Rabuku 26 September 2018

Buku : Madre

Penulis : Dee Lestari

Penerbit : Bentang Pustaka

Pengulas Rabuku : Rahmat Ridwan

 

“Apa rasanya sejarah hidup kita berubah dalam sehari? Darah saya mendadak seperempat Tionghoa, nenek saya ternyata tukang roti, dan dia, bersama kakek yang tidak saya kenal, mewariskan anggota keluarga yang tidak pernah saya tahu: Madre.”

Buku ini berisi 13 karya fiksi & prosa pendek. Ditulis dari tahun 2011-2017. Bukan cuma tema cinta-cintaan yang disuguhkan dalam antologi ini, melainkan berbagai tema lainnya; perjuangan sebuah toko roti yang mati suri, prosa kecil tentang dialog antara Ibu & janin yang masih di perut, kemerdekaan, dan prosa untuk persahabatan.

Madre.

Dimulai dari tokoh utama bernama Tansen; kulitnya hitam menggelap, hidungnya panjang, rambutnya kribo, terlihat kumel & dekil. Tercetak jejak Tionghoa & keturunan India. Nama panjangnya Tansen Roy Wuisan.

Disini diceritakan mamanya Tansen meninggal setelah melahirkan Tansen. Disini nggak diceritakan ayahnya Tansen dimana keberadaannnya. Cuma tertulis kalau Tansen dilepas begitu saja sama Ayahnya. Sejak remaja ia hidup di Bali sendirian. Di Bali ia kerja serabutan, freelancer, tour guide, ngajar surfing, dll.

Tansen mendatangi makam kakeknya yang belum pernah bertemu sebelumnya. Sepeninggalan dulu, kakek & rekan2 kerjanya mempunyai sebuah toko roti bernama “Tan de Bakker”. Kakeknya menghibahkan kepada Tansen adonan roti bernama “Madre”.   Tan de Bakker bangkrut & mati suri selama 5 tahun terakhir.

Nah setelah dari pemakaman Tansen pergi ke tempat toko kue Tan de Bakker dulu. Karena bangkrut, tempat itu ditinggali oleh karyawan Tan De bakker, Pak Hadi. Kata “Madre” sendiri berasal dari bahasa spanyol yg berarti “Ibu”, Sang Adonan Biang. Tansen bingung, ia belum pernah ketemu Sang Kakek, kenapa cuma adonan biang gitu doang jadi warisan buat dia? Kakek Tan bilang kalau Madre mesti dirawat orang Muda yang semangatnya baru, orang yang ga sembarangan, yang memang punya hubungan langsung sama Madre. Beberapa hari tinggal di tempat itu bersama Pak Hadi, Tansen diajarkan untuk membuat adonan roti dari Madre.

Yang menarik disini adalah hobi Tansen menulis di blog pribadinya, menceritakan pengalaman hidupnya apa saja. Sampai kali ini ia bercerita tentang Madre. Ternyata ada perempuan yang selalu membaca blog Tansen, ia bernama Mei Tanuwidjaja, seorang pendiri toko kue bernama  Fairy Bread. Setelah membaca blog tentang Madre, Mei ingin mencoba mencicipi roti dengan adonan Madre.

Singkat cerita Mei datang ke toko Tan de bakker, mencicipi rotinya, dan ia berniat membeli resep Madre dengan penukaran cek sebesar 100juta. Tansen tergiur dengan tawaran uang itu, ia merasa toh juga Tansen ngga punya latar belakang membuat roti, ia merasa bahwa mungkin Madre bisa berkembang ketangan yang tepat.

Pak Hadi melarang, tapi ia tak punya hak apa2, karena Madre sendiri sekarang sudah menjadi milik Tansen.

Sehari sebelum ‘pelepasan’ Madre ke tangan Mei, Pak Hadi mengundang rekan2 kerjanya dulu ke toko Tan de bakker yakni 3 nenek tua (Bu Sum, Tari, Dedeh) & 1 kakek (Pak Joko).

Ketika semuanya kembali berkumpul untuk ‘berpamitan’ dengan Madre, Tansen merasa bahwa ternyata Madre bukan sekadar adonan biang roti, Madre bukan hanya miliknya/Pak Hadi, Madre sudah menjadi keluarga utk mereka, menjadi ‘makluk’ yg berharga buat mereka.

Akhirnya Tansen berubah pikiran, dia tak jadi menjual adonan Madre kepada Mei, melainkan Tansen & Mei bekerja sama membangun & menghidupkan kembali Tan De bakker yang telah lama mati suri.

Dari sinilah awal mula ‘cinta-cintaan’ Tansen & Mei berjalan. Tapi disini nggak dijelasin secara intim tentang asmara mereka. Dan akhirnya mereka mengubah nama toko roti tersebut menjadi Tansen De Bakker.

Madre sudah dijadikan film, di rilis tanggal 28 Maret 2013. Dalam film tersebut, yang diangkat cuma cerpen Madre, cerpen2/prosa lainnya nggak diangkat.

Pemeran Film Madre

Vino G Bastian = Tansen

Laura Basuki = Mei

Pak Hadi = Alm. Didi Petet

Cerita Lainnya

Rimba Amniotik. “Terima kasih telah mengandungku; menempatkanku dalam rimba amniotik dimana aku belajar ulang untuk mengapung bersama hidup, untuk berserah & menerima apapun yg kau persembahkan. Kini & nanti. Manis, pahit, sakit senang, kauajari aku untuk bersenang bersama itu semua———

Terima kasih untuk perjalananmu ini. Untuk pilihanmu datang melalui aku. Untuk proses yg tak selalu mudah, tetapi selalu indah”

Prosa lainnya: Perempuan & Rahasia, Ingatan Tentang Kalian (ini prosa tentang persahabatan itu), Wajah Telaga, Tanyaku Pada Bambu, Percakapan di Sebuah Jembatan (Yg ini prosa teruntuk Pahlawan yg berani mempertanyakan makna kemerdekaan & berjuang demi secercah harapan) & Barangkali Cinta

Tiga cerita pendek lainnya berjudul: Semangkok Acar Untuk Cinta & Tuhan, Have You Ever?, & Layang-layang

Semangkok Acar Untuk Cinta & Tuhan diceritakan saat Mba Dee sedang makan siang, ada seorang wartawan yg menghampirinya & bertanya. “Apa itu cinta? Apa itu Tuhan?”

Mba D nggak langsung menjawab, ia ingin menjawab bukan dengan kalimat/penjelasan yang terlontar dari mulutnya, melainkan dari  pembuktian. Dan mba D nggak mau membuktikannya sendiri, ia ingin membuktikannya bersama wartawan tersebut. Tersedia semangkok acar di atas meja, diambilnya 1 bawang merah. Dan menyuruh si wartawan juga mengambilnya. Mengupasnya bersama2 sampai bawang merah itu habis.

Setelah bawang merah itu terkupas habis, mata mereka terpejam-terbuka, bercucuran air.

Dan diucapkannya “Inilah cinta. Inilah Tuhan. Tangan kita bau menyengat, mata kita perih seperti disengat, dan tetap kita tidak menggenggam apa-apa. Itulah Cinta. Itulah Tuhan. Pengalaman, bukan penjelasan. Perjalanan, bukan tujuan. Pertanyaan, yang sungguh tidak berjodoh dengan segala jawaban.”

Artikel tentang Cinta & Tuhan itu akhirnya diterbitkan oleh wartawan itu. Tanpa baris2 kalimat. Hanya gambar besar semangkuk acar bawang.

Cerita itu membuat aku merenung bahwa ternyata penjabaran tentang cinta & Tuhan tidaklah rumit. Sangat sederhana.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *