Kesederhanaan, rasa pas; itulah salah satu poin plus utama YSDAP. Hampir tidak ada adegan dalam buku yang membuat kening berkerut dan bertanya-tanya apakah di dunia nyata hal tersebut bisa terjadi. Tidak ada yang berlebihan–apa yang menjadikan novel ini likeable–sehingga membuat sedikit sulit menemukan poin minusnya.

Selain itu, rapi. Penulis maupun editor bekerja (sama) dengan sangat baik. Nyaris tidak ada typo dan kalimat sumbang. Jarang-jarang menemukan tulisan yang rapi begini, bahkan pada pengarang yang sudah lebih dulu punya nama.

Buku ini sarat nuansa politik atau ekonomi. Soal korupsi koperasi simpan pinjam yang benar terjadi pada saat itu, di daerah Pinrang, Sulawesi Selatan. Ada juga politik kampus; dari BEM sampai masalah OSPEK mahasiswa teknik yang terbilang kejam itu. Selain itu tentang kasus bank century juga sedikit diangkat. Oiya, ada bocoran dari editornya jika novel ini berdasarkan kisah nyata si penulis.

Salah satu hal yang menggelitik dalam buku ini adalah kisah Renja sebagai Si Aku ini menyampaikan pemikiran dan perasaannya soal hal-hal, khususnya perempuan yang dicintainya, Adel. Diceritakan juga tokoh Rustang dan ciri khasnya dalam memanggil temannya. Tokoh Rustang benar-benar menghibur dan mengimbangi tokoh utama yang lebih datar.

Ada juga kisah lainnya yaitu mengenai adegan yang berkesan dalam novel–yang manis atau sangat mengejutkan maksudnya–yang ditunggu-tunggu di novel semacam ini. Ada yang bilang bahwa menggunakan sudut pandang orang pertama dalam cerita memiliki tujuan tertentu, yakni agar pembaca bisa ikut merasakan pemikiran dan perasaan Si Aku. Dalam hal tersebut, penulis berhasil. Karakter Renja sebagai aku ditulis dengan baik sehingga pembaca bisa masuk ke dalamnya. Tapi sayang, Renja adalah tipe orang yang cenderung monoton.

Layout dan desain sampul buku ini (good job, Penerbit Exchange) ciamik sekali. Dan oh, pemilihan judulnya juga. Beberapa orang tertarik dengan YSDAP bahkan hanya dengan membaca judulnya saja. Right?

Berikut beberapa memorable quotes dalam YSDAP:

“Inti dari pertanyaanku sebetulnya adalah kenapa ia mau masuk Fakultas Teknik, tetapi kata-kata yang paling cepat sampai ke pikirannya adalah perempuan cantik. Entahlah, mungkin perempuan selalu suka dipuji, walaupun mereka sering kali menuding laki-laki sebagai penggombal sebagai tanggapan atas pujian itu.”

“Semua perempuan,” potong Adel yang telah berdiri di samping Rustang, “suka dengan laki-laki yang berjuang.”

Lagi pula, lelaki berambut gondrong punya beban dan pandangan yang cukup berat. Lelaki rambut gondrong pantang pakai payung, pantang minum susu, pantang nonton sinetron, dan lain-lain.

YSDAP melampaui ekspektasi awam. Salut dengan kerapian pengarang dalam menulis dan ketelitian editor memeriksainya. Kalau mau baca buku yang lumayan manis dan ngga bikin kepala puyeng, ini recommended banget. Buku ini cukup potensial disukai kok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *