Bengong Bersama KBY Februari 2018

Kedai Mare

Sabtu, 17 Februari 2018 16:00 – 18:00 (moderator: Yanuardhi)

Ulasan oleh Olive Hateem

Judul              : Alkudus

Penulis          : Asef Saeful Anwar

Penerbit        : Basabasi

Cetakan         : Pertama, April 2017

Tebal              : 268 halaman

ISBN               : 978-602-61160-0-0

 

 

: ha ba sin ro ya

 

“Kamu sudah baca Alkudus-nya Mas Asef?”

“Belum,” jawabku sambil diam-diam memasukkan Alkudus ke dalam daftar buku yang harus kubeli di awal 2018. “Bagus?”

“Um, gimana ya.” temanku garuk-garuk kepala dengan ekspresi ragu. “Ngantuk bacanya. Model kitab suci gitu lho, ada ayat-ayat dan kisah-kisah nabi.”

Eh?

 

Dibuka dengan perintah berbunyi “Sucikanlah dirimu sebelum menyentuh kitab ini dan letakkanlah kitab ini pada tempat yang tinggi lagi suci” dengan isi berupa ayat-ayat lengkap dengan catatan kaki, ternyata teman saya tidak bercanda menyebut buku ini sebagai kitab suci.

Diceritakan bahwa Alkudus berisi wahyu-wahyu yang diturunkan kepada Erelah Sang Utusan, dicatat oleh sembilan pengikut setianya dan kemudian menjadi kitab suci bagi agama Kaib. Agama Kaib di sini tentunya merupakan agama fiksi karangan penulis, meskipun hanya dengan melihat Silsilah Keturunan Rasul Agama Kaib yang tertera di bagian depan pembaca akan langsung diingatkan kepada kitab suci agama Samawi, seperti Al-Qur’an dan Alkitab.

Keberanian Mas Asef dalam menggunakan gaya kitab suci dalam menulis Alkudus kiranya perlu diapresiasi, mengingat masih banyak kaum sumbu pendek di negeri kita tercinta ini. Pastinya beliau sudah siap akan risiko dituduh menista kitab suci—yang alhamdulillah sampai sekarang belum terjadi.

Awalnya, saya membaca Alkudus secara acak, berharap bahwa kisah-kisahnya masih bisa dipahami tanpa harus dibaca secara keseluruhan dari awal sampai akhir. Cukup memusingkan, ternyata. Meskipun ada banyak kemiripan dalam penamaan maupun kisah (manusia pertama bernama Dama dengan pasangannya Waha; peristiwa pembunuhan antar-saudara; anjuran untuk menikah; larangan bersifat munafik; perintah berkhitan bagi laki-laki; kisah lima pemburu; dan lain-lain), berbeda dengan proses membaca terjemahan Al-Qur’an dan Alkitab, masih ada ‘jarak’ antara saya dan Alkudus—hingga akhirnya saya baca ulang secara kronologis.

Ketika saya membaca Al-Qur’an, peristiwa yang terdapat di dalamnya terasa familiar dan ‘dekat’ karena latar belakang keluarga dan pendidikan. Begitu pula dengan Alkitab, ada bagian-bagian yang juga sudah pernah dibaca dan bisa ditanyakan kepada teman-teman yang beragama Nasrani.

Jarak tadi, saya rasa muncul karena (secara tidak sengaja) saya masih membandingkan Alkudus dengan Al-Qur’an dan Alkitab. Hal ini cukup mengganggu walau sepertinya tidak akan terhindarkan, karena saya tahu Alkudus pun mengacu kepada kitab-kitab agama Samawi.

Menjadi pembaca yang banyak mau dan gampang penasaran, saya merasa agak ‘tanggung’ dengan tokoh-tokoh Alkudus yang kebanyakan hanya dibahas sekali lewat—terutama Erelah dan Bakijah sendiri. Jika di Al-Qur’an kita bisa tahu sebab turunnya suatu ayat secara lebih lanjut dengan lebih detail dan lengkap, catatan kaki dalam Alkudus berhenti di situ. Ketiga mazhab yang dimaksud itu sebenarnya apa saja? Peristiwa ini mulainya seperti apa? Ayat ini dikaitkan ke ayat anu asal mulanya bagaimana? Di mana saya bisa baca Sabda Suci Erelah?

Masih mengenai tokoh, ada bagian-bagian di mana pembaca akan dipusingkan dengan nama-nama yang amat banyak. Berkali-kali saya kembali membuka Silsilah Keturunan Rasul Agama Kaib karena lupa sebenarnya siapa yang sedang diceritakan. Di sini kemudian muncul pertanyaan: pembaca macam apa yang diharapkan oleh Mas Asef? Hanya mereka yang terbiasa membaca kitabkah? (Wong kebanyakan orang saja malas membaca kitab suci agamanya sendiri, kok) Bagaimana dengan pembaca yang sama sekali asing dengan gaya kitab suci?

Yahmur adalah anaknya Lekhta anaknya Wasmed anaknya Lokat anaknya Keliat anaknya Riwama anaknya Nabasy anaknya Lehti anaknya Hujat anaknya Sittah anaknya Husah anaknya Filom anaknya Baikya anaknya Sana yang dikawinkan dengan Sibda yang lahir dari Rahim Esimar anaknya Dama dan Waha. Dialah penerus Samis yang satu garis menuju Nabasy.” (Yahmur: 34-35)

Sebagai novel eksperimental, saya rasa Alkudus bisa dibilang berhasil. Cara Mas Asef menyampaikan pesan-pesan didaktis secara implisit dengan kemampuannya dalam mengolah kata patut diacungi jempol. Aforisme yang dikemas dalam peristiwa-peristiwa kekinian serta bahasa yang (tentunya) jauh lebih lugas dibanding kitab suci sesungguhnya membuat saya tidak bisa berhenti membalik halaman hingga akhir.

“Tinggalkanlah untuk sementara waktu orang yang bersamamu ketika engkau marah agar kemarahan itu juga turut meninggalkanmu. Kemudian renungkanlah apa yang salah dan janganlah mencari siapa yang salah.” (Permulaan: 150)

 

Hal lain yang menjadi kelebihan novel ini bagi saya ialah konsep feminisme yang jelas terlihat. Mulai dari Erelah Sang Utusan yang merupakan seorang perempuan, sampai berbagai wahyu yang tidak menomorduakan perempuan laiknya yang masih banyak terjadi di dalam berbagai ajaran keagamaan. Feminisme sendiri sebetulnya sudah menjadi salah satu jenis pendekatan dalam studi agama sejak konsepsi bias gender mulai sering dibahas dalam berbagai kajian keagamaan. Tentu ada banyak yang menentang, dari pihak laki-laki pun perempuan itu sendiri, karena konstruksi sosial ini sudah dikultuskan sejak dahulu kala. Alkudus seolah menghadirkan angin segar yang mendukung rekonstruksi pemaknaan atas gender (peran, relasi, posisi sosial dan lainnya), yang entah disadari oleh penulisnya atau tidak.

 

Tuhanmu tidak memandang kalian sebagai lelaki atau perempuan, kecuali sebagai manusia.” (Permulaan: 5)

 

 

Menyelesaikan Alkudus, pembaca akan disadarkan bahwa Alkudus tidak lahir karena obsesi penulis menjadi nabi apalagi untuk mengoreksi kitab-kitab yang sudah ada—seperti yang suka dicandakan pembacanya—melainkan hanyalah upaya Mas Asef dalam menginterpretasi realitas yang ada, terutama dalam relasi antar-manusia. Seandainya suatu saat nanti, ada umat beragama yang benar-benar protes akan kehadiran Alkudus, dapat dipastikan bahwa ia belum membaca.

Sebagaimana yang telah tertulis dalam Nabasy ayat 1 dan 2: “Tidaklah menjadi dosa bagimu memikirkan pikiran orang lain. Namun, sungguh itulah perbuatan yang sia-sia dan dapat menyusahkan dirimu sendiri.” Ada baiknya jika kita membaca Alkudus tanpa perlu memikirkan pikiran Mas Asef saat menulis buku ini. Entah apa pun tujuannya, cukup serap anjuran untuk berbuat kebaikan dan meninggalkan keburukan, lalu ceritakan kembali kisah-kisahnya, sebab segala cerita yang dibagikan adalah kebahagiaan meskipun kadang di dalamnya terdapat kesedihan. (Persebaran: 27)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *