#JumatBarokah 4 Maret 2016

Berfilsafat dengan IDEALISME

Belajar filsafat itu melihat realitas dari banyak perspektif. Kenapa dengan idealisme? Ya kali ini pengen bahas idealisme saja hahahaha. Idealisme adalah Sistem filsafat yang menekankan pentingnya keunggulan pikiran (mind), roh (soul) atau jiwa (spirit) dari pada hal-hal yang bersifat kebendaan atau material. Nama lain dari Idealisme yang digunakan dalam berbagai keilmuan sering disebut dengan serba ruh, jiwa, dan semangat.

Dan berikut penjelasannya.

Idealisme dalam bahasa filsafat lawannya adalah teori materialisme. Idealisme berasal dari bahasa Yunani “idealismos” yang berarti idea yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa, terasa sesuatu dalam diriku (Kuch Kuch Ho Ta He hahaha). Setiap hari menjalani kehidupan realitas kita selalau memakai istilah idealisme. Tetapi, Istilah idealisme yang akan kita bahas malam ini tidak idealisme yang kita pakai sebagai prinsip hidup, bukan idealisme yang berarti hidup berdasarkan mimpi, Idealisme yang ini lawannya realisme; hidup berdasarkan kenyataan. Jadi, idealisme ini sedikit berbeda dengan istilah idealisme di dunia kefilsafatan. Dalam bahasa filsafat, istilah idealisme lebih menekankan kepada IDE daripada menekankan pada IDEAL. Dan lawan idealisme dalam dunia filsafat lawannya adalah materialisme.

Bagi idealisme esensi alam itu ada dalam ide; dimensi batinnya manusia, sedangkan materialisme; hakekat/esensi alam semesta itu ada materinya. Idealisme dalam ranah filsafat disebut mind, soul atau spirit. Materialisme bahwa pikiran itu bersumber dari fisik kemudian direfleksikan, sedangkan Idealisme realitas itu adalah manifestasi dari pikiran yang mengejawantah. Esensi Idealisme duluan pikirannya baru kenyataan. Esensi Materialisme duluan materinya baru dipikirkan. Bahasanya Syekh Plato; ada ide bawaan dalam diri kita sebelum ada bernama materi.

Benda/material dimensi fisiknya itu tidak penting, tapi yang terpenting adalah kalau bahasa aristoteles; formnya. Ini kayunya tidak penting tapi yang esensial adalah bentuknya, kalau Cuma kayunya masih belum esensial, dia jadi berguna, berbentuk meja karena dia punya form meja. Manusia; daging, kulit, tulang, cakep cantik itu tidak esensial, bahwa dia berguna iya tapi yang esensial itu roh, mind, jiwanya. Secantik apapun orang kalau ditinggalkan rohnya, jiwanya, sudah tidak menarik lagi. Idealisme lebih tahan lama daripada material, contohnya ide dalam sebuah karya.

Sebab muncul Idealisme, pertama karena keberatan terhadap perspektif yang cenderung material. Orang menggunakan materi boleh saja, kita tidak menafikannya tapi jangan digunakan sebagai basis paham sentral. Jika materi jadi sentral pasti akan kehilangan esensinya. Kedua, karena ketika orang tidak idealis, kemungkinan besar akan jadi seorang skeptisisme -jatuh dalam kelompok kebingungan (ragu-ragu)- dan kehidupan tidak bisa dijalankan dengan pedoman materialis-skeptis belaka. Skeptis itu orang yang selalu ragu-ragu, tidak bisa menemukan kejelasan, tidak bisa menemukan kebenaran yang pasti. Karena materi itu selalu berubah-rubah, dapat berubah karena bergantinya waktu, berubah karena pengaruh dari luar. Oleh karena itu, kalau kita berpikir dengan dasar materi, kita akan bisa berubah, bingung bahkan ragu-ragu menegaskan sesuatu. Sedangkan ide itu tetap dan tahan lama. Contoh cara berpikir dengan idealisme; islam itu sebenarnya damai, sedangkan jika hanya cara berpikirnya materialisme maka dalam realitasnya tidak akan pernah damai, karena ada deviasi (penyimpangan) dalam memahami Islam. Indonesia juga seperti itu, sebenarnya Indonesia idealnya itu kaya, indah alamnya dan pintar, damai, santun dan ramah penduduknya, tetapi karena banyak “masyarakatnya” yang berpikir dengan cara materialisme, maka keindahan dan kekayaan alamnya tidak terolah dengan maksimal, kemiskinan semakin meningkat, kesopan-santunan, keramahan, kedamaian, dan kecerdasan semakin menurun.

Selanjutnya, dari pengantar di atas saya akan lebih menjelaskan lagi secara lebih detail, kenapa ada teori idealisme, bagaimana cara berpikirnya dan jenis-jenisnya. Sebagai berikut :

  1. ASUMSI-ASUMSI IDEALISME

Pertama, manusia adalah makhluk spiritual (jiwa dan berakal). Dimensi jiwanya itu sangat berpengaruh dalam hidupnya. Pada hakekatnya, manusia selalu punya rasa kecenderungan ke arah spiritual (masuk lebih dalam daripada sekedar fisik), manusia tidak pernah berhenti pada materi/fisik dalam hidupnya, dia selalu lebih masuk menuju kearah batin, kearah makna, kearah nilai. Makna spiritual di sini bermakna dimensi batin yang influensiil untuk menentukan apa yang dilihat. Jangan menyerah hanya karena lemah/kekurangan di materi, memahami materi itu lebih mudah, memelihara fisik itu lebih gampang, oleh karena itu kelebihan manusia bukan di fisik/materinya, tetapi memiliki kekayaan batin yang luar biasa, daya potensi jiwa yang luar biasa, daya berpikir yang luar biasa, itulah kelebihan manusia.

Kedua, Jiwa/Ruh/Ide adalah lebih penting dan Influential daripada materi/fisik.

Ketiga, Tidak ada sesuatu yang berdiri di luar pemikiran. Tidak ada satu hal pun di dunia ini yang berada di luar jangkauan pemikiran kita. Semua sesuatu itu berada dalam lingkup pemikiran kita. Bahkan keberadaan benda fisik itu tergantung di pikiran, begitu benda itu tidak ada di pikiran, berarti benda itu tidak eksis/tidak ada.

  1. DASAR BERPIKIR IDEALISME

Pertama, Hakekat atau esensi alam semesta itu ada dalam jiwa/ruh/ide. Materi hanya bungkus dan perwujudan (perluasan)-nya saja.

Kedua, Dunia ide sifatnya lebih pasti dibandingkan dunia materi. Materi itu berubah, tidak stabil, tidak pasti; sedangkan ide lebih bersifat tahan lama dan “abadi“.

Maksudnya, badan/fisik bisa mati, bisa hancur tapi tidak dengan isinya, yang mati itu tidak ruh tapi jasadnya, cantik atau cakep itu tidak kekal, tapi jiwa/ruhnya itu yang kekal dan pasti. Ketika kita mencintai perempuan atau pria karena materi/fisiknya belaka, maka kita tidak akan mencintainya lagi jika fisiknya sudah berubah.

Ketiga, Fitrahnya manusia itu secara umum mendambakan kebenaran yang hakiki, sempurna dan abadi, dan hal ini tidak dapat ditemukan dalam dunia materi yang tidak sempurna dan selalu berubah. Secara nilai yang sementara itu nilainya lebih rendah dari pada yang hakiki, tahan lama. Ide, pikiran yang sifatnya baik derajatnya lebih tinggi dan cenderung disukai manusia. Baik dan Jahat, ketika “orang baik” berbuat jahat hanya untuk sementara karena beberapa sebab, nilai kejahatannya juga akan berkurang, begitu sebaliknya ketika “orang jahat” berbuat baik tapi hanya untuk sementara, nilai kebaikannya juga tidak mempengaruhi kejahatannya, karena sifatnya hanya sementara.

Keempat, Empiris atau pengalaman itu sepenuhnya merupakan aktifitas mental/aktifitas batin. Pergaulan kita dengan sesuatu atau seseorang dalam realitas hidup, meskipun kita tidak berkomunikasi dengan mereka; sekedar melihat saja itu sepenuhnya merupakan pergulatan batin, pengalaman batin.

  1. LOGIKA BERPIKIR IDEALISME :

Logika yang menjadi dasar metafisik dan dasar epistemologi kaum idealis adalah bahwa ada hubungan “yang keseluruhan” dengan “yang bagian”. Kebenaran hadir di dalam dan bersama Makrokosmos atau “yang mutlak” dalam sebuah tatanan atau pola yang logis, sistematik dan terhubung.

Model atau pola berpikir Idealisme itu adalah deduktif, maksudnya adalah sebagian itu mewakili keseluruhan. Berpikir sebagian sudah dapat menyimpulkan keseluruhannya. Sedangkan pola berpikir materialisme bersifat induktif; meneliti semuanya kemudian menyimpulkannya. Dunia ini sangat luas dan kompleks, jadi tidak mungkin kita dapat meneliti satu persatu secara keseluruhan, baru kita menemukan kesimpulan.

Bukti paling nyata dari idealisme adalah fenomena nilai (makna) dalam fungsional operatif kehidupan manusia. Hidupnya manusia mulai lahir sampai sekarang ini sebenarnya isinya dari makna ke makna, tafsir ke tafsir, nilai ke nilai. Materi sama (satu) tapi tafsiran bisa berbeda-beda. Misalkan sebuah buku, kita memberikan tafsiran atau mengambil nilai dari buku tersebut akan selalu berbeda-beda.

Ada perbedaan antara logika idealisme Barat dan idealisme Timur (sudah sedikit dijelaskan di atas). Logika idealisme Barat sudah saya jelaskan di atas yaitu bersifat fisikal. Obyek-obyek fisik itu riil\nyata sejauh ia bisa dipahami, kalau tidak bisa dipahami berarti tidak nyata. Apa yang membuat bisa dipahami? Formnya. Contoh meja yg terbuat dr kayu, ini kayu barangnya, kita tidak bisa memahami dari kayunya tapi kita memahami dari form/bentuk yaitu meja. Apa yang membuat obyek-obyek itu bisa dipahami, tidak dari materinya tapi dari aspek “form”-nya atau “idea”-nya.

Sedangkan logika Idealisme Timur lebih bersifat pikiran. Apa yang kita pahami adalah sensasi-sensasi yang terjadi dalam pikiran (sebagaimana dalam mimpi), tidak ada obyek yang nyata di luar pikiran. Pikiran bilang nyata maka akan jadi kenyataan. Ada tidaknya sesuatu itu tidak tergantung objeknya tetapi tergantung orang.

  1. JENIS-JENIS IDEALISME :
  2. Idealisme Subyektif.

Idealisme subjektif bertitik tolak pada ide manusia atau ide sendiri. Alam dan masyarakat ini tercipta dari ide manusia. Segala sesuatu yang timbul dan terjadi di alam atau di masyarakat adalah hasil atau karena ciptaan ide manusia atau idenya sendiri. Eksisternsi sesuatu itu tergantung persepsi. Ada (riil) tidaknya sesuatu itu tergantung dipahami orang atau tidak, kalau tidak ada orang satupun belum tahu itu berati tidak ada. Idealisme ini seperti logika idealisme Timur.

  1. Idealisme Objektif

Idealisme Objektif adalah idealisme yang bertitik tolak pada ide di luar manusia. Idealisme objektif ini dikatakan bahwa akal menemukan apa yang sudah terdapat dalam susunan alam. Sesuatu baik dalam alam atau masyarakat adalah hasil dari ciptaan ide universil. Pandangan filsafat seperti ini pada dasarnya mengakui sesuatu yang bukan materi, yang ada secara abadi di luar manusia, sesuatu yang bukan materi itu ada sebelum dunia alam semesta ini ada, termasuk manusia dan segala pikiran dan perasaannya.

Maksudnya, ada ide diluar ide yang ada di kepala kita yang ide sifatnya objektif universal. Ada satu bagian dunia lain yang sifatnya ideal, yang itu nanti jadi rujukan pikiran kita untuk memikirkan tentang sesuatu. Ada dunia idea yang sifatnya abadi dan sempurna, yang dulu akal kita ada di sana, bergumul di sana yang sekarang turun ke bumi. Di dunia idea itu ada banyak sekali hal-hal yang di dunia kenyataan ada, tapi di dunia idea sesuatu itu dalam bentuk yang sempurna. Menurut Plato, idealisme obyektif itu bahwa ada dunia ide bawaan yang dari sana kita dapat banyak ide bawaan yang kita pakai untuk memahami dunia nyata. Maksudnya, bahan pikiran itu tidak dari materi tapi dari ide, materi itu sekedar representasinya (perwujudannya), materi ada itu karena ada ide, bukan sebaliknya. Contoh ayam, kenapa itu namanya ayam? Karena dulu di “dunia ideal” itu pernah ada (rekoneksi).

  1. IDEALISME PERSONALISTIK

Idealism Personalistik hampir mirip dengan idealisme subyektif, tetapi idealisme personalistik sedikit lebih ditekankan bahwa realitas/materi itu sifatnya plural, bukan karena materinya sendiri yang plural tetapi karena manusianya yang plural.

Bagi kelompok ini, alam adalah tata tertib yang obyektif, walaupun begitu alam tidak berada sendiri. Manusia mengatasi alam jika ia mengadakan interpretasi terhadap alam ini. Bahasa mudahnya, alam secara obyektif itu ada tatananya, ada polanya sendiri, akan tetapi begitu manusia masuk, alam bisa ditafsirkan secara berbeda-beda oleh manusia.

Hakikat kenyataan bergantung kepada kepribadian yang sadar, tergantung kesadaran manusia memahami hakikat tersebut. Kekuasaan manusia atas alam, dan kekuasaan manusia itu interpretasi alam. Dan hakekatnya alam ternyata tidak ada di alam itu sendiri, tetapi tergantung pada sejauh mana level kesadarannya manusia.

Paham ini juga menekankan bahwa jiwa bersifat pribadi dan masing-masing berdiri sendiri, sehingga setiap individu mempunyai kebebasan untuk mengekspresikan dirinya sendiri.

Contohnya tsunami. Secara alam itu memang sudah tatanan alam; tidak adanya keseimbangan, hakekatnya sudah menjadi kenyataan kalau itu bencana, akan tetapi secara personal manusia akan meinterpretasikan bencana tersebut berbeda-beda.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *