Pengalaman Membaca Puisi Bersama-sama

Sabtu, 17/6, Klub Buku Yogyakarta kembali mengadakan Bengong Bersama KBY sekaligus acara buka puasa bersama di Tlahab Java Kafe, Prawirotaman. Bulan Juni kemarin KBY membahas kumpulan puisi Joko Pinurbo yang berjudul Selamat Menunaikan Ibadah Puisi. Anggota KBY hadir sebanyak 4 orang, tamu dari kontributor Wikipedia hadir sebanyak 4 orang, tamu dari luar (bukan member KBY dan/atau kontributor Wikipedia) hadir sebanyak 4 orang—menjelang acara selesai, datang satu member KBY yang terlambat karena tersesat mencari lokasi BBK. Acara dimulai pukul 4 sore, diawali dengan pengenalan siapa itu Joko Pinurbo (dikutip dari sini) oleh pembedah, Kak Ratna.

Kak Ratna membuka pembacaan puisi dari halaman 154, begini cuplikan puisinya:

 

Aku Tidak Pergi Ronda Malam Ini

 

Aku doakan semoga aman-aman saja

Kalau nanti bertemu maling,

ajak dia ke rumahku.

Hasil curiannya bisa kita bagi bertiga.

 

(2007)

 

Menurut Kak Ratna, puisi ini bercerita tentang ketidakadilan yang dibiarkan, terlihat dari maling yang dibiarkan mencuri bahkan terkesan dipersilakan. Pembacaan kemudian dilempar kepada teman-teman yang datang. Kak Gita mempunyai pembacaan lain; menurutnya puisi ini bercerita tentang ketidakbahagiaan rumah tangga, dimana si empunya rumah (‘aku’) mempersilakan maling untuk masuk dan merampok rumahnya sendiri untuk kemudian hasilnya dibagi. Pembacaan ketiga datang dari tamu (bukan member grup WhatsApp KBY), Kak Aan. Menurut Kak Aan, puisi ini mengambarkan persekongkolan, yaitu maling, ‘aku’, dan orang ketiga bersepakat membiarkan maling mencuri (di luar rumah ‘aku’) untuk kemudian hasilnya dibagi tiga.

Selanjutnya pembacaan bergerak mundur satu halaman, menuju halaman 153:

 

Bangkai Banjir

Rumahku keranda terindah untuknya

(2007)

 

Untuk puisi di atas, ada empat pembacaan dari beberapa kawan yang datang; pertama, puisi ini bercerita tentang seseorang yang dicintai si penyair dan si penyair ingin hidup sampai mati bersama cintanya ini; kedua, tentang pernikahan yang mengekang perempuan; ketiga, rumah yang dimakasud adalah segala yang ada di diri, dan si penyair ingin bilang bahwa dirinyalah yang cocok untuk cintanya, sampai mati; keempat, rumah dibaca sebagai simbol dari tempat yang nyaman dan keranda dibaca sebagai simbol kematian, yang kemudian dibaca sebagai cinta berarti sesuatu yang nyaman tetapi juga mematikan.

Pembacaan berlanjut satu-dua puisi. Setelah itu masing-masing orang yang datang diminta membacakan satu puisi favorit dari buku Selamat Menunaikan Ibadah Puisi dan memberikan pembacaan singkat atas puisi favorit tersebut. Pukul enam kurang beberapa menit acara diskusi ditutup dan dilanjutkan buka puasa bersama.

 

19430111_10211274948367311_1615236116887310964_n

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *