Yanuardhi : Malam ini kita akan diskusi tentang film “TILIK” yang lagi viral. Bagi saya, yang menarik di film TILIK adalah cara penyampaian pesannya lewat dialog dialog yang realis dengan penggunaan bahasa Jawa. Kesannya jadi sangat dekat dengan kehidupan kita. Hal ini menjadi saling terkait dengan stereotipe yang ada di masyarakat kita. Film ini didominasi oleh karakter perempuan (emak emak) dan dialognya juga khas ibu ibu. Untuk penonton yang jarang menonton film pendek juga mudah dicerna. Sebelum lebih lanjut saya ingin tahu tanggapan teman teman tentang film ini. Terutama untuk yang sudah selesai menonton. Pertama, dari mana tahu film “Tilik”? Kedua, apa yang mendorong teman teman untuk menonton? Ketiga, Bagaimana kesan pertama saat selesai menonton?

Nova : Pertama, tahu film ini dari medsos. Di beberapa grup whatsApp teman teman juga rame membahas sosok Bu Tedjo, lalu saya jadi penasaran untuk menonton. Mungkin pertanyaan kedua sudah terjawab ya. Kalau kesan, pertama selain adegan terakhir yang menurutku tidak perlu dijelaskan, sewaktu lihat kredit ternyata ada beberapa nama yang dulu sempat kenalan di warkop waktu zaman masih jadi anak nongkrong. Mas Antok, DoPnya malahan sering saya ajak diskusi.

Ri: Saya tahu film ini dari story teman-teman, karena penasaran akhirnya menonton. Kesan saat nonton salut sih, gimana pembuatnya bisa mengemas aktifitas sederhana menjadi sesuatu yang menarik. Tapi saya pribadi agak kurang suka dengan adegan terakhir.

Nisfi: Pertama, tahu film ini karena nemu di beranda youtube. Kedua, yang mendorong nonton film ini karena lagi viral, jadinya ikut penasaran. Ketiga, kesan saat selesai nonton, biasa saja kak, mungkin karena cerita tilik ini merefleksikan kehidupan sehari-hari masyarakat. Bagaimana pedasnya ibu ibu ghibah dan di tempat aku kalau ada orang sakit, warga jenguknya selalu bareng bareng pake truk. Jadi viral, mungkin karena “tilik” ini seperti film biografi atas karakter masyarakat kita.

Dhiajeng: Pertama kali nonton karena rame di twitter. Kesannya, film ini rasanya sangat dekat dengan kehidupan sekitar saya. Kebetulan saya tinggal di pedesaan yang kalau menjenguk orang sakit, perginya rombongan pakai truk atau mobil pick up. Selain itu, yang paling dekat adalah bagaimana film Tilik ini memperlihatkan pada saya bahwa memang seperti ini kehidupan desa, tentang ibu ibu yang ngerumpiin orang, tentang pandangan perempuan yg ‘berumur’ tapi belum juga menikah. Hal hal yang sebenarnya dekat banget di sekitar dan banyak ditemukan. Rasanya semua daerah tempat tinggal pasti ada yang menjadi seperti sosok Bu Tedjo dan Dian.

Yanuar : Iya, detailnya aku juga merasa dekat banget, apalagi penggunaan bahasa jawanya yang lanyah banget. Jadi penasaran sama kesan teman teman yang tidak bisa berbahasa jawa waktu nonton TILIK.

Ardhi: aku senang saja setiap film pendek atau bentuk apapun dari kesenian, dirayakan seramai saat ini

Yudhit: Pertama, tahu film ini dari mana? Dulu pernah tayang di festival film JAFF antara 2018 dan 2019 tapi tidak sempat menonton. Kedua, yang mendorong teman teman untuk nonton film ini? Dipaksa Purma. Ketiga, kesan pertama saat selesai menonton, Filmnya bagus, kritik sosial yang diambil sangat “halus”, akting-akting dari para tokohnya menurut saya yang orang desa sudah benar-benar seperti rekaan kejadian kalau ikut tilik beneran. Untuk kasih kesan naturalnya, si penulis juga tidak lupa untuk kasih detail kecil seperti ketika ada ibu-ibu yang mabuk dan setelah mabok tetep akting lemes. Detail kecil seperti itu menurutku sangat penting untuk memperkuat cerita. Kalau sisi nilai moral, karena endingnyaseperti itu, jadi agak susah untuk dinilai secara hitam putih atau benar salahnya. Sebagai perbandingan mungkin teman-teman bisa menonton film pendek berjudul “Nyumbang” dari Montase Studio yang juga bisa diakses lewat youtube. “Nyumbang”, menurutku lebih gamblang menunjukkan mana sisi benar dan mana yg salah, yang akhirnya mungkin menjadi kurang menarik untuk jadi bahan diskusi dan efeknya tidak seperti “Tilik” yang bisa ada tim pro dan kontranya

Purma: Apakah menurut kalian apa yang ditampilkan di TILIK itu realita ibu-ibu di desa atau sebenarnya hanya imaji kita soal ibu-ibu di desa?

Diajeng: Kalo di tempat saya, ibu ibu PKK-nya memang seperti itu, ada yang pedas, ada yang cuma dengerin, ada yg bijak.

Yanuar: Kemungkinan besar yang bikin rame di dunia maya adalah tentang sudut pandang terkait gender ya. Jadi, film ini berusaha menangkap realita di kalangan ibu ibu (pergunjingan, moralitas, pembawaan dll). Hal itu disampaikan lewat dialog tokoh antagonis yang apik. Tapi kebanyakan orang yang mengkritik film ini melihat bahwa film ini justru melanggengkan stereotipe negatif masyarakat terhadap perempuan. Di sini yg paling menonjol adalah kritik ending filmnya, karena pada akhirnya si antagonis menang dan jadi semacem bukti untuk pembenaran stereotipe tsb. Sebenernya menarik terkait bagaimana sebuah film menjadi perbincangan dan akhirnya sukses mendapat perhatian. Secara garis besar film itu menampilkan realita ibu ibu, tapi menurutku stereotip tentang Dian-nya yang bermasalah. Karena konflik di film ini muncul sejak awal. Dari awal Bu Tejo udah mencoba menyerang dan satu lawan banyak tetap tidak seimbang. Tapi, justru ketika Dian ditampilkan malah mengafirmasi stereotipe kita terhadap “perempuan tidak bener”

Tapi, apakah film ini memang layak mendapat perhatian?

Apakah memang berkualitas? Bisa jadi, kedepannya hal ini menjadi strategi mendobrak pasar. Buat film yang akan jadi kontrofersi biar sukses dapat banyak penonton. Padahal bisa saja kualitasnya amburadul. Apakah viralnya TILIK gara gara menyinggung tentang feminisme? Atau memang ini cerminan masyarakat kita yang suka rebut ribut saja? Terutama berkaitan dengan wacana wacana baru, masyarakat masih gagap. Apalagi kalo menyinggung dunia hiburan, banyak masyarakat yang maunya terhibur saja.

Ardhi: Menurutku, jadi penting mengetahui bagaimana film pendek yang di beberapa kondisi hanya berputar di itu-itu saja, bisa dinikmati masyarakat luas. Bukannya baru, memang sebanyak apa film-film seperti Tilik bisa dan dapat diperhatikan masyarakat lebih luas. festival film yang datang juga itu-itu terus.

Yanuardhi : Waktu kak Yudit bilang banyak film pendek yang luar biasa aku saja tidak menyangka. Katanya sih film pendek Indonesia banyak yang keren keren dan tidak dapat perhatian. Dan kayaknya memang terlalu kerdil kalau mengukur kesuksesan film hanya dari jumlah penontonnya. Tapi bagaimana caranya mendapat perhatian khalayak ramai kalau resiko wacana perfilman masih amburadul, terutama masih banyak penonton yang tidak mau tau masalah kualitas, tapi maunya dihibur saja.

Ardhi : aku kurang setuju perkara “masalah kualitas”. Tentu saja ini penilaian personal, tapi menurutku soal “kualitas” bukan jadi alasan untuk tidak “menghibur”, begitu juga sebaliknya.

Yanu : Tarik ulur antara kualitas dan target penonton selalu dilematis ya. Tapi, yang nyebelin banyak yang nyinyir “terlalu berat” dll tapi, tidak dengan kritik yang memadahi. Masalahnya ada di budaya kritik/kripi. hehe

Yudi: Sebenarnya sudah banyak platform yang mudah kita akses dan gratis untuk bisa menikmati film film pendek di youtube contohnya ada vidsee. Selain itu dulu sebelum corona, cukup rutin juga pemutaran film gratis dan berbayar terjangkau yang paling tidak sebulan dua kali bisa di akses masyarakat luas, dulu ada Klub Diy Menonton (KDM) sama JAFF movie night yang putar film di luar acara festival, hanya saja mungkin minat tonton dari orang-orang yang belum besar, terus kendala lain kenapa film pendek atau film indie masih sepi itu karena banyak penonton yang menganggap film indie itu kurang seru, yang kalau sepengamatanku karena ketika mereka duduk dan menonton film film jenis festival seperti ini mereka sudah bawa standar sendiri, yaitu film film komersil yang memang dibuat untuk menyenangkan penonton dan bukan malah membuka ruang diskusi atau mengajak berpusing ria memikirkan topik topik tertentu. Kendala lain, karena kadang kritik dalam film ini terlalu “vulgar” maka penayangannya atau publikasinya jadi terbatas, menghindari digropyok polisi. Beberapa contoh seperti Kucumbu Tubuh Indahku, sama Istirahatlah kata-kata, itu juga kudengar sempat ada pelarangan tayang.

Diajeng : Dan mungkin juga karena film indie kebanyakan mengangkat isu sosial dan budaya juga. Yang tidak semua kalangan suka dengan itu.

Yanuar : Ya, betul. Kadang terkendala sensor yag terlalu moralis. Jadi, penonton susah diedukasi

Ardhi : Atau sineasnya yang terjebak sama “film semakin sulit dimengerti semakin bagus”. Makanya aku jadi penasaran bagaimana Tilik bisa mendapat perhatian lebih, sebagai film yang berlapis, menurutku. Seorang yang mencari hiburan bisa menikmatinya. Yang mencari hiburan dengan hal-hal eksotis seperti Bahasa Jawa bisa menikmatinya. Yang mencari hal-hal seru seperti membawa perdebatan feminisme ke ranah publik juga bisa menikmatinya. Yang paling utama, tentu orang-orang yang jarang menonton film pendek dari rumah produksi indie, jadi ikut menonton dan membicarakannya. Menurutku itu keren banget, terlepas dari kualitas filmnya.

Yanu : Dialog bahasa jawanya manteb sih pak. Memang film yang realis campur komikal begini enak banget ditonton. Mungkin bisa jadi strategi juga masukin wacana wacana sensitif kedepannya.

Yudhit: Aku malah curiga sama algoritma youtube. Faktor teknis yang bisa membuat suatu video mendadak viral, contoh kasusnya yang bahkan diakui sama kreatornya itu ya boomingnya musisi Boy Pablo, yang dalam suatu wawancara dia bilang kalau salah satu yang membuat dia terkenal seperti ini karena algoritma youtube,

Ardhi : Tapi film-film pendek mainnya di vidsee, tetap terkubur jauh dari algoritma yutub.

Yudhit : Mungkin, mulai corona ini banyak creator kreator film yang mulai upload secara mandiri film mereka lewat channelnya masing masing seperti Wregas kemarin, Lalu disusul kebonstudio, montase, juga ravacana dan tanggapan dari masyarakat juga bagus. Tapi balik itu tadi, aku tidak tahu itu akan berpengaruh atau tidak, tapi menurutku algoritma youtube hanya salah satu faktor, viralnya mungkin juga terdukung dengan timing yang tepat juga, sama kemampuan sosial media menghantarkan rasa penasaran ke orang orang yang akhirnya jadi tertarik untuk menonton.

Yanu : Nah, aku penasaraan sama alogaritma semacam ini. Selain itu dinamika perdebatan di sosmed juga punya pengaruh besar. Kalau lihat analisis drone emprit kelihatan yang cepet viral biasanya dominan yang lucu lucu.

Ardhi : Bahasa Jawa di tilik beda warna dengan daerahku soalnya, coba film pembandingnya yang berjudul “Ing Tutur”. Settingannya Bantul mantul. Btw, Parasite juga film festival dan dia menghibur juga.

Yanuar: Atau memang kualitas “TILIK” memang memadahi untuk mendapat perhatian yang positif?

Ardhi setiawan: Aku kurang tahu kalau ini, aku lebih penasaran “mengapa Tilik dapat sorot segedhe ini?”. Akan bagus sekali jika ekosistem yang ramai dalam membicarakan film pendek, jadi ramai dan bertahan dalam waktu lama.

Sekian. Salam Literasi!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *