#Rabuku 24 Februari 2016

Bulan Nararya

Penulis: Sinta Yudisia

Cerita bermula di sebuah klinik kesehatan mental di pinggiran kota Surabaya. Nararya-yang biasa dipanggil Rara-, seorang perempuan muda energik nan kaya akan ide-ide segar, menghabiskan hari-harinya sebagai seorang terapis kesehatan mental. Kecintaannya akan profesi dan dunianya tersebut mengantarnya pada pencarian akan metode penyembuhan baru demi penyembuhan pasien.

Transpersonal adalah nama metode penyembuhan mental baru yang sedang ia dalami. Transpersonal adalah suatu aliran psikologi baru yang menerapkan pendekatan budaya maupun pengalaman puncak seperti Sufi, Shaman, Tao, Tantra, Dan Zen kepada penderita gangguan mental. Dengan metode ini, ketergantungan pasien kepada obat-obatan berusaha dilepaskan.

Sekalipun transpersonal adalah metode baru, namun Rara begitu bersemangat untuk mencobanya sebagai alternatif terapi penyembuhan di klinik ia berada. Dengan penuh optimisme, Rara mempresentasikan metode transpersonal ke hadapan Direktur Klinik, Bu Sausan, petinggi yayasan, dan para penyandang dana. Namun, karena transpersonal adalah metode baru dan masih membutuhkan banyak pengujian, ide Rara ditolak mentah-mentah oleh Bu Sausan dan petinggi yayasan.

Penolakan ini tentu memberikan hantaman keras terhadap rasa percaya diri Rara. Penolakan ini adalah masalah pertama yang hadir, diantara beragam kerumitan yang hadir dalam hidup Rara selanjutnya. Rara merasa sangat kecewa. Harapannya untuk mencoba metode terapi yang baru kandas di tengah jalan.

Namun, penolakan yang dilakukan oleh Bu Sausan dan pihak yayasan bukannya tanpa alasan. Kasus seperti skizophrenia atau hilang akal sering dianggap sebelah mata dan bersinggungan dengan keterbatasan dana yang ada. Dengan realita seperti itu, klinik kesehatan mental bukanlah tempat yang tepat untuk melakukan penelitian baru yang memakan waktu dan biaya. Bu Sausan dan yayasan tidak mau mengambil resiko mencoba metode terapi baru yang mungkin bisa memakan waktu sepuluh sampai lima belas tahun untuk melihat hasilnya.

Problematika seperti itulah yang membuat pergolakan batin Rara tak kunjung usai. Alasan Rara untuk menggunakan metode baru juga bukan tanpa alasan. Kebiasaan mengonsumsi obat-obatan, menjadikan pasien memiliki ketergantungan pada obat-obatan tertentu. Pada pasien dengan tingkat ekonomi lemah, hal ini tentu menjadi masalah yang tidak mudah.

Rara ingin melihat pasiennya pulih dengan terbebas dari ketergantungan pada obat-obatan. Dalam suasana murung, Rara berjalan perlahan menuju paviliun pasien. Bila sedang merasa sedih dan tertekan, Rara seringkali menemui tiga “sahabat” spesial yang sekaligus menjadi pasiennya di klinik tersebut. Sania, Pak Bulan, dan Yudhistira adalah nama dari tiga sahabat spesial Rara itu. Perhatian aneh dari ketiga orang tersebut, acapkali membawa sebentuk kebahagiaan dalam diri Rara.

Sania kecil sering meminta Rara mengusap air mata nya dengan telinga boneka kelinci saat ia menangis, Pak Bulan mengajak Rara untuk melihat rembulan jika merasa sedih, dan Yudhistira akan menyodorkan kuas serta mengajak Rara melukis dalam suasana yang tenang dan khidmat. Ketiganya memberi perhatian kepada Rara dalam cara yang unik dan tidak biasa.

Sania adalah seorang gadis kecil yang temperamental. Ia dibesarkan oleh dalam kondisi keluarga yang berantakan. Hidup dalam keadaaan miskin, diperparah dengan kehadiran nenek yang sering mencambuknya dengan rotan, ibu yang pemarah, dan ayah yang pemabuk. Sania ditemukan dinas sosial di sebuah terminal dengan luka di kaki kiri, gigi depan patah, dan punggung yang penuh memar. Tidak menangis, tak mau bicara, dan hanya mengigit kuat boneka yang kala itu dilakukan Sania.

Pak Bulan adalah lelaki renta berusia tujuh puluh tahun. Dia pernah menjadi penghuni Lembaga Pemasyarakatan karena dituduh mencuri. Skizophrenia sering membuat orang berada dalam kondisi terisolasi, tersisih, tercerabut dari ikatan kekeluargaan, kekurangan gizi, yang pada akhirnya membuat kemampuan akal turun drastis.

Dari ketiganya, Yudhistira adalah orang yang berasal dari keluarga yang paling mapan, bahkan mewah. Namun hidup dalam kemewahan ternyata tidak membuatnya bahagia. Dibesarkan oleh seorang ibu dan kakak perempuan yang menjadi pengusaha sukses, justru membuat Yudhistira menjadi seorang yang kecil hati. Yudhistira tak pernah belajar menjadi orang yang mandiri. Ibu dan keluarga yang mengekang, dan tak berhenti mencampuri urusan pribadinya, bahkan setelah menikah membuatnya depresi.

Istri Yudhistira, Diana yang mendambakan sosok suami yang tegas dan mandiri pada akhirnya tak bisa bersabar hati. Tuntutannya kepada Yudhistira agar hidup mandiri, lepas dari bayang-bayang keluarga besarnya menjadikan Yudhistira limbung. Rasa cinta yang sedemikian besar kepada Diana dan penghormatan yang berlebihan kepada Ibu,membuat Yudhistira tak bisa mengambil sikap.

Saat tak kuasa lagi menahan tekanan, Yudhistira memilih mengunci diri berhari-hari di dalam kamar. Tidak bicara, tidak mandi, tidak makan, dan hanya melakukan aktivitas yang disukainya, melukis. Guncangan mental yang dialami Yudhis membuatnya membunuh kucing kesayangan Diana,karena merasa si kucing merebut perhatian Diana darinya. Diana yang shock melihat kucingnya tenggelam di kamar mandi,histeris dan menelpon Rara tengah malam. Pada akhirnya Yudhis dibawa ke klinik kesehatan tempat Rara berada,karena Diana sudah merasa kewalahan.

Sania, Pak Bulan, dan Yudhistira dengan beragam masalah dibelakangnya, hanyalah sedikit contoh dari tantangan yang harus dihadapi Rara setiap harinya. Pada suatu ketika, ayah Sania, Pak Robin, datang ke klinik dan bermaksud menjemput Sania. Sania yg kala itu melihat ayahnya, hanya diam terpaku, berdiri kaku dan menggigit boneka kelincinya kuat-kuat. Sebuah ekspresi yg biasa ditunjukkan jika ia bertemu orang asing, atau ada sesuatu yg mengusik hatinya.

Melihat hal tersebut, Rara berinisiatif mengajak Pak Robin duduk dan mengobrol di kantornya. Setelah beberapa saat bicara,Rara mengajukan jawaban bahwa Sania lebih baik berada di klinik dulu untuk saat ini. Hal ini mengingat kondisi Sania yg dirasa belum siap jika diajak ke rumah. Pak Robin yang merasa tersinggung atas penolakan Rara menjadi kalap. Secara tiba-tiba Pak Robin menyerang Rara, mencekik leher terapis tersebut hingga kehabisan nafas. Dalam suasana panik, Rara mencium aroma alkohol dr mulut Pak Robin. Beruntung,Yudhis dan petugas keamanan segera datang. Tubuh Pak Robin segera ditarik dan dibawa keluar ruangan.

Kondisi Yudhis sekarang sudah lebih baik. Dia sudah mulai mau keluar ruangan,sholat berjamaah,dan sesekali mengajari melukis kpd pasien yg lain. Ketimbang Sania dan Pak Bulan,Yudhis adalah sosok yg paling siap berada kembali bersama keluarga. Namun masalah tidak selesai disini. Diana belum siap menerima kondisi Yudhis kembali, sedangkan Ibu kandung dan kakak Yudhis merasa lebih baik Yudhis tinggal di klinik selamanya, dan tak perlu kembali ke rumah.

Rara kembali dihadapkan dilema. Ada Pak Robin yang ingin mengajak Sania pulang, tapi konsumsi alkoholnya tak bisa berhenti. Di sisi lain,ada keluarga Yudhis yg kaya, tp enggan membawanya pulang karena merasa Yudhis hanya akan menjadi aib bagi keluarga. Terlebih saat itu, kakak Yudhis sedang mengajukan diri sebagai caleg perempuan. Kehadiran Yudhis, dianggap akan merusak citra sang kakak di media.

Masalah tidak berhenti diisini. Cerita semakin rumit ketika rumah tangga yang dibina Rara bersama Angga selama sepuluh tahun mulai diterpa goncangan. Goncangan yang akhirnya membuat ikatan suci itu berakhir. Perceraian tersebut menguras energi dan konsentrasi Rara, serta membuatnya tidak fokus bekerja. Ditambah keretakan hubungan antara Rara dan sahabat baiknya sesama terapis, Moza, pasca perceraian membuatnya berada dalam titik paling rendah dalam hidup.

Secara diam-diam, Angga menjalin hubungan khusus dengan Moza. Angga-Moza-dan Rara adalah sahabat lama. Tanpa diketahui Rara, setelah bercerai Angga menikah di bawah tangan dengan Moza. Moza pada akhirnya mengundurkan diri dari klinik karena suasana kantor yg dirasa kurang nyaman. Sekalipun Rara berkeberatan atas pengunduran dirinya,Moza tetap berkeras hati untuk mundur. Moza ingin beristirahat dari rutinitas,di sisi lain saat itu dia tengah mengandung anak Angga. Sesuatu yg belum dapat dialami oleh Rara setelah 10 tahun bersama dengan Angga.

Dalam kondisi tertekan, akibat perceraian dan kehilangan sahabat, tiba-tiba Rara melihat genangan darah dan kelopak mawar berceceran di depan ruang kerjanya. Apakah yang dilihat Rara adalah halusinasi karena depresi hebat? Apakah Rara akan menjadi salah satu pasien di tempat ia bekerja selama ini? Dapatkah Rara menghadapi masalah yang datang bertubi-tubi tersebut? Untuk lebih lengkapnya, tentu akan lebih menarik jika membaca sendiri novel tersebut.😃

Secara visual, novel ini banyak yang mengira ditujukan untuk khalayak remaja saja, namun aslinya bukan. Novel ini bersegmen dewasa. Tema yang unik, cerita yang sedikit rumit, dan banyaknya bahasa ilmiah yang bertebaran di sepanjang jalan cerita mungkin akan membuat pembaca (remaja) agak kesulitan dalam memahami novel ini.

Novel ini sekaligus mengajarkan pada kita bahwa setiap manusia mempunyai masalah dalam hidupnya. Entah itu berat atau ringan, yang rumit maupun sederhana. Tiap orang lalu mencari dan merumuskan cara uniknya masing-masing untuk mengatasi rupa-rupa masalah yang mereka hadapi. Ada yang dengan tangan terbuka menerima masalah dan berusaha menghadapinya. Namun ada pula yang memilih lari dari masalah, bersembunyi, atau bahkan berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain demi menghindarkan diri dari masalah kehidupan.

Untuk meresapi makna kehidupan, seringkali manusia harus belajar untuk menyelesaikan masalahnya masing-masing. Kadangkala masalah hidup yang hadir akan menempa kedewasaan dan kebijaksanaan seseorang. Padahal bukankah hidup adalah rangkaian dari masalah? Oleh karenanya, lari dari masalah justru akan menjadi masalah baru, alih-alih menemukan solusi yang mencerahkan.

Nilai penting yang bisa diambil dari novel ini adalah keberanian untuk menghadapi masalah dan makna dari ketulusan. Manusia harus belajar kembali nilai ketulusan dalam dunia yang mulai gila ini. Gila karena disekitar kita hari ini, banyak orang yang “gila” akan harta, tahta, dan jabatan. Sebagaimana kata Sinta Yudisia:

“Kadang, sikap tulus dapat menyelamatkan kita dari carut-marut dunia yang tidak kita pahami” (hal 205).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *