Rabuku 03 Oktober 2018

Buku : The Smong Wave from Simeulue: Awakening and Changing

Pengulas : Maulina Muzirwan

 

Buku yang akan diulas dalam Rabuku malam ini berjudul The Smong Wave from Simeulue: Awakening and Changing. Penulisnya buku ini adalah Teuku Abdullah Sanny, yang juga merupakan dosen di ITB.

Buku setebal XXXII + 320 halaman ini sendiri diterbitkan oleh Pemerintah Kabupaten Simeulue, pada tahun 2007, kurang lebih tiga tahun setelah gempa dan tsunami melanda ujung barat Indonesia.

Menariknya, buku ini dilengkapi dengan terjemahan bahasa Inggris yang diposisikan berdampingan. Jadi bisa dikatakan buku ini cukup ramah bagi para pembaca asing yang ingin mengetahui lebih banyak tentang buku ini.

Buku ini sendiri, terdiri dari 6 bagian, ya kurang lebih seperti laporan penelitian lapangan lah. Ada bagian pendahuluan (pada buku ini disebut prologue), sejarah mengenai Kabupaten Simeulue, sistem peringatan dini tradisional, dan penutup.

Diantara teman-teman, sudah adakah yang sebelumnya mendengar atau mengetahui tentang Smong?

Smong itu merupakan istilah yang dipakai oleh masyarakat yang berada di Pulau Simeulue. Istilah ini dipergunakan untuk menggambarkan bahaya atau bencana lainnya berupa ombak besar yang naik ke daratan beberapa saat setelah gempa bumi mengguncang.

Smong kemudian dianggap menjadi sebuah sistem peringatan dini yang berakar pada kearifan lokal setempat (local wisdom).

Smong ini diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi selanjutnya melalui budaya tutur (nandong), terkadang menjadi nyanyian pengantar tidur anak-anak yang berada di Pulau Simeulue.

Nandong ini nggak hanya jadi nyanyian/syair pengantar tidur juga, tapi juga sebagai sebuah media penyampaian pesan/isyarat/pengetahuan/pencatatan sejarah/hiburan dll. Dan dengan adanya nandong ini, masyarakat yang berada di sana membangun ingatan kolektif, terutama dalam merespon bencana dan keadaan/fenomena alam.

Kok bisa sih ada ‘smong’ ini?

Di dalam buku ini juga diceritakan mengenai beberapa kejadian bencana gempa bumi yang diikuti oleh tsunami, sebelum tahun 2004. Dari pengalaman inilah kemudian para tetua/pendahulu masyarakat Simeulue meyakini bahwa tanah yang mereka tempati bukanlah wilayah yang aman dari bencana alam. Hal ini berdasarkan pengalaman mereka menghadapi beberapa bencana (tsunami) sebelumnya, yaitu pada tahun 1883 dan 1907. Pengalaman ini juga yang kemudian menjadikan masyarakat yang berada di Simeulue sadar bahwa bencana alam yang terjadi tidak mungkin dihindari, tetapi dapat diajak berteman/beradaptasi.

Para tetua/leluhur kemudian mewariskan cerita mengenai bagaimana smong terjadi dan gejala-gejala yang mendahuluinya kepada generasi sebelumnya melalui nandong tadi.

Itulah sebabnya mengapa ketika peristiwa tsunami pada tahun 2004, di Simeulue hanya terdapat 7 orang korban meninggal dunia. Dan hal ini menjadi sebuah keberhasilan dari budaya tutur yang diwariskan.

Bagaimana cara masyarakat mengumumkan ada Smong?

Kalau pas terjadinya, mereka saling berteriak ‘Smong.. Smong..’ untuk memperingatkan masyarakat lainnya agar segera mencari tempat yang tinggi karena gelombang pasang/tsunami akan segera terjadi. Dan masyarakat sudah paham kalau yang dimaksud dengan Smong ini adalah tsunami.

Berikut adalah penggalan syair yang telah menyelamatkan masyarakat di Pulau Simeulue selama bertahun-tahun:

Enggel mon sao surito (dengarlah suatu kisah)

Inang maso semonan (pada zaman dahulu kala)

Manoknop sao fano (tenggelam suatu desa)

Uwilah da sesewan (begitulah dituturkan)

Unen ne alek linon (gempa yang mengawali)

Fesang bakat ne mali (disusul ombak raksasa)

Manoknop sao hampong (tenggelam seluruh negeri)

Tobo- tibo maawi (secara tiba-tiba)

Angalinon ne mali (jika gempanya kuat)

Oek suruk sauli (disusul air yang surut)

Maheya mihawali (segeralah cari tempat)

Fano me senga tenggi (dataran tinggi agar selamat)

Ede smong kahanne (itulah smong namanya)

Turiang de nenekta (sejarah nenek moyang kita)

Miredem teher ere (ingatlah ini semua)

Pesan navi-navi da (pesan dan nasihatnya)

Smong dumek- dumekmo (tsunami air mandimu)

Linon uwak- uwakmo (gempa ayunanmu)

Elaik keudang- keudangmo (petir kendang- kendangmu)

Kilek suluh- suluhmo (halilintar lampu- lampumu)

 

Kelebihan buku/tulisan ini terdapat pada data yang dikumpulkan, langsung dari tangan pertama dan mewawancarai orang-orang yang berada disana.

Kekurangan tulisan ini antara lain: terlalu banyak informasi mengenai Pulau Simeulue itu sendiri dan tidak membahas smong secara mendalam, kecuali sebagai ingatan kolektif.

Untuk teman-teman yang tertarik dengan kearifan lokal, terutama yang berkaitan dengan bencana, buku ini direkomendasikan, karena tidak begitu banyak budaya/tradisi serupa yang tercatat serta dibukukan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *