#SeninMovie – Tilik(2018)

Judul : Senin movie – Tilik (2018).

Pemantik : Yanuardi dan Yudit

Tanggal : 24 Agustus 2020

Tempat : Grup WA internal

Yanuardhi : Halo. Malam ini kita akan diskusi tentang film “TILIK” yang lagi viral. Bagi saya, yang menarik di film TILIK adalah cara penyampaian pesannya lewat dialog dialog yang realis dengan penggunaan bahasa Jawa. Kesannya jadi sangat dekat dengan kehidupan kita. Hal ini menjadi saling terkait dengan stereotipe yang ada di masyarakat kita. Film ini didominasi oleh karakter perempuan (emak emak) dan dialognya juga khas ibu ibu. Untuk penonton yang jarang menonton film pendek juga mudah dicerna. Sebelum lebih lanjut saya ingin tahu tanggapan teman teman tentang film ini. Terutama untuk yang sudah selesai menonton. Pertama, dari mana tahu film “Tilik”? Kedua, apa yang mendorong teman teman untuk menonton? Ketiga, Bagaimana kesan pertama saat selesai menonton?

Nova : Pertama, tahu film ini dari medsos. Di beberapa grup whatsApp teman teman juga rame membahas sosok Bu Tedjo, lalu saya jadi penasaran untuk menonton. Mungkin pertanyaan kedua sudah terjawab ya. Kalau kesan, pertama selain adegan terakhir yang menurutku tidak perlu dijelaskan, sewaktu lihat kredit ternyata ada beberapa nama yang dulu sempat kenalan di warkop waktu zaman masih jadi anak nongkrong. Mas Antok, DoPnya malahan sering saya ajak diskusi.

Ri: Saya tahu film ini dari story teman-teman, karena penasaran akhirnya menonton. Kesan saat nonton salut sih, gimana pembuatnya bisa mengemas aktifitas sederhana menjadi sesuatu yang menarik. Tapi saya pribadi agak kurang suka dengan adegan terakhir.

Nisfi: Pertama, tahu film ini karena nemu di beranda youtube. Kedua, yang mendorong nonton film ini karena lagi viral, jadinya ikut penasaran. Ketiga, kesan saat selesai nonton, biasa saja kak, mungkin karena cerita tilik ini merefleksikan kehidupan sehari-hari masyarakat. Bagaimana pedasnya ibu ibu ghibah dan di tempat aku kalau ada orang sakit, warga jenguknya selalu bareng bareng pake truk. Jadi viral, mungkin karena “tilik” ini seperti film biografi atas karakter masyarakat kita.

Dhiajeng: Pertama kali nonton karena rame di twitter. Kesannya, film ini rasanya sangat dekat dengan kehidupan sekitar saya. Kebetulan saya tinggal di pedesaan yang kalau menjenguk orang sakit, perginya rombongan pakai truk atau mobil pick up. Selain itu, yang paling dekat adalah bagaimana film Tilik ini memperlihatkan pada saya bahwa memang seperti ini kehidupan desa, tentang ibu ibu yang ngerumpiin orang, tentang pandangan perempuan yg ‘berumur’ tapi belum juga menikah. Hal hal yang sebenarnya dekat banget di sekitar dan banyak ditemukan. Rasanya semua daerah tempat tinggal pasti ada yang menjadi seperti sosok Bu Tedjo dan Dian.

Yanuar : Iya, detailnya aku juga merasa dekat banget, apalagi penggunaan bahasa jawanya yang lanyah banget. Jadi penasaran sama kesan teman teman yang tidak bisa berbahasa jawa waktu nonton TILIK.

Ardhi: aku senang saja setiap film pendek atau bentuk apapun dari kesenian, dirayakan seramai saat ini

Yudhit: Pertama, tahu film ini dari mana? Dulu pernah tayang di festival film JAFF antara 2018 dan 2019 tapi tidak sempat menonton. Kedua, yang mendorong teman teman untuk nonton film ini? Dipaksa Purma. Ketiga, kesan pertama saat selesai menonton, Filmnya bagus, kritik sosial yang diambil sangat “halus”, akting-akting dari para tokohnya menurut saya yang orang desa sudah benar-benar seperti rekaan kejadian kalau ikut tilik beneran. Untuk kasih kesan naturalnya, si penulis juga tidak lupa untuk kasih detail kecil seperti ketika ada ibu-ibu yang mabuk dan setelah mabok tetep akting lemes. Detail kecil seperti itu menurutku sangat penting untuk memperkuat cerita. Kalau sisi nilai moral, karena endingnyaseperti itu, jadi agak susah untuk dinilai secara hitam putih atau benar salahnya. Sebagai perbandingan mungkin teman-teman bisa menonton film pendek berjudul “Nyumbang” dari Montase Studio yang juga bisa diakses lewat youtube. “Nyumbang”, menurutku lebih gamblang menunjukkan mana sisi benar dan mana yg salah, yang akhirnya mungkin menjadi kurang menarik untuk jadi bahan diskusi dan efeknya tidak seperti “Tilik” yang bisa ada tim pro dan kontranya

Purma: Apakah menurut kalian apa yang ditampilkan di TILIK itu realita ibu-ibu di desa atau sebenarnya hanya imaji kita soal ibu-ibu di desa?

Diajeng: Kalo di tempat saya, ibu ibu PKK-nya memang seperti itu, ada yang pedas, ada yang cuma dengerin, ada yg bijak.

Yanuar: Kemungkinan besar yang bikin rame di dunia maya adalah tentang sudut pandang terkait gender ya. Jadi, film ini berusaha menangkap realita di kalangan ibu ibu (pergunjingan, moralitas, pembawaan dll). Hal itu disampaikan lewat dialog tokoh antagonis yang apik. Tapi kebanyakan orang yang mengkritik film ini melihat bahwa film ini justru melanggengkan stereotipe negatif masyarakat terhadap perempuan. Di sini yg paling menonjol adalah kritik ending filmnya, karena pada akhirnya si antagonis menang dan jadi semacem bukti untuk pembenaran stereotipe tsb. Sebenernya menarik terkait bagaimana sebuah film menjadi perbincangan dan akhirnya sukses mendapat perhatian. Secara garis besar film itu menampilkan realita ibu ibu, tapi menurutku stereotip tentang Dian-nya yang bermasalah. Karena konflik di film ini muncul sejak awal. Dari awal Bu Tejo udah mencoba menyerang dan satu lawan banyak tetap tidak seimbang. Tapi, justru ketika Dian ditampilkan malah mengafirmasi stereotipe kita terhadap “perempuan tidak bener”

Tapi, apakah film ini memang layak mendapat perhatian?

Apakah memang berkualitas? Bisa jadi, kedepannya hal ini menjadi strategi mendobrak pasar. Buat film yang akan jadi kontrofersi biar sukses dapat banyak penonton. Padahal bisa saja kualitasnya amburadul. Apakah viralnya TILIK gara gara menyinggung tentang feminisme? Atau memang ini cerminan masyarakat kita yang suka rebut ribut saja? Terutama berkaitan dengan wacana wacana baru, masyarakat masih gagap. Apalagi kalo menyinggung dunia hiburan, banyak masyarakat yang maunya terhibur saja.

Ardhi: Menurutku, jadi penting mengetahui bagaimana film pendek yang di beberapa kondisi hanya berputar di itu-itu saja, bisa dinikmati masyarakat luas. Bukannya baru, memang sebanyak apa film-film seperti Tilik bisa dan dapat diperhatikan masyarakat lebih luas. festival film yang datang juga itu-itu terus.

Yanuardhi : Waktu kak Yudit bilang banyak film pendek yang luar biasa aku saja tidak menyangka. Katanya sih film pendek Indonesia banyak yang keren keren dan tidak dapat perhatian. Dan kayaknya memang terlalu kerdil kalau mengukur kesuksesan film hanya dari jumlah penontonnya. Tapi bagaimana caranya mendapat perhatian khalayak ramai kalau resiko wacana perfilman masih amburadul, terutama masih banyak penonton yang tidak mau tau masalah kualitas, tapi maunya dihibur saja.

Ardhi : aku kurang setuju perkara “masalah kualitas”. Tentu saja ini penilaian personal, tapi menurutku soal “kualitas” bukan jadi alasan untuk tidak “menghibur”, begitu juga sebaliknya.

Yanu : Tarik ulur antara kualitas dan target penonton selalu dilematis ya. Tapi, yang nyebelin banyak yang nyinyir “terlalu berat” dll tapi, tidak dengan kritik yang memadahi. Masalahnya ada di budaya kritik/kripi. hehe

Yudi: Sebenarnya sudah banyak platform yang mudah kita akses dan gratis untuk bisa menikmati film film pendek di youtube contohnya ada vidsee. Selain itu dulu sebelum corona, cukup rutin juga pemutaran film gratis dan berbayar terjangkau yang paling tidak sebulan dua kali bisa di akses masyarakat luas, dulu ada Klub Diy Menonton (KDM) sama JAFF movie night yang putar film di luar acara festival, hanya saja mungkin minat tonton dari orang-orang yang belum besar, terus kendala lain kenapa film pendek atau film indie masih sepi itu karena banyak penonton yang menganggap film indie itu kurang seru, yang kalau sepengamatanku karena ketika mereka duduk dan menonton film film jenis festival seperti ini mereka sudah bawa  standar sendiri, yaitu film film komersil yang memang dibuat untuk menyenangkan penonton dan bukan malah membuka ruang diskusi atau mengajak berpusing ria memikirkan topik topik tertentu. Kendala lain, karena kadang kritik dalam film ini terlalu “vulgar” maka penayangannya atau publikasinya jadi terbatas, menghindari digropyok polisi. Beberapa contoh seperti Kucumbu Tubuh Indahku, sama Istirahatlah kata-kata, itu juga kudengar sempat ada pelarangan tayang.

Diajeng : Dan mungkin juga karena film indie kebanyakan mengangkat isu sosial dan budaya juga. Yang tidak semua kalangan suka dengan itu.

Yanuar : Ya, betul. Kadang terkendala sensor yag terlalu moralis. Jadi, penonton susah diedukasi

Ardhi : Atau sineasnya yang terjebak sama “film semakin sulit dimengerti semakin bagus”. Makanya aku jadi penasaran bagaimana Tilik bisa mendapat perhatian lebih, sebagai film yang berlapis, menurutku. Seorang yang mencari hiburan bisa menikmatinya. Yang mencari hiburan dengan hal-hal eksotis seperti Bahasa Jawa bisa menikmatinya. Yang mencari hal-hal seru seperti membawa perdebatan feminisme ke ranah publik juga bisa menikmatinya. Yang paling utama, tentu orang-orang yang jarang menonton film pendek dari rumah produksi indie, jadi ikut menonton dan membicarakannya. Menurutku itu keren banget, terlepas dari kualitas filmnya.

Yanu : Dialog bahasa jawanya manteb sih pak. Memang film yang realis campur komikal begini enak banget ditonton. Mungkin bisa jadi strategi juga masukin wacana wacana sensitif kedepannya.

Yudhit: Aku malah curiga sama algoritma youtube. Faktor teknis yang bisa membuat suatu video mendadak viral, contoh kasusnya yang bahkan diakui sama kreatornya itu ya boomingnya musisi Boy Pablo, yang dalam suatu wawancara dia bilang kalau salah satu yang membuat dia terkenal seperti ini karena algoritma youtube,

Ardhi : Tapi film-film pendek mainnya di vidsee, tetap terkubur jauh dari algoritma yutub.

Yudhit : Mungkin, mulai corona ini banyak creator kreator film yang mulai upload secara mandiri film mereka lewat channelnya masing masing seperti Wregas kemarin, Lalu disusul kebonstudio, montase, juga ravacana dan tanggapan dari masyarakat juga bagus. Tapi balik itu tadi, aku tidak tahu itu akan berpengaruh atau tidak, tapi menurutku algoritma youtube hanya salah satu faktor, viralnya mungkin juga terdukung dengan timing yang tepat juga, sama kemampuan sosial media menghantarkan rasa penasaran ke orang orang yang akhirnya jadi tertarik untuk menonton.

Yanu : Nah, aku penasaraan sama alogaritma semacam ini. Selain itu dinamika perdebatan di sosmed juga punya pengaruh besar. Kalau lihat analisis drone emprit kelihatan yang cepet viral biasanya dominan yang lucu lucu.

Ardhi : Bahasa Jawa di tilik beda warna dengan daerahku soalnya, coba film pembandingnya yang berjudul “Ing Tutur”. Settingannya Bantul mantulBtw, Parasite juga film festival dan dia menghibur juga.

Yanuar: Atau memang kualitas “TILIK” memang memadahi untuk mendapat perhatian yang positif?

Ardhi setiawan: Aku kurang tahu kalau ini, aku lebih penasaran “mengapa Tilik dapat sorot segedhe ini?”. Akan bagus sekali jika ekosistem yang ramai dalam membicarakan film pendek, jadi ramai dan bertahan dalam waktu lama.

Sekian. Salam Literasi!

#SeninMovie – Tilik (2018)

 

Judul : Tilik (2018)

Pemantik : Yanuardhi dan Yudit

Tanggal : 24 Agustus 2020

Tempat : Group Internal

 

Yanuardhi : Malam ini kita akan diskusi tentang film “TILIK” yang lagi viral. Bagi saya, yang menarik di film TILIK adalah cara penyampaian pesannya lewat dialog dialog yang realis dengan penggunaan bahasa Jawa. Kesannya jadi sangat dekat dengan kehidupan kita. Hal ini menjadi saling terkait dengan stereotipe yang ada di masyarakat kita. Film ini didominasi oleh karakter perempuan (emak emak) dan dialognya juga khas ibu ibu. Untuk penonton yang jarang menonton film pendek juga mudah dicerna. Sebelum lebih lanjut saya ingin tahu tanggapan teman teman tentang film ini. Terutama untuk yang sudah selesai menonton. Pertama, dari mana tahu film “Tilik”? Kedua, apa yang mendorong teman teman untuk menonton? Ketiga, Bagaimana kesan pertama saat selesai menonton?

Nova : Pertama, tahu film ini dari medsos. Di beberapa grup whatsApp teman teman juga rame membahas sosok Bu Tedjo, lalu saya jadi penasaran untuk menonton. Mungkin pertanyaan kedua sudah terjawab ya. Kalau kesan, pertama selain adegan terakhir yang menurutku tidak perlu dijelaskan, sewaktu lihat kredit ternyata ada beberapa nama yang dulu sempat kenalan di warkop waktu zaman masih jadi anak nongkrong. Mas Antok, DoPnya malahan sering saya ajak diskusi.

Ri: Saya tahu film ini dari story teman-teman, karena penasaran akhirnya menonton. Kesan saat nonton salut sih, gimana pembuatnya bisa mengemas aktifitas sederhana menjadi sesuatu yang menarik. Tapi saya pribadi agak kurang suka dengan adegan terakhir.

Nisfi: Pertama, tahu film ini karena nemu di beranda youtube. Kedua, yang mendorong nonton film ini karena lagi viral, jadinya ikut penasaran. Ketiga, kesan saat selesai nonton, biasa saja kak, mungkin karena cerita tilik ini merefleksikan kehidupan sehari-hari masyarakat. Bagaimana pedasnya ibu ibu ghibah dan di tempat aku kalau ada orang sakit, warga jenguknya selalu bareng bareng pake truk. Jadi viral, mungkin karena “tilik” ini seperti film biografi atas karakter masyarakat kita.

Dhiajeng: Pertama kali nonton karena rame di twitter. Kesannya, film ini rasanya sangat dekat dengan kehidupan sekitar saya. Kebetulan saya tinggal di pedesaan yang kalau menjenguk orang sakit, perginya rombongan pakai truk atau mobil pick up. Selain itu, yang paling dekat adalah bagaimana film Tilik ini memperlihatkan pada saya bahwa memang seperti ini kehidupan desa, tentang ibu ibu yang ngerumpiin orang, tentang pandangan perempuan yg ‘berumur’ tapi belum juga menikah. Hal hal yang sebenarnya dekat banget di sekitar dan banyak ditemukan. Rasanya semua daerah tempat tinggal pasti ada yang menjadi seperti sosok Bu Tedjo dan Dian.

Yanuar : Iya, detailnya aku juga merasa dekat banget, apalagi penggunaan bahasa jawanya yang lanyah banget. Jadi penasaran sama kesan teman teman yang tidak bisa berbahasa jawa waktu nonton TILIK.

Ardhi: aku senang saja setiap film pendek atau bentuk apapun dari kesenian, dirayakan seramai saat ini

Yudhit: Pertama, tahu film ini dari mana? Dulu pernah tayang di festival film JAFF antara 2018 dan 2019 tapi tidak sempat menonton. Kedua, yang mendorong teman teman untuk nonton film ini? Dipaksa Purma. Ketiga, kesan pertama saat selesai menonton, Filmnya bagus, kritik sosial yang diambil sangat “halus”, akting-akting dari para tokohnya menurut saya yang orang desa sudah benar-benar seperti rekaan kejadian kalau ikut tilik beneran. Untuk kasih kesan naturalnya, si penulis juga tidak lupa untuk kasih detail kecil seperti ketika ada ibu-ibu yang mabuk dan setelah mabok tetep akting lemes. Detail kecil seperti itu menurutku sangat penting untuk memperkuat cerita. Kalau sisi nilai moral, karena endingnyaseperti itu, jadi agak susah untuk dinilai secara hitam putih atau benar salahnya. Sebagai perbandingan mungkin teman-teman bisa menonton film pendek berjudul “Nyumbang” dari Montase Studio yang juga bisa diakses lewat youtube. “Nyumbang”, menurutku lebih gamblang menunjukkan mana sisi benar dan mana yg salah, yang akhirnya mungkin menjadi kurang menarik untuk jadi bahan diskusi dan efeknya tidak seperti “Tilik” yang bisa ada tim pro dan kontranya

Purma: Apakah menurut kalian apa yang ditampilkan di TILIK itu realita ibu-ibu di desa atau sebenarnya hanya imaji kita soal ibu-ibu di desa?

Diajeng: Kalo di tempat saya, ibu ibu PKK-nya memang seperti itu, ada yang pedas, ada yang cuma dengerin, ada yg bijak.

Yanuar: Kemungkinan besar yang bikin rame di dunia maya adalah tentang sudut pandang terkait gender ya. Jadi, film ini berusaha menangkap realita di kalangan ibu ibu (pergunjingan, moralitas, pembawaan dll). Hal itu disampaikan lewat dialog tokoh antagonis yang apik. Tapi kebanyakan orang yang mengkritik film ini melihat bahwa film ini justru melanggengkan stereotipe negatif masyarakat terhadap perempuan. Di sini yg paling menonjol adalah kritik ending filmnya, karena pada akhirnya si antagonis menang dan jadi semacem bukti untuk pembenaran stereotipe tsb. Sebenernya menarik terkait bagaimana sebuah film menjadi perbincangan dan akhirnya sukses mendapat perhatian. Secara garis besar film itu menampilkan realita ibu ibu, tapi menurutku stereotip tentang Dian-nya yang bermasalah. Karena konflik di film ini muncul sejak awal. Dari awal Bu Tejo udah mencoba menyerang dan satu lawan banyak tetap tidak seimbang. Tapi, justru ketika Dian ditampilkan malah mengafirmasi stereotipe kita terhadap “perempuan tidak bener”

Tapi, apakah film ini memang layak mendapat perhatian?

Apakah memang berkualitas? Bisa jadi, kedepannya hal ini menjadi strategi mendobrak pasar. Buat film yang akan jadi kontrofersi biar sukses dapat banyak penonton. Padahal bisa saja kualitasnya amburadul. Apakah viralnya TILIK gara gara menyinggung tentang feminisme? Atau memang ini cerminan masyarakat kita yang suka rebut ribut saja? Terutama berkaitan dengan wacana wacana baru, masyarakat masih gagap. Apalagi kalo menyinggung dunia hiburan, banyak masyarakat yang maunya terhibur saja.

Ardhi: Menurutku, jadi penting mengetahui bagaimana film pendek yang di beberapa kondisi hanya berputar di itu-itu saja, bisa dinikmati masyarakat luas. Bukannya baru, memang sebanyak apa film-film seperti Tilik bisa dan dapat diperhatikan masyarakat lebih luas. festival film yang datang juga itu-itu terus.

Yanuardhi : Waktu kak Yudit bilang banyak film pendek yang luar biasa aku saja tidak menyangka. Katanya sih film pendek Indonesia banyak yang keren keren dan tidak dapat perhatian. Dan kayaknya memang terlalu kerdil kalau mengukur kesuksesan film hanya dari jumlah penontonnya. Tapi bagaimana caranya mendapat perhatian khalayak ramai kalau resiko wacana perfilman masih amburadul, terutama masih banyak penonton yang tidak mau tau masalah kualitas, tapi maunya dihibur saja.

Ardhi : aku kurang setuju perkara “masalah kualitas”. Tentu saja ini penilaian personal, tapi menurutku soal “kualitas” bukan jadi alasan untuk tidak “menghibur”, begitu juga sebaliknya.

Yanu : Tarik ulur antara kualitas dan target penonton selalu dilematis ya. Tapi, yang nyebelin banyak yang nyinyir “terlalu berat” dll tapi, tidak dengan kritik yang memadahi. Masalahnya ada di budaya kritik/kripi. hehe

Yudi: Sebenarnya sudah banyak platform yang mudah kita akses dan gratis untuk bisa menikmati film film pendek di youtube contohnya ada vidsee. Selain itu dulu sebelum corona, cukup rutin juga pemutaran film gratis dan berbayar terjangkau yang paling tidak sebulan dua kali bisa di akses masyarakat luas, dulu ada Klub Diy Menonton (KDM) sama JAFF movie night yang putar film di luar acara festival, hanya saja mungkin minat tonton dari orang-orang yang belum besar, terus kendala lain kenapa film pendek atau film indie masih sepi itu karena banyak penonton yang menganggap film indie itu kurang seru, yang kalau sepengamatanku karena ketika mereka duduk dan menonton film film jenis festival seperti ini mereka sudah bawa standar sendiri, yaitu film film komersil yang memang dibuat untuk menyenangkan penonton dan bukan malah membuka ruang diskusi atau mengajak berpusing ria memikirkan topik topik tertentu. Kendala lain, karena kadang kritik dalam film ini terlalu “vulgar” maka penayangannya atau publikasinya jadi terbatas, menghindari digropyok polisi. Beberapa contoh seperti Kucumbu Tubuh Indahku, sama Istirahatlah kata-kata, itu juga kudengar sempat ada pelarangan tayang.

Diajeng : Dan mungkin juga karena film indie kebanyakan mengangkat isu sosial dan budaya juga. Yang tidak semua kalangan suka dengan itu.

Yanuar : Ya, betul. Kadang terkendala sensor yag terlalu moralis. Jadi, penonton susah diedukasi

Ardhi : Atau sineasnya yang terjebak sama “film semakin sulit dimengerti semakin bagus”. Makanya aku jadi penasaran bagaimana Tilik bisa mendapat perhatian lebih, sebagai film yang berlapis, menurutku. Seorang yang mencari hiburan bisa menikmatinya. Yang mencari hiburan dengan hal-hal eksotis seperti Bahasa Jawa bisa menikmatinya. Yang mencari hal-hal seru seperti membawa perdebatan feminisme ke ranah publik juga bisa menikmatinya. Yang paling utama, tentu orang-orang yang jarang menonton film pendek dari rumah produksi indie, jadi ikut menonton dan membicarakannya. Menurutku itu keren banget, terlepas dari kualitas filmnya.

Yanu : Dialog bahasa jawanya manteb sih pak. Memang film yang realis campur komikal begini enak banget ditonton. Mungkin bisa jadi strategi juga masukin wacana wacana sensitif kedepannya.

Yudhit: Aku malah curiga sama algoritma youtube. Faktor teknis yang bisa membuat suatu video mendadak viral, contoh kasusnya yang bahkan diakui sama kreatornya itu ya boomingnya musisi Boy Pablo, yang dalam suatu wawancara dia bilang kalau salah satu yang membuat dia terkenal seperti ini karena algoritma youtube,

Ardhi : Tapi film-film pendek mainnya di vidsee, tetap terkubur jauh dari algoritma yutub.

Yudhit : Mungkin, mulai corona ini banyak creator kreator film yang mulai upload secara mandiri film mereka lewat channelnya masing masing seperti Wregas kemarin, Lalu disusul kebonstudio, montase, juga ravacana dan tanggapan dari masyarakat juga bagus. Tapi balik itu tadi, aku tidak tahu itu akan berpengaruh atau tidak, tapi menurutku algoritma youtube hanya salah satu faktor, viralnya mungkin juga terdukung dengan timing yang tepat juga, sama kemampuan sosial media menghantarkan rasa penasaran ke orang orang yang akhirnya jadi tertarik untuk menonton.

Yanu : Nah, aku penasaraan sama alogaritma semacam ini. Selain itu dinamika perdebatan di sosmed juga punya pengaruh besar. Kalau lihat analisis drone emprit kelihatan yang cepet viral biasanya dominan yang lucu lucu.

Ardhi : Bahasa Jawa di tilik beda warna dengan daerahku soalnya, coba film pembandingnya yang berjudul “Ing Tutur”. Settingannya Bantul mantul. Btw, Parasite juga film festival dan dia menghibur juga.

Yanuar: Atau memang kualitas “TILIK” memang memadahi untuk mendapat perhatian yang positif?

Ardhi setiawan: Aku kurang tahu kalau ini, aku lebih penasaran “mengapa Tilik dapat sorot segedhe ini?”. Akan bagus sekali jika ekosistem yang ramai dalam membicarakan film pendek, jadi ramai dan bertahan dalam waktu lama.

Sekian. Salam Literasi!

Yanuardhi : Malam ini kita akan diskusi tentang film “TILIK” yang lagi viral. Bagi saya, yang menarik di film TILIK adalah cara penyampaian pesannya lewat dialog dialog yang realis dengan penggunaan bahasa Jawa. Kesannya jadi sangat dekat dengan kehidupan kita. Hal ini menjadi saling terkait dengan stereotipe yang ada di masyarakat kita. Film ini didominasi oleh karakter perempuan (emak emak) dan dialognya juga khas ibu ibu. Untuk penonton yang jarang menonton film pendek juga mudah dicerna. Sebelum lebih lanjut saya ingin tahu tanggapan teman teman tentang film ini. Terutama untuk yang sudah selesai menonton. Pertama, dari mana tahu film “Tilik”? Kedua, apa yang mendorong teman teman untuk menonton? Ketiga, Bagaimana kesan pertama saat selesai menonton?

Nova : Pertama, tahu film ini dari medsos. Di beberapa grup whatsApp teman teman juga rame membahas sosok Bu Tedjo, lalu saya jadi penasaran untuk menonton. Mungkin pertanyaan kedua sudah terjawab ya. Kalau kesan, pertama selain adegan terakhir yang menurutku tidak perlu dijelaskan, sewaktu lihat kredit ternyata ada beberapa nama yang dulu sempat kenalan di warkop waktu zaman masih jadi anak nongkrong. Mas Antok, DoPnya malahan sering saya ajak diskusi.

Ri: Saya tahu film ini dari story teman-teman, karena penasaran akhirnya menonton. Kesan saat nonton salut sih, gimana pembuatnya bisa mengemas aktifitas sederhana menjadi sesuatu yang menarik. Tapi saya pribadi agak kurang suka dengan adegan terakhir.

Nisfi: Pertama, tahu film ini karena nemu di beranda youtube. Kedua, yang mendorong nonton film ini karena lagi viral, jadinya ikut penasaran. Ketiga, kesan saat selesai nonton, biasa saja kak, mungkin karena cerita tilik ini merefleksikan kehidupan sehari-hari masyarakat. Bagaimana pedasnya ibu ibu ghibah dan di tempat aku kalau ada orang sakit, warga jenguknya selalu bareng bareng pake truk. Jadi viral, mungkin karena “tilik” ini seperti film biografi atas karakter masyarakat kita.

Dhiajeng: Pertama kali nonton karena rame di twitter. Kesannya, film ini rasanya sangat dekat dengan kehidupan sekitar saya. Kebetulan saya tinggal di pedesaan yang kalau menjenguk orang sakit, perginya rombongan pakai truk atau mobil pick up. Selain itu, yang paling dekat adalah bagaimana film Tilik ini memperlihatkan pada saya bahwa memang seperti ini kehidupan desa, tentang ibu ibu yang ngerumpiin orang, tentang pandangan perempuan yg ‘berumur’ tapi belum juga menikah. Hal hal yang sebenarnya dekat banget di sekitar dan banyak ditemukan. Rasanya semua daerah tempat tinggal pasti ada yang menjadi seperti sosok Bu Tedjo dan Dian.

Yanuar : Iya, detailnya aku juga merasa dekat banget, apalagi penggunaan bahasa jawanya yang lanyah banget. Jadi penasaran sama kesan teman teman yang tidak bisa berbahasa jawa waktu nonton TILIK.

Ardhi: aku senang saja setiap film pendek atau bentuk apapun dari kesenian, dirayakan seramai saat ini

Yudhit: Pertama, tahu film ini dari mana? Dulu pernah tayang di festival film JAFF antara 2018 dan 2019 tapi tidak sempat menonton. Kedua, yang mendorong teman teman untuk nonton film ini? Dipaksa Purma. Ketiga, kesan pertama saat selesai menonton, Filmnya bagus, kritik sosial yang diambil sangat “halus”, akting-akting dari para tokohnya menurut saya yang orang desa sudah benar-benar seperti rekaan kejadian kalau ikut tilik beneran. Untuk kasih kesan naturalnya, si penulis juga tidak lupa untuk kasih detail kecil seperti ketika ada ibu-ibu yang mabuk dan setelah mabok tetep akting lemes. Detail kecil seperti itu menurutku sangat penting untuk memperkuat cerita. Kalau sisi nilai moral, karena endingnyaseperti itu, jadi agak susah untuk dinilai secara hitam putih atau benar salahnya. Sebagai perbandingan mungkin teman-teman bisa menonton film pendek berjudul “Nyumbang” dari Montase Studio yang juga bisa diakses lewat youtube. “Nyumbang”, menurutku lebih gamblang menunjukkan mana sisi benar dan mana yg salah, yang akhirnya mungkin menjadi kurang menarik untuk jadi bahan diskusi dan efeknya tidak seperti “Tilik” yang bisa ada tim pro dan kontranya

Purma: Apakah menurut kalian apa yang ditampilkan di TILIK itu realita ibu-ibu di desa atau sebenarnya hanya imaji kita soal ibu-ibu di desa?

Diajeng: Kalo di tempat saya, ibu ibu PKK-nya memang seperti itu, ada yang pedas, ada yang cuma dengerin, ada yg bijak.

Yanuar: Kemungkinan besar yang bikin rame di dunia maya adalah tentang sudut pandang terkait gender ya. Jadi, film ini berusaha menangkap realita di kalangan ibu ibu (pergunjingan, moralitas, pembawaan dll). Hal itu disampaikan lewat dialog tokoh antagonis yang apik. Tapi kebanyakan orang yang mengkritik film ini melihat bahwa film ini justru melanggengkan stereotipe negatif masyarakat terhadap perempuan. Di sini yg paling menonjol adalah kritik ending filmnya, karena pada akhirnya si antagonis menang dan jadi semacem bukti untuk pembenaran stereotipe tsb. Sebenernya menarik terkait bagaimana sebuah film menjadi perbincangan dan akhirnya sukses mendapat perhatian. Secara garis besar film itu menampilkan realita ibu ibu, tapi menurutku stereotip tentang Dian-nya yang bermasalah. Karena konflik di film ini muncul sejak awal. Dari awal Bu Tejo udah mencoba menyerang dan satu lawan banyak tetap tidak seimbang. Tapi, justru ketika Dian ditampilkan malah mengafirmasi stereotipe kita terhadap “perempuan tidak bener”

Tapi, apakah film ini memang layak mendapat perhatian?

Apakah memang berkualitas? Bisa jadi, kedepannya hal ini menjadi strategi mendobrak pasar. Buat film yang akan jadi kontrofersi biar sukses dapat banyak penonton. Padahal bisa saja kualitasnya amburadul. Apakah viralnya TILIK gara gara menyinggung tentang feminisme? Atau memang ini cerminan masyarakat kita yang suka rebut ribut saja? Terutama berkaitan dengan wacana wacana baru, masyarakat masih gagap. Apalagi kalo menyinggung dunia hiburan, banyak masyarakat yang maunya terhibur saja.

Ardhi: Menurutku, jadi penting mengetahui bagaimana film pendek yang di beberapa kondisi hanya berputar di itu-itu saja, bisa dinikmati masyarakat luas. Bukannya baru, memang sebanyak apa film-film seperti Tilik bisa dan dapat diperhatikan masyarakat lebih luas. festival film yang datang juga itu-itu terus.

Yanuardhi : Waktu kak Yudit bilang banyak film pendek yang luar biasa aku saja tidak menyangka. Katanya sih film pendek Indonesia banyak yang keren keren dan tidak dapat perhatian. Dan kayaknya memang terlalu kerdil kalau mengukur kesuksesan film hanya dari jumlah penontonnya. Tapi bagaimana caranya mendapat perhatian khalayak ramai kalau resiko wacana perfilman masih amburadul, terutama masih banyak penonton yang tidak mau tau masalah kualitas, tapi maunya dihibur saja.

Ardhi : aku kurang setuju perkara “masalah kualitas”. Tentu saja ini penilaian personal, tapi menurutku soal “kualitas” bukan jadi alasan untuk tidak “menghibur”, begitu juga sebaliknya.

Yanu : Tarik ulur antara kualitas dan target penonton selalu dilematis ya. Tapi, yang nyebelin banyak yang nyinyir “terlalu berat” dll tapi, tidak dengan kritik yang memadahi. Masalahnya ada di budaya kritik/kripi. hehe

Yudi: Sebenarnya sudah banyak platform yang mudah kita akses dan gratis untuk bisa menikmati film film pendek di youtube contohnya ada vidsee. Selain itu dulu sebelum corona, cukup rutin juga pemutaran film gratis dan berbayar terjangkau yang paling tidak sebulan dua kali bisa di akses masyarakat luas, dulu ada Klub Diy Menonton (KDM) sama JAFF movie night yang putar film di luar acara festival, hanya saja mungkin minat tonton dari orang-orang yang belum besar, terus kendala lain kenapa film pendek atau film indie masih sepi itu karena banyak penonton yang menganggap film indie itu kurang seru, yang kalau sepengamatanku karena ketika mereka duduk dan menonton film film jenis festival seperti ini mereka sudah bawa standar sendiri, yaitu film film komersil yang memang dibuat untuk menyenangkan penonton dan bukan malah membuka ruang diskusi atau mengajak berpusing ria memikirkan topik topik tertentu. Kendala lain, karena kadang kritik dalam film ini terlalu “vulgar” maka penayangannya atau publikasinya jadi terbatas, menghindari digropyok polisi. Beberapa contoh seperti Kucumbu Tubuh Indahku, sama Istirahatlah kata-kata, itu juga kudengar sempat ada pelarangan tayang.

Diajeng : Dan mungkin juga karena film indie kebanyakan mengangkat isu sosial dan budaya juga. Yang tidak semua kalangan suka dengan itu.

Yanuar : Ya, betul. Kadang terkendala sensor yag terlalu moralis. Jadi, penonton susah diedukasi

Ardhi : Atau sineasnya yang terjebak sama “film semakin sulit dimengerti semakin bagus”. Makanya aku jadi penasaran bagaimana Tilik bisa mendapat perhatian lebih, sebagai film yang berlapis, menurutku. Seorang yang mencari hiburan bisa menikmatinya. Yang mencari hiburan dengan hal-hal eksotis seperti Bahasa Jawa bisa menikmatinya. Yang mencari hal-hal seru seperti membawa perdebatan feminisme ke ranah publik juga bisa menikmatinya. Yang paling utama, tentu orang-orang yang jarang menonton film pendek dari rumah produksi indie, jadi ikut menonton dan membicarakannya. Menurutku itu keren banget, terlepas dari kualitas filmnya.

Yanu : Dialog bahasa jawanya manteb sih pak. Memang film yang realis campur komikal begini enak banget ditonton. Mungkin bisa jadi strategi juga masukin wacana wacana sensitif kedepannya.

Yudhit: Aku malah curiga sama algoritma youtube. Faktor teknis yang bisa membuat suatu video mendadak viral, contoh kasusnya yang bahkan diakui sama kreatornya itu ya boomingnya musisi Boy Pablo, yang dalam suatu wawancara dia bilang kalau salah satu yang membuat dia terkenal seperti ini karena algoritma youtube,

Ardhi : Tapi film-film pendek mainnya di vidsee, tetap terkubur jauh dari algoritma yutub.

Yudhit : Mungkin, mulai corona ini banyak creator kreator film yang mulai upload secara mandiri film mereka lewat channelnya masing masing seperti Wregas kemarin, Lalu disusul kebonstudio, montase, juga ravacana dan tanggapan dari masyarakat juga bagus. Tapi balik itu tadi, aku tidak tahu itu akan berpengaruh atau tidak, tapi menurutku algoritma youtube hanya salah satu faktor, viralnya mungkin juga terdukung dengan timing yang tepat juga, sama kemampuan sosial media menghantarkan rasa penasaran ke orang orang yang akhirnya jadi tertarik untuk menonton.

Yanu : Nah, aku penasaraan sama alogaritma semacam ini. Selain itu dinamika perdebatan di sosmed juga punya pengaruh besar. Kalau lihat analisis drone emprit kelihatan yang cepet viral biasanya dominan yang lucu lucu.

Ardhi : Bahasa Jawa di tilik beda warna dengan daerahku soalnya, coba film pembandingnya yang berjudul “Ing Tutur”. Settingannya Bantul mantul. Btw, Parasite juga film festival dan dia menghibur juga.

Yanuar: Atau memang kualitas “TILIK” memang memadahi untuk mendapat perhatian yang positif?

Ardhi setiawan: Aku kurang tahu kalau ini, aku lebih penasaran “mengapa Tilik dapat sorot segedhe ini?”. Akan bagus sekali jika ekosistem yang ramai dalam membicarakan film pendek, jadi ramai dan bertahan dalam waktu lama.

Sekian. Salam Literasi!

#SeninMovie – Tilik (2018)

Yanuardhi : Malam ini kita akan diskusi tentang film “TILIK” yang lagi viral. Bagi saya, yang menarik di film TILIK adalah cara penyampaian pesannya lewat dialog dialog yang realis dengan penggunaan bahasa Jawa. Kesannya jadi sangat dekat dengan kehidupan kita. Hal ini menjadi saling terkait dengan stereotipe yang ada di masyarakat kita. Film ini didominasi oleh karakter perempuan (emak emak) dan dialognya juga khas ibu ibu. Untuk penonton yang jarang menonton film pendek juga mudah dicerna. Sebelum lebih lanjut saya ingin tahu tanggapan teman teman tentang film ini. Terutama untuk yang sudah selesai menonton. Pertama, dari mana tahu film “Tilik”? Kedua, apa yang mendorong teman teman untuk menonton? Ketiga, Bagaimana kesan pertama saat selesai menonton? Continue reading “#SeninMovie – Tilik (2018)”

E-Zine Ruang Tunggu 2, Jaga Jarak Karena Corona, Tidak Usah Berjarak pada Membaca

Bermula dari sebuah gagasan, kembali menjadi gagasan. Perjalanan gagasan melalui sebuah buku, melalui media apa pun sebetulnya, cukup panjang. Gagasan tersebut melewati banyak proses, dirawat dan dibesarkan sampai ke pembaca.

Menghibur selama #dirumahaja dan meramaikan literasi di tengah pandemi. Klub Buku Yogyakarta menyajikan Zine Edisi Kedua bertajuk “Buku dan Perjalanannya”. Kawan-kawan bisa mengunduh dan menyebarluaskan PDF-nya demi kemaslahatan umat manusia.

Unduh:

KBY Berbagi : SD IT Ibnu Abas 2

Halo, teman-teman KBY 🤗

Kemarin (13/10) salah seorang perwakilan KBY bersama dengan teman-teman dari UII mengunjungi dan bermain bersama adik-adik dari SD IT Ibnu Abas 2, Pakem, Sleman.

Di sana, KBY bersama adik-adik yang lucu-lucu membaca salah satu buku yang berjudul ‘Kumpulan Cerita Rakyat Cina’.

Selain mengajak adik-adik membaca, KBY secara simbolis menyerahkan donasi buku dari Perpustakaan KBY kepada SD IT Ibnu Abas 2. Dan tentu saja, donasi ini bisa terlaksana berkat adanya kerjasama dengan berbagai pihak.

Untuk teman-teman dari UII dan SD IT Ibnu Abas 2 Pakem, terima kasih atas kehangatan dan kebersamaannya kemarin. Semoga di lain kesempatan kita masih bisa berjumpa dan semoga teman-teman KBY yang lainnya bisa ikut bergabung dan meramaikan acara.

Oya, kami selalu membuka kesempatan bagi teman-teman yang ingin menyumbangkan bukunya melalui KBY. Untuk informasi lebih lanjut sila hubungi kami melalui:

IG: @klubbuku_yogya
Twitter: @klubbuku_yogya
Pos-el: klubbukuyogyakarta@gmail.com

Terima kasih dan salam literasi.

Bengong Bersama KBY Februari 2018

Kedai Mare

Sabtu, 17 Februari 2018 16:00 – 18:00 (moderator: Yanuardhi)

Ulasan oleh Olive Hateem

Judul              : Alkudus

Penulis          : Asef Saeful Anwar

Penerbit        : Basabasi

Cetakan         : Pertama, April 2017

Tebal              : 268 halaman

ISBN               : 978-602-61160-0-0

 

 

: ha ba sin ro ya

 

“Kamu sudah baca Alkudus-nya Mas Asef?”

“Belum,” jawabku sambil diam-diam memasukkan Alkudus ke dalam daftar buku yang harus kubeli di awal 2018. “Bagus?”

“Um, gimana ya.” temanku garuk-garuk kepala dengan ekspresi ragu. “Ngantuk bacanya. Model kitab suci gitu lho, ada ayat-ayat dan kisah-kisah nabi.”

Eh?

 

Dibuka dengan perintah berbunyi “Sucikanlah dirimu sebelum menyentuh kitab ini dan letakkanlah kitab ini pada tempat yang tinggi lagi suci” dengan isi berupa ayat-ayat lengkap dengan catatan kaki, ternyata teman saya tidak bercanda menyebut buku ini sebagai kitab suci.

Diceritakan bahwa Alkudus berisi wahyu-wahyu yang diturunkan kepada Erelah Sang Utusan, dicatat oleh sembilan pengikut setianya dan kemudian menjadi kitab suci bagi agama Kaib. Agama Kaib di sini tentunya merupakan agama fiksi karangan penulis, meskipun hanya dengan melihat Silsilah Keturunan Rasul Agama Kaib yang tertera di bagian depan pembaca akan langsung diingatkan kepada kitab suci agama Samawi, seperti Al-Qur’an dan Alkitab.

Keberanian Mas Asef dalam menggunakan gaya kitab suci dalam menulis Alkudus kiranya perlu diapresiasi, mengingat masih banyak kaum sumbu pendek di negeri kita tercinta ini. Pastinya beliau sudah siap akan risiko dituduh menista kitab suci—yang alhamdulillah sampai sekarang belum terjadi.

Awalnya, saya membaca Alkudus secara acak, berharap bahwa kisah-kisahnya masih bisa dipahami tanpa harus dibaca secara keseluruhan dari awal sampai akhir. Cukup memusingkan, ternyata. Meskipun ada banyak kemiripan dalam penamaan maupun kisah (manusia pertama bernama Dama dengan pasangannya Waha; peristiwa pembunuhan antar-saudara; anjuran untuk menikah; larangan bersifat munafik; perintah berkhitan bagi laki-laki; kisah lima pemburu; dan lain-lain), berbeda dengan proses membaca terjemahan Al-Qur’an dan Alkitab, masih ada ‘jarak’ antara saya dan Alkudus—hingga akhirnya saya baca ulang secara kronologis.

Ketika saya membaca Al-Qur’an, peristiwa yang terdapat di dalamnya terasa familiar dan ‘dekat’ karena latar belakang keluarga dan pendidikan. Begitu pula dengan Alkitab, ada bagian-bagian yang juga sudah pernah dibaca dan bisa ditanyakan kepada teman-teman yang beragama Nasrani.

Jarak tadi, saya rasa muncul karena (secara tidak sengaja) saya masih membandingkan Alkudus dengan Al-Qur’an dan Alkitab. Hal ini cukup mengganggu walau sepertinya tidak akan terhindarkan, karena saya tahu Alkudus pun mengacu kepada kitab-kitab agama Samawi.

Menjadi pembaca yang banyak mau dan gampang penasaran, saya merasa agak ‘tanggung’ dengan tokoh-tokoh Alkudus yang kebanyakan hanya dibahas sekali lewat—terutama Erelah dan Bakijah sendiri. Jika di Al-Qur’an kita bisa tahu sebab turunnya suatu ayat secara lebih lanjut dengan lebih detail dan lengkap, catatan kaki dalam Alkudus berhenti di situ. Ketiga mazhab yang dimaksud itu sebenarnya apa saja? Peristiwa ini mulainya seperti apa? Ayat ini dikaitkan ke ayat anu asal mulanya bagaimana? Di mana saya bisa baca Sabda Suci Erelah?

Masih mengenai tokoh, ada bagian-bagian di mana pembaca akan dipusingkan dengan nama-nama yang amat banyak. Berkali-kali saya kembali membuka Silsilah Keturunan Rasul Agama Kaib karena lupa sebenarnya siapa yang sedang diceritakan. Di sini kemudian muncul pertanyaan: pembaca macam apa yang diharapkan oleh Mas Asef? Hanya mereka yang terbiasa membaca kitabkah? (Wong kebanyakan orang saja malas membaca kitab suci agamanya sendiri, kok) Bagaimana dengan pembaca yang sama sekali asing dengan gaya kitab suci?

Yahmur adalah anaknya Lekhta anaknya Wasmed anaknya Lokat anaknya Keliat anaknya Riwama anaknya Nabasy anaknya Lehti anaknya Hujat anaknya Sittah anaknya Husah anaknya Filom anaknya Baikya anaknya Sana yang dikawinkan dengan Sibda yang lahir dari Rahim Esimar anaknya Dama dan Waha. Dialah penerus Samis yang satu garis menuju Nabasy.” (Yahmur: 34-35)

Sebagai novel eksperimental, saya rasa Alkudus bisa dibilang berhasil. Cara Mas Asef menyampaikan pesan-pesan didaktis secara implisit dengan kemampuannya dalam mengolah kata patut diacungi jempol. Aforisme yang dikemas dalam peristiwa-peristiwa kekinian serta bahasa yang (tentunya) jauh lebih lugas dibanding kitab suci sesungguhnya membuat saya tidak bisa berhenti membalik halaman hingga akhir.

“Tinggalkanlah untuk sementara waktu orang yang bersamamu ketika engkau marah agar kemarahan itu juga turut meninggalkanmu. Kemudian renungkanlah apa yang salah dan janganlah mencari siapa yang salah.” (Permulaan: 150)

 

Hal lain yang menjadi kelebihan novel ini bagi saya ialah konsep feminisme yang jelas terlihat. Mulai dari Erelah Sang Utusan yang merupakan seorang perempuan, sampai berbagai wahyu yang tidak menomorduakan perempuan laiknya yang masih banyak terjadi di dalam berbagai ajaran keagamaan. Feminisme sendiri sebetulnya sudah menjadi salah satu jenis pendekatan dalam studi agama sejak konsepsi bias gender mulai sering dibahas dalam berbagai kajian keagamaan. Tentu ada banyak yang menentang, dari pihak laki-laki pun perempuan itu sendiri, karena konstruksi sosial ini sudah dikultuskan sejak dahulu kala. Alkudus seolah menghadirkan angin segar yang mendukung rekonstruksi pemaknaan atas gender (peran, relasi, posisi sosial dan lainnya), yang entah disadari oleh penulisnya atau tidak.

 

Tuhanmu tidak memandang kalian sebagai lelaki atau perempuan, kecuali sebagai manusia.” (Permulaan: 5)

 

 

Menyelesaikan Alkudus, pembaca akan disadarkan bahwa Alkudus tidak lahir karena obsesi penulis menjadi nabi apalagi untuk mengoreksi kitab-kitab yang sudah ada—seperti yang suka dicandakan pembacanya—melainkan hanyalah upaya Mas Asef dalam menginterpretasi realitas yang ada, terutama dalam relasi antar-manusia. Seandainya suatu saat nanti, ada umat beragama yang benar-benar protes akan kehadiran Alkudus, dapat dipastikan bahwa ia belum membaca.

Sebagaimana yang telah tertulis dalam Nabasy ayat 1 dan 2: “Tidaklah menjadi dosa bagimu memikirkan pikiran orang lain. Namun, sungguh itulah perbuatan yang sia-sia dan dapat menyusahkan dirimu sendiri.” Ada baiknya jika kita membaca Alkudus tanpa perlu memikirkan pikiran Mas Asef saat menulis buku ini. Entah apa pun tujuannya, cukup serap anjuran untuk berbuat kebaikan dan meninggalkan keburukan, lalu ceritakan kembali kisah-kisahnya, sebab segala cerita yang dibagikan adalah kebahagiaan meskipun kadang di dalamnya terdapat kesedihan. (Persebaran: 27)

Program Baru 2018

Halo, rekan-rekan Klub Buku Yogyakarta!

Tahun sudah berganti, KBY pun berubah dalam beberapa hal. Sabtu (20/1) kemarin diadakan rapat internal dan terjadi reorganisasi. Hari itu kami juga rapat agenda apa saja yang akan kami coba adakan selama tahun 2018. Kami butuh dukungan rekan-rekan agar semua program dapat dijalankan dengan baik. Jadi, inilah program kami di tahun 2018 berdasarkan hasil rapat:

A. PROGRAM OFFLINE

Program offline adalah program yang memungkinkan para anggota KBY dan teman-teman lain untuk bertatap muka. Kapan saja kita bisa berjumpa?

  1. BBK (Bengong Bersama KBY)

Bengong Bersama KBY atau yang sering disingkat BBK adalah kegiatan rutin bulanan KBY untuk bertatap muka dan berdiskusi membahas satu buku yang sudah ditentukan sebelumnya. Satu orang anggota KBY akan ditunjuk untuk jadi pemantik diskusi dan koordinator kegiatan online akan bertugas menjadi moderator untuk menggiring diskusi agar kondusif. BBK pertama akan diadakan Februari ini. Pantau akun medsos kami untuk info lebih lanjut, yaa~

 

  1. Perpustakaan Jalanan

Setelah absen sekian lama, kali ini perpustakaan jalanan akan kembali hadir melapak beberapa koleksi KBY untuk dibaca teman-teman semua. Perpustakaan jalanan direncakan akan digelar pada bulan Maret, Mei, Juli, September, November. Apa sih perpustakaan jalanan?

Perpustakaan jalanan adalah perpustakaan yang dibuka di jalan, semua orang boleh berkunjung dan membaca di tempat. Bukunya belum bisa dibawa pulang, ya. Oya, kadang kami menyediakan kesempatan untuk mewarnai di tempat untuk teman-teman atau adik-adik yang ingin mewarnai. Tempatnya di mana? Pantau akun medsos kami untuk info lebih lanjut, yaa~

 

  1. KBY Goes To Publisher

Yuk, kita berkunjung ke penerbit-penerbit yang ada di Yogyakarta untuk tahu seperti apa sih proses pembuatan buku! KBY goes to publisher rencananya akan diadakan 4 bulan sekali dimulai dari bulan April, Agustus, terkahir Desember 2018. Akan ke mana saja kita? Pantau akun medsos kami untuk info lebih lanjut, yaa~

 

  1. Workshop

Melihat antusiasme rekan-rekan datang ke workshop di Tahun Baru di JBS Musim Kelima kemarin, kami mengagendakan untuk mengadakan workshop lagi. Materi apa, kapan, dan siapa pematerinya? Pantau akun medsos kami untuk info lebih lanjut, yaa~

 

  1. Nonton Bareng KBY

Nah, ini nih agenda yang cukup seru: nobar. Tahun ini kami akan menggelar Nobar KBY untuk kemudian dilanjut berdiskusi tentang film yang selesai ditonton. Rencananya, nobar akan diadakan pada bulan Juni dan Oktober. Tunggu info lebih lanjut, yaa~

 

 

B. PROGRAM ONLINE

Program online adalah program yang diadakan tanpa perlu tatap muka, dilakukan remote via internet. Apa saja program online KBY tahun 2018?

  1. Diskusi Mingguan

Diskusi Mingguan adalah diskusi yang akan dilaksanakan rutin di WhatsAppp Klub Buku Yogyakarta dan semoga terjadwal. Hari-hari tersebut kami akan menunjuk salah satu anggota kami untuk menjadi pemantik diskusi dan diskusi akan dipandu oleh seorang penanggung jawab (PIC). Kami punya #SeninMovie untuk mengulas film, #SelaSastra untuk membahas dunia sastra, #RaBuku untuk membahas buku, #KamisLebihDekat untuk kepo-in sesama anggota KBY, #JumatBarokah untuk membahas segala hal yang barokah (filsafat, seni, cara mengupas nenas, dll), dan #SabtuKenangan untuk membahas hal-hal yang sudah terjadi di masa lampau tapi masih membekas di ingatan.

Berikut jadwal diskusi:

JUDUL DISKUSI JADWAL DISKUSI
#SeninMovie Minggu pertama dan ketiga
#SelaSastra Minggu kedua dan keempat
#RaBuku Minggu pertama dan ketiga
#KamisLebihDekat Minggu kedua dan keempat
#JumatBarokah Minggu pertama dan ketiga
#SabtuKenangan Minggu kedua dan keempat

 

  1. Satu Hari Satu Review

Agenda baru KBY yang satu ini diadakan di Instagram. Kalian yang belum bergabung jadi anggota juga boleh ikut mengirimkan ulasan buku dengan cara mengontak admin di kolom komentar atau DM.

 

  1. Satu Bulan Satu Tulisan

Sesuai permintaan rekan-rekan, tahun ini akhirnya KBY punya wadah bagi rekan-rekan yang senang menulis. Satu Bulan Satu Tulisan adalah program di mana setiap bulan akan ada satu tema yang dilempar di grup WhatsApp dan teman-teman bebas boleh menulis apa saja (esai, puisi, prosa) sesuai tema yang diberikan. Tenggat waktu akan diberikan di akhir bulan. Hasil tulisan kemudian akan diunggah ke blog Klub Buku Yogyakarta ini.

 

Gimana? Seru-seru, kan? Bagi kalian yang tertarik bergabung, sila kontak 0856-4771-8171 atau 0857-2666-8050. Syaratnya mudah: berpartisipasi aktif di forum. Sampai jumpa di salah satu kegiatan, yaa~

 

Salam,

Pengurus KBY