#Rabuku 17 Februari 2016

Ishmael

Penulis: Daniel Quinn

Buku ini diawali oleh kisah seorang laki-laki yang membaca iklan pendek di koran dengan tagline:

“Dicari seorang murid yang memiliki hasrat mengubah dunia.”

Didasari semangat mengubah dunia yang tidak tertuntaskan sewaktu laki-laki itu remaja pada tahun 60-70an, ia mendatangi alamat yang tercantum di koran tersebut. Alangkah terkejutnya laki-laki tersebut kala menjumpai gorila besar bernama Ishmael di dalam ruangan kaca yang bisa berbicara. Dialog antara lelaki dan Ishmael sang gorilla bukan dalam percakapan verbal, melainkan dalam bahasa telepatik.

Isi buku selanjutnya adalah dialog antara lelaki dan Ishmael yang membahas tentang sejarah peradaban manusia. Ishmael sebagai guru yang mengajukan pertanyaan, dan lelaki sebagai murid yang seringnya tidak bisa menjawab pertanyaan dari sang guru dan pada akhirnya mereka membahas jawabannya bersama-sama.

Bumi telah terbentuk miliaran tahun lamanya (kalau disinkronkan dengan skala waktu geologi dari penemuan batuan tertua, umur bumi berkisar antara 4.6 miliar tahun yang lalu), lantas apa maksud penciptaan bumi ini dan apa kaitannya dengan keberadaan manusia di muka bumi?

Berawal dari Ishmael yang mengajak si lelaki bertualang ke masa lalu di ratusan juta tahun lalu kala daratan di bumi masih terendam hampir seluruhnya oleh air laut. Ia bertanya pada ubur-ubur. Anggaplah ubur-ubur sebagai makhluk yang pertama muncul di muka bumi dan bertanya, “Untuk siapa dunia ini diciptakan?” Tentu saja ia akan menjawab: “Ohoho, tentulah dunia dan seisinya ini diciptakan hanya untuk kita, ubur-ubur.” Begitu naik ke daratan, bertemu kepiting lalu bertanya hal serupa, tentu saja ia akan menjawab hal yang sama: “Dunia seisinya ini diciptakan hanya untuk kepiting”.

Merenungkan hal ini, si lelaki menyadari satu hal: Betul juga, apa yang terjadi pada bumi sebelum dikuasai oleh manusia adalah chaos, ketidakberaturan. Begitu manusia muncul, segalanya (seolah) menjadi lebih teratur. Manusia muncul sebagai rantai teratas kehidupan di dunia tidak ada lagi makhluk hidup yang menguasai makhluk lain di dunia selain manusia, dan tidak ada makhluk lain yang menguasai manusia, berarti memang dunia ini memang diciptakan untuk dikuasai manusia. Jelaslah sudah bahwa dunia dan seisinya, diciptakan buat manusia.

Spesies selain manusia yang berpikir ada spesies manusia yang merasa dunia diciptakan untuknya, akan selalu berusaha mengambil haknya, begitu pun manusia. Bagi manusia, hal tersebut tak sepenuhnya salah karena segala hal yang ada di dunia memang ditujukan untuk memenuhi hasrat.Manusia pun berlaku demikian, mereka beranggapan dalam skalanya masing-masing: jika dunia bisa kamu kuasai, maka kuasailah, jika dunia bisa ditaklukkan, maka taklukkanlah, jika dunia ini diciptakan untuk memuaskan segala kebutuhanmu, maka ambillah.

Manusia pun berlaku demikian, mereka beranggapan dalam skalanya masing-masing: jika dunia bisa kamu kuasai, maka kuasailah, jika dunia bisa ditaklukkan, maka taklukkanlah, jika dunia ini diciptakan untuk memuaskan segala kebutuhanmu, maka ambillah.

Di luar isi buku ini, teringat satu hal: Manusia diciptakan untuk menjadi khalifah (pemimpin) di muka bumi. Menjadi seseorang yang bisa memimpin, bukan menguasai yang berujung pada kehancuran. Sudahkah kita menjadi pemimpin, setidaknya untuk diri kita sendiri?

Kembali ke buku, Ishmael membagi manusia menjadi dua: Kaum Peninggal dan Kaum Pengambil. Singkatnya, Kaum Peninggal diasosiasikan dengan kehidupan yang berpindah-pindah (nomaden), yang tinggal dengan metode hidup berburu dan meramu, meninggalkan sesuatu yang dianggap tidak bisa diolah lagi, sementara Kaum Pengambil diasosiasikan dengan kehidupan bercocok tanam, yang mengambil segala yang bisa dimanfaatkan di dunia.

Ia pun menceritakan legenda Kaum Pengambil dan Peninggal yang diasosiasikan dengan kisah legenda Habil dan Kabil terkait dengan pembunuhan pertama di dunia. Habil mewakili kehidupan Kaum Peninggal yang memiliki kehidupan berburu dan meramu, sementara Kabil mewakili kehidupan Kaum Pengambil yang mewakili kehidupan bercocok tanam.

Kaum Pengambil selalu merasa kekurangan lahan untuk tempat ia bercocok tanam, oleh karenanya ia ‘mengambil’ milik Kaum Peninggal, lahan beserta nyawa milik Kaum Peninggal kemudian diceritakan dalam sebuah legenda: sungai tempat mereka bercocok tanam dialiri darah. Peristiwa ini yang menjadi tonggak dimulainya kebudayaan Kaum Pengambil yang diteruskan hingga saat ini.

Buku ini menjelaskan kata “kebudayaan” sebagai perwakilan segala aktifitas manusia. “Kebudayaan Induk” bertindak selayaknya ibu atau pengasuh yang membesarkan, mendidik, dan menjaga anak-anaknya dari generasi ke generasi. Kebudayaan Kaum Peninggal adalah mengambil apa yang mereka butuhkan di dunia, sementara kebudayaan Kaum Pengambil adalah mengambil apa yang bisa mereka ambil. Dimulai dari kebudayaan bercocok tanam dan membuat lumbung makanan karena rasa khawatir akan kekurangan makanan yang berakhir pada kehidupan Kaum Pengambil yang terus merasa kekurangan. Hal itu terbawa hingga saat ini tanpa disadari.

Manusia hari ini tidak ada yang menyadari proses ini sudah berlangsung ribuan tahun lamanya. Mereka hanya menyadari salah satu hal yang paling ditakutkan adalah kepunahan manusia, tidak memikirkan kepunahan spesies lainnya.

Contoh simpelnya begini (tidak disebutkan dalam buku), saat kita mendengar: Seluruh ayam di muka bumi ini akan punah karena pemanasan global. Kita akan beranggapan: Wah, aku ndak bisa makan ayam goreng lagi. Tapi santai ah, ada bebek atau enthog. Tetapi kalau kita mendengar: Kehidupan manusia akan punah karena badai es sepanjang tahun. Kita akan melakukan segala daya dan upaya untuk mencegah spesies kita dari kepunahan.

Oleh karena itu manusia mengusahakan berbagai macam rekayasa untuk bertahan, menunjang daya dukung, serta mempermudah hidup manusia. Berbagai macam aktifitas rekayasa sebagai bagian dari kebudayaan manusia seperti industrialisasi, pertambangan, arsitektur mewah, instalasi nuklir, transportasi, komunikasi beserta perkembangan teknologi saat ini secara langsung berperan dalam kerusakan dunia secara global.

Manusia tidak menyadari segala rekayasa sebagai bagian dari kebudayaan tersebut justru malah merusak karena apa? Karena balik lagi ke prinsip yang dipegang di awal tadi: Dunia diciptakan untuk dikuasai manusia. Manusia memaklumi segalanya sepanjang mereka masih bisa menikmati kehidupan, masih merasa kehidupan mereka tercukupi.

Beberapa golongan manusia sadar bahwa ini harus segera diatasi, salah satu upayanya dengan menekan laju populasi manusia dirasa sia-sia saja. Manusia di banyak negara berkoar-koar untuk menekan laju pertumbuhan penduduk, apa yang terjadi? Manusia di dunia jumlahnya semakin banyak dari tahun ke tahun. Itulah yang terjadi, bukan?

Topik beralih dari “Kebudayaan Induk” di jaman awal peradaban ke “Kebudayaan Modern” yang begitu memuja keseragaman. Segala yang tidak seragam dianggap ketinggalan jaman, tidak modern, tidak beradab. Hal ini dipaksakan ke semua individu. Contohnya seperti prinsip ekonomi modern yang mengacu pada kapitalisme, tidak kapitalis dianggap kuno, system politik harus sesuai dengan trias politika, ilmu pengetahuan harus saintifik, serta pola kehidupan yang mengarah pada individualitas.

Kita terpenjara dalam kebudayaan modern, kita sendiri yang membuat penjara tersebut selama bertahun-tahun tanpa disadari. Penjara kebudayaan ini telah menghancurkan banyak sekali kelompok masyarakat termasuk di dalamnya masyarakat adat dan masyarakat asli di sebuah daerah demi dianggap maju dan modern. Ishmael menyatakan “Kebudayaan kalian sedang terjun bebas menuju kehancuran” akan tetapi ia menolak bahwa manusia memiliki watak asli jahat.

Ishmael memberikan pernyataan sebagai berikut, “Yang krusial pada upaya kalian bertahan hidup sebagai ras bukan berkaitan dengan redistribusi kekuasaan dan kesejahteraan di dalam penjara, melainkan lebih kepada penghancuran penjara itu sendiri.”

Sampai saat ini kita masih berusaha memahami bagaimana menghancurkan penjara kebudayaan yang sudah terbentuk bertahun-tahun dan hidup dari generasi ke generasi. Sejauh yang kita pahami, kita menginterpretasikan bahwa kita bisa menjalani kehidupan seperti Kaum Pengambil? Mengambil apa saja yang dibutuhkan. Sebagai bagian dari upaya menghancurkan “Penjara Kebudayaan”

Delapan puluh persen isi novel ini adalah dialog antara Ishmael dan lelaki tentang sejarah peradaban dan kebudayaan, sedangkan sisanya adalah cerita hidup Ishmael, darimana asal usulnya, bagaimana ia bisa di sebuah flat dan menyebarkan iklan, darimana ia belajar dan bisa sampai sebegitunya dalam membangun cerita sejarah peradaban, bagaimana ia peka terhadap kebudayaan modern, termasuk cerita tentang ia yang pernah gagal dalam membina beberapa muridnya.

Hingga pada akhirnya si lelaki yang ingin bertemu dengan Ishmael lagi untuk belajar, tidak dapat menemukannya di flat tempat mereka biasa bertemu. Ia mengadakan penyelidikan, mencoba menghubungi pemilik terdahulu hingga sampai pada sebuah kesimpulan bahwa Ishmael ikut dalam sebuah rombongan sirkus. Lelaki ini menyusul Ishmael ke tenda sirkus, mereka bercakap-cakap dari malam ke malam dan mencoba mengajaknya untuk keluar dari tenda sirkus dan Ishmael pun menolak. Ishmael kemudian berkata, “Pelajaranmu sudah selesai, tidak ada lagi yang bisa kuajarkan lagi untukmu.”

Novel ini diakhiri dengan pawang sirkus yang memberi kabar pada si lelaki tentang kematian Ishmael karena pneumonia. Dengan si lelaki membawa poster bertuliskan

DENGAN KEPERGIAN GORILA

AKANKAH ADA HARAPAN

BAGI MANUSIA?

Poster itu yang dibaca oleh si lelaki di awal pertemuannya dengan Ishmael, akan tetapi yang dibaca oleh lelaki di sisi sebaliknya bertuliskan

DENGAN KEPERGIAN MANUSIA

AKANKAH ADA HARAPAN

BAGI GORILA?

Ishmael karya Daniel Quinn dikatakan sebagai “Sebuah Novel Pencerahan” yang sarat akan makna, oleh karenanya ia diganjar Turner Tomorrow Award karena dianggap menyumbang perbaikan peradaban manusia.

Banyak hal yang bisa diambil dari isi buku ini karena cukup menggambarkan sejarah peradaban manusia, bahwasanya ada yang salah dari kebudayaan yang hingga saat ini tanpa disadari akan membawa kita menuju kehancuran. Buku ini bisa menjadi cerminan berada dimanakah diri kita dalam pergerakan roda kebudayaan, dan bagaimana cara kita menyikapi pergerakan kebudayaan agar percepatan kehancuran dunia tidak semakin melaju kencang.

Ada banyak dialog panjang antara Ishmael dan lelaki yang cukup sulit untuk dipahami, butuh berulangkali membaca hingga separuhnya paham, dan butuh waktu dan tempat yang tenang untuk memahami isi buku keseluruhan. Tentu review ini belum mencakup keseluruhan isinya karena keterbatasan pemahaman pribadi. Ada banyak sekali hal yang disederhanakan untuk ditulis kembali dalam review ini, namun semoga cukup untuk memberikan gambaran isi buku mengenai sejarah peradaban, perjalanan kebudayaan manusia, dan untuk membaca apa yang terjadi saat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *