#Rabuku 13 Januari 2016

Kitab Omong Kosong

Seno Gumira Ajidarma

Cerita berawal dari serbuan bala tentara Ayodya yang di pimpin Sri Rama yang di panglimai adiknya Laksmana, dengan nama “Persembahan Kuda” di mana Sri Rama melepaskan kuda putih dan setiap negara yang di lewatinya harus tunduk dan patuh terhadap Sri Rama. Ada yang langsung menyerah tapi juga ada yang bela negaranya dan konsekuensinya harus berperang dengan pasukan kuda yang di pimpin Laksmana yang sudah sangat masyhur namanya dalam dunia perang. Dengan prajurit kurang lebih dua ratus ribu penunggang kuda di tambah dari sekutunya Alengka dan prajurit wanara dari Goa Kiskenda, siapa yang mampu mengalahkan? Semua yang telah melawan pasti akan kalah, kota mereka akan hancur dan di bantai habis.

Tapi siapa sangka pasukan hebat itu akhirnya menyerah oleh dua anak remaja Lawa dan Kusa. Siapa sebenarnya mereka yang mampu mengalahkan kedahsyatan pasukan Sri Rama, bahkan Laksmana yang sudah menundukan raja-raja di negara anak benua bisa di permalukan?

Meski sebelumnya Lawa dan Kusa sudah bertarung selama hampir satu minggu dengan pasukan Ayodya di tambah pasukan Wanara yang di pimpin langsung Hanggada Wanara sakti yang hanya kalah oleh Sang Hanuman pun mampu di kalahkan oleh Lawa dan Kusa.

Akhirnya Laksmana mengirim pesan ke Sri Rama di Ayodya bahwa dirinya dan pasukannya kalah oleh Lawa dan Kusa. Lalu Sri Rama mengirim pesan ke Hanuman agar turun dari pertapaanya dan melawan Lawa dan Kusa. Tapi Hanuman menolak dan kembali bertapa. Kenapa? Karena dulu Sri Rama menyuruh kembali ke pertapaanya kala dia mengingatkan Sri Rama saat rakyat Ayodya mengusir Sinta karena mempertanyakan kesucian Sinta selama di culik Rahwana, meski sudah di buktikan dua kali. Pertama dengan cincin, jika masuk ke jari Sinta maka masih suci. Ternyata masuk berarti Sinta “masih suci”. Kedua dengan upacara “Sinta Obong’ di mana Sinta di bakar jika terbakar maka sudah tak suci lagi, tapi Sinta tetap utuh dan memang Sinta adalah wanita yang masih suci.

Lalu siapakah Lawa dan Kusa? Well, masih ingatkan tentang pengusiran rakyat Ayodya terhadap Sinta karena mempertanyakan kesuciannya?

Akhirnya Sinta pergi dari Ayodya dan terjebak di hutan tanpa arah tujuan, waktu itu Sinta dalam keadaan mengandung anak Sri Rama, setelah berbulan bulan di dalam hutan akhirnya Sinta di temukan oleh pertapa yang bernama Walmiki yang juga seorang penulis cerita. Bersamanyalah Sinta akhirnya hidup di hutan sampai akhirnya melahirkan putra kembar yang diberi nama Lawa dan Kusa. Jadi Lawa dan Kusa adalah anak kandung dari Sri Rama.

Lawa dan Kusa adalah anak yang jenius. Dengan bantuan Sinta dan Walmiki, mereka mampu menguasai berbagai macam ilmu, dari kanuragan, seni dan alam. Pada akhirnya merekalah yang berhasil mengakhiri “Persembahan Kuda” yang di lakukan Sri Rama, Ayah mereka sendiri.

Setelah Persembahan Kuda selesai, negara anak benua seperti tanpa peradaban, kota-kota hancur, kerajaan tiada pemerintahan, banyak gelandangan, barisan pengungsi pasti di temui di tiap jalan, saling berebut kekuasaan dan saling bunuh adalah hal yang lumrah saat itu.

Satya adalah pemuda berumur 16 tahun yang ikut menjadi korban Persembahan Kuda, seluruh keluarganya hancur dan desanya porak poranda rata dengan tanah. Pada akhirnya dia menjadi seorang pengembara tanpa tujuan. Dan, siapa sangka takdir akan membawanya ke suatu perjalanan yang luar biasa tanpa ia duga sebelumnya hingga akhirnya perjumpannya dengan Maneka menjadi sebuah petualangan yang mengubah kehidupan umat manusia.

Lalu siapa Maneka?

Maneka adalah wanita budak belian (maaf, pelacur), dari kecil dia hidup di rumah bordil. Ayahnya yang menjual Maneka sewaktu masih kecil ke rumah bordil tersebut hingga kini menjadi dewasa berumur 20 tahun.

Sebuah takdir membawa mereka ke suatu petualangan yang luar biasa. Jadi, pada suatu malam Maneka bermimpi didatangi kuda putih yang melompat dari jendela dan langsung masuk kedalam tubuhnya lalu menempel di punggung Maneka yang juga ada rajah kudanya. Tapi anehnya, seisi kota di buat gempar dengan datangnya kuda putih dari padang rumput kemudian masuk ke kamar Maneka lewat jendela. Saat Maneka terbangun teman-temannya penghuni rumah bordil tersebut sudah berada di kamar Maneka dan menanyakan tentang kuda putih tersebut. Maneka bingung karena itu hanyalah mimpi tapi juga menjadi kenyataan. Lalu temannya yang bernama Sarita melihat punggung Maneka, benar adanya kalau di punggung nya memang ada rajah “Kuda Putih” tersebut.

Setelah kejadian itu hidup Maneka menjadi hancur, di mana setiap orang pria dan wanita ingin tidur dengannya, setiap hari antrian panjang selalu ada hanya ingin tidur dengan Maneka, bahkan pernah dalam satu malam Maneka harus melayani seribu orang. Gila!

Akhirnya Maneka memutuskan untuk lari dari rumah bordil tersebut, dibantu Sarita dan seorang pengelana mereka berusaha kabur dari kota. Tapi naas di saat mereka sudah bisa keluar dari pintu gerbang kota para penjaga mengetahui kalau mereka adalah pelacur yang lari dari rumah bordil, kalau sampai tertangkap mati adalah hukuman yang mereka dapat.

Akhirnya Maneka bisa melarikan diri, tapi Sarita bunuh diri demi melindungi Maneka, teman sejatinya. Persahabatan yang luar biasa. Lalu bagaimana nasib sang pengelana? Ia juga tewas terpanah saat berenang di sungai bersama Maneka.

Maneka yang tidak bisa berenang akhirnya minta tolong keseorang pemuda yang sedang menggembala kambing di pinggiran sungai. Dengan cekatan ia berenang dan mampu menyelamatkan Maneka.

“Siapa namamu anak muda?”

“Satya, kamu?”

“Maneka.”

Dan petualangan yang tanpa mereka duga pun dimulai. Takdir menentukan mereka akan menjadi bagian penting sejarah baru di anak benua. Maneka lalu bercerita tentang dirinya dan alasan mengapa kabur dari rumah bordil. Selain karena sudah tidak kuat dengan apa yang terjadi di sana, dia ingin mencari Walmiki!

Lalu apa hubungan Maneka dengan Walmiki sang pertapa juga penulis cerita, hingga Maneka ingin mencari meski belum pernah sekalipun seperti apa sosok Walmiki?

Satya yang jatuh cinta pada pandangan pertama kepada Maneka bersedia menemaninya mencari Walmiki. Tanpa arah tanpa tujuan. Meski hanya menggunakan pedati yang di tarik sapi benggala. Tapi itu bukan sembarang sapi.

Lalu apa mereka berhasil menemukan Walmiki sang penulis cerita?

Begitu banyak kejadian yang menimpa pada mereka dalam pengembaraanya mencari Walmiki. Merekapun bertemu dengan sang Hanuman wanara sakti dan suci dari Gua Kiskenda. Dan tanpa sengaja mereka mendapatkan sebuah peta yang entah Satya dan Maneka tidak pernah tahu dimana tempat yang berada di peta tersebut. Sampai ada yang bercerita bahwa peta tersebut adalah tempat dimana sebuah kitab berada, dan nama kitab tersebut adalah “KITAB OMONG KOSONG”. Kitab Omong Kosong sendiri terbagi dalam 5 bagian yang semuanya terpisah di tempat yang berbeda, yakni: “Dunia Seperti Adanya Dunia, Dunia Seperti di Pandang Manuasia, Dunia yang Tidak Ada, Mengadakan Dunia, Kitab Keheningan”

Jadi hakikatnya ‘omong kosong’ yang dijabarkan SGA itu begini: Kitab Omong Kosong bagian lima itu tidak ada tulisan artinya kosong. Sesuai dengan namanya “Kitab Keheningan” yang dimaksud mungkin dengan kekosongan jiwa. Segala sesuatu harus bermakna dan menentukan, jangan memulai sesuatu jika tanpa makna. Kosongkan pikiran; jernihkan dan resapi apa pun yang ingin kita lakukan.

Hikmah yang bisa diambil dari buku ini adalah, takdir itu bisa kita ubah atau diperbaiki, tergantung dari seperti apa niat kita. Walmiki telah menulis tokoh-tokoh Ramayana pada akhirnya semua tokoh membebaskan dari cerita Walmiki. Takdir yang sudah ditulis pun bisa berubah.

Selain itu, terus berusaha jangan cuma pasrah atau kalah oleh keadaan. Selama kita bisa dan mampu kenapa tidak? Itu dicerminkan dari kisah Satya dan Maneka.

Banyak pula yang menafsirkan kisah dalam buku ini merupakan salah satu bentuk tokoh menggugat penulisnya. Jadi begini, terkadang kita sebagai manusia merasa nggak terima dengan apa yang sudah digariskan. Nah SGA memberi gambaran tentang Walmiki yang menciptakan tokoh menjadi nyata dan akhirnya tokoh-tokoh tersebut menggugat tentang kehidupan mereka. Walmiki akhirnya memberi kebebasan ke setiap tokohnya tersebut untuk menentukan masa depannya. Nah mungkin yang ingin disampaikan, seperti yang disampaikan di atas bahwa takdir bisa kita ubah tergantung seberapa niat kita mengubahnya.

Sekian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *