#Rabuku 30 Desember 2015

bule rawa

Bule rawa-rawa adalah sebuah novel fiksi karya Lonyenk Rap, pria kelahiran Mempawah, Kalbar. Sedikit info tentang penulis, Loyenk menyukai dunia baca dan menulis sejak berusia enam tahun. Ia tercatat bergabung di komunitas Cendol (cerita nulis diskusi on line).

Novel ini menceritakan kisah keseharian Abdul James Dean. Seorang anak kampung dengan tampang pas-pasan dan putus sekolah. Abdul James Dean mendapat sebutan bule bukan karena rambutnya berwarna pirang atau matanya berwarna biru khas aktor Hollywood, tapi gara-gara bapaknya penggemar aktor James Dean. Panggilan “bule” itu sekaligus merupakan ejekan berkat namanya yang bertolak belakang dengan paras anak kampung sepertinya. Kebiasaannya berendam seharian di rawa-rawa bakau sukses menambah gelarnya menjadi “Bule Rawa-Rawa”.

Berawal dari keputusan James yang tidak mau melanjutkan sekolah ke jenjang SMA yang membuat dirinya terdampar di lapak buah milik bapaknya. Bayangan berendam di rawa-rawa sambil sesekali berburu biawak pupus sudah, kini tugas berat menanti James; mengangkut berkranjang-kranjang buah dari kampung sebelah ke lapak bapaknya yang ada di pasar Mempawah. Bukan tanpa alasan si James tidak mau melanjutkan sekolah, bagi James buat apa sekolah tinggi-tinggi mengejar gelar kalau ujung-ujungnya cari kerja pun susah.

Novel setebal 144 halaman ini terkesan ringan tapi juga ada unsur sarkas di dalamnya. Lonyenk Rap sebagai penulis mampu menjembatani antara tokoh rekaannya dengan pembaca dengan bahasa yang sederhana tapi bermakna.

Sebanding lurus dengan kisah hidupnya–yang sering sial–perjalanan cinta James pun tak jauh berbeda. Pertemuannya (kembali) dengan Maryati alias Mery si kembang kampung yang cantik tapi norak membuat James jatuh hati. Namun apa daya, cintanya bertepuk sebelah tangan. Maryati alias Mery menolak mentah-mentah untuk dipersunting menjadi ratu di hati James, bahkan si Maryati juga menghina James yang membuat si bule rawa-rawa itu sakit hati.

Cinta di tolak dukun bertindak. Atas saran Kaloi, sahabat seper-rawa-nan James, si James pun mendatangi dukun multitalenta di kampungnya. Apa daya, niat hati ingin membalas dendam kepada Maryati tapi lagi-lagi nasib sial menghampiri James. Bukan Maryati yang didapat melainkan Julai, pendamping setia Maryati yang justru mengejar-ngejar James selain pocong janda.

Setelah hampir putus asa mengejar Maryati, James bertemu dengan bang Romi. Pertemuan itu mengubah hidup James. Ada pesan penting yang disampaikan bang Romi kepada James. “Bahwa untuk menjadi keren ada modal terpenting yang bukan hanya sekedar tampang ataupun uang. Modal yang bahkan bisa membuat cewek kelepek-kelepek. Si James pun mengikuti pesan bang Romi, melanjutkan sekolah di Pontianak. Setelah mengetahui si James melanjutkan sekolah. Maryati alias Mery akhirnya mau menerima cinta si James.

Setting novel ini mengambil daerah Mempawah. Walaupun cuma sedikit, hal-hal berkait lokalitas di dalam buku ini sempat disinggung, yakni tentang kurangnya perhatian pemerintah terhadap potensi tempat wisata di Mempawah, salah satunya rawa-rawa yang sering untuk berendam James.

Novel ini sempat beberapa kali ditemui unsur sarkasnya. Hal tersebut dapat ditemukan salah satunya pada bagian awal novel, yakni saat konflik antara si James dan emaknya yang memperdebatkan tentang sekolah. Dengan dalih “buat apa sekolah tinggi-tinggi mengejar gelar kalau ujung-ujungnya cari kerja pun susah” di sini Lonyenk Rap menyentil pemerintahan yang kurang mampu menyediakan lapangan pekerjaan.

Bagian yang menarik dalam buku ini adalah saat si James datang ke Wak Kadol minta mantra untuk melet si Maryati. Disini si Wak Kadol justru memarahi si James kalau main pelet itu tidak benar tapi karena himpitan ekonomi Wak Kadol pun akhirnya setuju membantu si James.

Novel ini cukup menghibur. Lonyenk Rap berhasil membuat pembaca mesem-mesem sendiri dengan karakter James yang sederhana dan lugu. Gaya tuturnya mengalir dan ringan membuat pembaca turut larut dalam arus ceritanya yang gokil. Pesan yang disampaikan pun tersampaikan dengan baik kepada pembaca tentang pentingnya edukasi juga kemauan seseorang untuk berubah ke arah yang lebih baik. Kekurangan dalam novel ini adalah Lonyenk Rap kurang banyak mengangkat lokalitas di Mempawah.

Terakhir, hikmah yang didapat dari buku ini, mau sebandel apapun kita, orang tua tetaplah harus kita patuhi. Satu lagi, bahwa berpenampilan keren tidak menjamin kita mudah mendapatkan pacar kalau tidak diimbangi dengan ilmu pengetahuan. Sekian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *