#SelaSastra 3 November 2015

Tips-Tips Praktis Dalam Menulis Fiksi

Pembuka Cerita

Diantara kita pasti pernah membaca novel atau cerita pedek kan? Pernah nggak, baru baca beberapa halaman atau baru baca beberapa paragraph, udah nggak mau lanjut baca lagi? Pernah nggak menemukan kalimat awal atau paragraph awal yang membosankan? Itulah kenapa seorang penulis yang baik harus bisa membuka ceritanya dengan sebuah awalan yang membuat pembaca terus penasaran dan terhanyut hingga ceritanya berakhir. Banyak penulis yang memiliki ide cemerlang namun gagal dalam membuka ceritanya. Berikut ini ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membuat sebuah kalimat atau awalan yang baik:

  1. Buatlah kalimat yang simple. Sebisa mungkin hindari kalimat panjang yang membuat pembaca buku kita bosan. Sekali-sekali jangan pernah memulai kalimat pertama dengan bahasan yang bertele-tele.
  2. Cobalah untuk mencari sesuatu yang berbeda dari tema yang diangkat.
  3. Nggak ada salahnya memulai kalimat pertama dengan sebuah quoteatau kutipan yang membuat orang penasaran lebih jauh dengan buku yang mereka baca.
  4. Ciptakan karakter yang kuat semenjak dari awal kalimat atau awal cerita.

Suspensi = Kejutan = Dramatisasi

Banyak pembaca yang meninggalkan buku bacaannya karena bosan. Ada banyak alasan kenapa sebuah buku itu membosankan, mulai dari penyajiannya yang biasa-biasa saja, hingga tidak adanya masalah atau kejutan atau twist yang mereka dapatkan dari buku tersebut. Ada banyak penulis yang tidak mampu menyajikan tulisannya dengan baik sehingga buku yang mereka tulis terkesan membosankan dan ditinggalkan pembaca. Berikut ini terdapat beberapa tips yang untuk menambah ‘bumbu’ dalam penyajian tulisan:

  1. Kuasai tema yang akan ditulis. Ini hukumnya wajib. Seorang penulis harus tau apa yang mereka tulis. Kalau perlu lakukan riset yang mendalam tentang tema yang akan ditulis.
  2. Ciptakan plot twist ataupun penokohan yang membuat pembaca penasaran. Kalau perlu dramatisir cerita yang dibuat. Tapi ingat, jangan berlebihan.
  3. Tidak ada salahnya mencoba membuat plot yang melompat-lompat, tetapi masih dengan alur yang harmonis.
  4. Panjang pendek kalimat harus disesuaikan dengan kondisi emosi yang dibangun dalam tulisan tersebut.
  5. Berpikirlah out of the box.

Logika Cerita dan Dialog

Logika cerita merupakan salah satu poin yang harus dijaga konsistensinya. Hal ini akan sangat mempengaruhi keseuruhan cerita. Jangan sampai ada bagian yang menjadi tidak logis dan tidak lekat dengan cerita yang dibangun. Berikut ini ada beberapa tips yang bisa digunakan untuk membuat logika cerita atau dialog:

  1. Setiap bagian yang diceritakan dalam tulisan haruslah sesuatu yang masuk akal.
  2. Ciptakanlah tokoh dengan karakter yang konsisten.
  3. Kesesuaian lainnya seperti umur, status sosial, jenjang pendidikan, lokasi dan lain sebagainya harus selalu diperhatikan. Jangan memaksakan sesuatu yang malah akan membuat cerita menajadi tidak logis.
  4. Buatlah pembaca yakin kalau cerita yang disusun berdasarkan pada kenyataan yang sebenarnya dan dengan logika yang dapat dipahami oleh pembaca kebanyakan.

Eksplorasi Setting

Setting atau latar belakang adalah sebuah kekuatan dalam tulisan, yang jika berhasil dibangun dengan baik maka akan semakin memperindah sebuah cerita dan menguatkan cerita itu sendiri. Berikut ini ada beberapa tips dalam menciptakan setting yang baik:

  1. Kumpulkan data tentang setting yang akan dibuat. Jangan pernah mengandalkan apa yang diketahui saja, karena ini akan menjadi pelemah cerita yang ditulis. Kalau memungkinkan kunjungilah lokasi yang menjadi latar belakang dalam cerita.
  2. Data yang sudah dikumpulkan tadi sebisa mungkin dipilah terlebih dahulu agar tidak ‘membebani’ cerita dengan bagian-bagian yang tidak penting. Data yang didapatkan tidak harus dimasukkan semuanya kedalam cerita.
  3. Data yang didapat sebisa mungkin dikemas dalam sebuah alur cerita yang padu, baik itu dalam bentuk narasi maupun dalam kalimat-kalimat dialog.
  4. Hindarilah menjadi reporter yang melaporkan semuanya. Ini hanya akan mencederai cerita yang kita bangun.
  5. Berpikirlah dari sudut pandang lainnya, terutama sudut pandang pembaca.
  6. Tidak ada salahnya mencoba mengembangkan sebuah settingancerita dalam dialog-dialog antar tokoh yang ada dalam cerita.

Materi #selasastra 3 November 2015
[dengan perubahan oleh Tim Admin]

Program November 2015

Selamat malam teman-teman KBY dimanapun berada. Semoga kita semua dalam lindungan Tuhan YME. Oktober sudah hampir berakhir nih. Berhubung group WA KBY ini masih terbilang baru, kita masih mencari-cari dan menyusun program-program yang tepat untuk meramaikan jadwal harian. Malam ini, kami tim admin Klub Buku Yogya akan mengumumkan kembali program-program apa saja yang akan tayang selama bulan November.

Ada program apa saja yang akan hadir menemani kita bersama di bulan November:

Bengong Bersama KBY

#BBK atau Bengong Bersama KBY ini mengadopsi kebiasaan beberapa orang member KBY yang sering ngumpul hanya untuk ngopi-ngopi, main poker, dan bengong.

Tentunya bengong yang nggak bermanfaat alias lebih banyak ghibah dan curhat nggak jelas.

Daripada nambah dosa, #BBK pun dipaksa beralih fungsi sebagai ajang diskusi buku bulanan. Untuk #BBK bulan November ini, buku yang akan di bahas bersama adalah Rubuhnya Surau Kami, sebuah karya yang ditulis oleh AA Navis. Yang ingin dikirimi ebooknya, sila segera kirimkan alamat email.

#BBK akan diadakan tanggal 29 November 2015 jam 10.00 di Benteng Vredenburg. Tuan rumah #BBK bulan November adalah Mas Eko Alan de Soison dan Kak Zara Ahmad.

(waktu dan tempat bisa berubah)

Selasastra

Untuk bulan November ini, program #SelasaKreatif akan berganti nama menjadi #Selasastra. Lalu apa bedanya dengan #SelasaKreatif? Kurang lebih masih sama, bedanya kalau #SelasaKreatif hanya diisi oleh satu orang saja, untuk #Selasastra ini masing-masing anggota KBY diberi kesempatan untuk berbagi mengenai tips-tips ataupun teori kepenulisan yang dimilikinya. Boleh fiksi maupun non fiksi. Nggak harus tips-tips atau teori yang sudah diakui dunia, bisa aja sharing pengalaman mengenai apa saja yang berkaitan erat dengan kepenulisan. Yang menjadi penanggung jawab untuk #Selasastra ini adalah Kak Rara.

Rabuku

Seperti namanya, #Rabuku ini akan diadakan setiap hari Rabu. Setiap hari Rabu, satu orang anggota KBY yang terpilih atau mengusulkan diri (volunteer) akan memberikan review mengenai buku yang sudah ataupun barusaja dibaca, membedah buku tersebut dan menjelaskan dari sudut pandangnya. Anggota lain diharapkan menyimak dan memberikan umpan balik atas apa yang disampaikan oleh teman yang kebagian untuk mereview. Penanggung jawab untuk #Rabuku ini adalah Kak Jati.

Lebih Dekat Dengan KBY

Semakin hari anggota KBY semakin bertambah banyak dan tentunya belum semuanya saling mengenal. #LebihDekatDenganKBY akan mewadahi hal tersebut. Setiap Kamis malam kita akan mengenal lebih dekat salah satu anggota KBY. Dan teman-teman lainnya diwajibkan bertanya apa saja yang dianggap penting selama sesi berlangsung. Penanggung jawab untuk #LebihDekatDenganKBY ini adalah kak Eka.

Sabtu Kenangan

Siapa yang sabtu malam sering pencitraan biar nggak di kira jomblo? Daripada menghilang dari peredaran, mending ramaikan #SabtuKenangan. Kita akan ngobrolin hal-hal yang bikin ingat masa lalu. Termasuk mantan pacar. *ups*

Di #SabtuKenangan ini kita akan ngobrolin macam-macam hal yang membuat kita terkenang masa lalu. Misalnya permainan atau makanan atau bahkan buku yang dulu jadi bacaan favorite waktu masih sekolah. Semacam nostalgila kembali ke zaman Flintstone. Penanggung jawab #SabtuKenangan ini adalah Kak Yani.

Penanggung jawab setiap sesi bertugas untuk memastikan kelangsungan sesi yang mereka pegang setiap minggunya, serta membuat ringkasan atau ulasan singkat untuk ditampilkan di blog KBY. Apabila sekiranya ada halangan yang mengakibatkan sesi ditunda atau dibatalkan, harap memberikan pemberitahuan sebelumnya atau mengupayakan untuk berganti dengan sesi lainnya.

Nah teman-teman KBY, segitu dulu ya penjelasan singkat mengenai program-program yang akan tayang selama bulan November. Kami berharap untuk teman-teman yang selama ini hanya menjadi silent reader, agar bisa lebih aktif lagi.

#SelasaKreatif #2

Malam ini kita akan jabarkan 5 unsur dalam teknis menulis. 5 unsur dalam teknik menulis itu antara lain:

  1. Alur cerita
  2. Setting/ latar cerita
  3. Penokohan
  4. Konflik
  5. Ending

ALUR CERITA

Alur cerita adalah jalan cerita. Apapun bentuknya. Sebuah fiksi harus memiliki jalan cerita. Alur cerita ini mempunyai 3 jenis bentuk, yaitu, alur maju (A-Z), alur mundur (Z-A atau biasa disebut flashback), atau alur maju-mundur (non linear). Semuanya bisa menjadi pilihan satu-satu atau bahkan gabungan sekaligus. Bebas! Intinya adalah kita harus menciptakan alur cerita. Nah, untuk mengalirkan yang namanya jalan cerita, hal pertama yang harus kita miliki adalah ‘gambaran jalan cerita’. Mau dikemanakan sih jalan cerita (cinta) kita.

Gambaran jalan cerita itubisa kita tuangkan ke dalam sebuah outline (semacam kerangka cerita) sebelum memulai menulis. Kira-kira ceritanya akan dialirkan gimana? Outline ini salah satu cara efektif untuk membantu kita mengingat rencana alur cerita yang sudah tergambar di otak.

Untuk pemula diasarankan lebih baik membuat outline dulu dan disiplin dengan outline itu sendiri. Tentu akan terjadi pergeseran-pergeseran alur di tengah proses penulisannya nanti. Dikhawatirkan, jika terus menerus menuruti pergeseran-pergeseran itu cerpen atau novel kita nggak akan pernah jadi lantaran terus berubah-ubah. Nglambyar gitu deh jadinya.

Selanjutnya, mengalirkan cerita bisa kita bangun melalui narasi dan dialog. Kita bisa mengombinasikan keduanya secara proporsional. Imbang lah. Kebanyakan narasi juga akan membuat pembaca bosan, pun sebaliknya. Kalau terlalu dominan dialog bisa membuat pembaca meyakini kita bahwa kita lebih rewel dan cerewet dari Omas.

Jangan pernah membuat narasi dan dialog yang tanpa peran untuk membangun cerita. Basa basi gitu deh maksudnya. Itu sangat tidak menarik. Juga, jangan mengulangi inti dari narasi dalam bentuk dialog atau sebaliknya. Karena pengulangan yang seperti itu akan  mencederai karya kita.

Ini contoh kombinasi narasi dan dialog yang berperan mengalirkan cerita:

Kyoto mulai beku. Lalu-lalang yang tadi tamoak berisik kini melengang. Siklus alam, ya, selalu saja orang akan kembali pulang saat malam kian kencang menorehkan lelah. Tapi tidak buatku! Aku masih saja duduk di taman yang gigil ini, setia menunggumu. Setia menanti janjimu, Dewi. Kulirik lagi arlojiku, sudah pukul 2 dini hari.

“Benar ya, pukul 10 nanti?” tanyaku penuh semangat.

Dewi tersenyum manis, menjereng deretan giginya yang putih mempesona, menaklukkan hatiku.

“Ya, aku akan datang,” sahutnya.

“Aku akan menunggumu, lebih dulu dari jam yang kamu janjikan. Pasti itu!”

Ah, kembali, lagi-lagi, ia mengingkari janjinya. Pukul 10? Sekarang sudah pukul 2 dini hari, dan tak ada secuil kabar pun darinya. Selalu begini!

Tetapi aku masih saja selalu setia memberikan dada lebarku padanya untuk mengerti dan mengerti, meski tentu saja aku sama dengan lelaki lain yang tersuruk kecewa saat kekasihnya kembali ingkar janji.

LATAR CERITA

Setiap cerita selalu membutuhkan latar yang menjadi tempat ia hidup. Apa pun dan bagaimana pun latar tu diciptakan, entah itu nyata atau imajiner dan fantasi, latar itu harus ada. Latar bukan hanya lukisan tentang temoat. Bukan! Latar juga mencakuo suasana emosi yang terbangun dalam tokoh-tokoh itu. Karenanya, latar bisa dibangun dengan model narasi dan dialog pula. Dan yang harus diingat: lukisan latar itu harus natural, jangan dipaksakan. Ini bukan berarti tidak boleh membuat latar yang fantasi atau imajiner, bukan! Latar yang natural itu alamiah dan logis. Kalau malam pasti gelap donk. Nah, kalau tahun 1945 ya otomatis suasananya harus revolusi. Saat itu belum ada blackberry, kan jadi jangan bikin latar yang gak logis.

Hal lain yang kudu diperhatikan dalam membangun latar cerita adalah jangan terjebak untuk menjadi reporter.

Memang benar, bahwa fiksi yang berhasil menyajikan latar dengan kuat dan detail tentu akan memiliki kekuatan lebih. Pasti itu! Sebuah novel yang berhasil menceritakan kota Manchester dengan detail, pasti akan memiliki kekuatan lebih di mata pembaca. Dan kita sekarang beruntung banget hidup di era mbah Google yang selalu sedia membantu kesulitan-kesulitan kita. Jadi kita nggak perlu keliling dunia hanya karena riset latar novel.

Nah yang dimaksud jangan terjebak sebagai reporter adalah kita keasyikan menuturkan latar sampai-sampai lupa bahwa kita sedang menulis cerita, bukan berita.

Misal nih ya:

Al Shafwa Royale Orchid, Room 734. Dari kamar ini, pesona misterius Masjidil Haram begitu terang di depan mataku. Ya, begitu dekat! Aku hanya perlu waktu 5 menit untuk sampai ke hadaoan Ka’bah. Turun ke lift dua kali, lalu di pintu keluar hotel sudah berjulang jelas bangunan dominan abu-abu berarsitektur Timur Tengah ini.

Selalu saja, seperti yang kali ini pun kukatakan pada istriku tanpa bosan, Masjidil Haram beda auranya dengan Masjid Nabawi. Jika Masjid Nabawi bernuansa anggun elegan, Masjidil Haram kental suasana misterius-mistik. Dia mengangguk, membenarkan: ah, senangnya memang punya isteri yang nyaris selalu menyetujuiku untuk hal-hal yang tidak prinsipil.

“Kamu ngerasa kayak disambut bara tungku nggak setiap keluar pintu lobby hotel?”

“Iya, panas sekali, maklum suhunya sekarang sampai 47 derajat…” sahut istriku sambil sedikit menghempaskan napas.

Kujawil lengannya, “Lihat itu, di pojok, dekat wanita berjubah hitam yang jualan tasbih dan Al-Quran itu. Anak tanggung di sebelahnya itu tangannya terpotong. Apa kena qishas ya?”

Istriku menoleh, lalu menepi sejenak saat rombongan besar jamaah dari Turki melintas membelah jalannya. Sebagian besar gundul. Seluruhnya tambun-tambun kayak timbunan lemak.

“Awas, minggir…!” teriakku sambil menepikannya lagi.

Sebuah bus yang berkaca hitam berhenti di sebelahnya. Hafil, kubaca tulisan itu di body bus itu

Coba bandingkan dengan ini:

Malam hari terasa masih terang sajadi sekitaran Eiffel ini. Ada banyak sekali orang-orang yang berjualan segala macam merchandise khas Paris di sekitarnya. Anak-anak kecil juga banyak melintas, bermain-main di taman yang hijau membentang ini. Sebuah hotel bertuliskan Hilton bersiri gagah sekali. Di ujung barat taman yang mengitari Eiffel ini, ada sebuah gang kecil yang jika diikuti akan menuju ke sebuah perkampungan penduduk Paris kelas bawah. Suasana yang bertolak-belakang dengan jalan-jalan besar yang mengitari taman Eiffel ini, yang dipenuhi oleh mobil-mobil lalu-lalang tanpa terputus.

Eiffel memang memikat mata. Menjulang tinggi. Para pelancong tampak bersemangat semua untuk menaiki Eiffel dengan cara antri di depan lift itu.

Kalian nemuin tokoh nggak di sana? Alur ceritanya ada nggak? Kayak berita kan? Nah, itulah mengapa penting dipahami bahwa sebuah karya bisa memiliki kekuatan plus jika mampu membangun latar yang detail, tetapi tetap kudu dalam bingkai cerita, baik melalui narasi atau dialog.

PENOKOHAN

Di dalam sebuah cerita, tentu wajib hukumnya untuk ada tokoh-tokoh. Tokoh utama hingga tokoh sambilan. Semua tokoh ini harus diciptakan karakternya. Dari watak sampai kebiasaan harian atau pun fashionnya. Posisi peran setiap tokohnya pun harus terang dalam cerita yang kita buat. Itulah yang disebut penokohan. Semua penokohan ini harus diciptakan oleh penulis secara konsisten dan logis. Kalaupun di bagian tengah atau akhir ada perubahan terhadap penokohan seorang tokoh, maka tetap harus ada penjelasan cerita yang logis sebab dari perubahan karakter tokoh tersebut.

Misal nih, tokohnya sedari awal diceritakan cewek penggila nongkrong di cafe. Di bagian tengah, cewek ini berubah style jadi cewek rumahan, maka harus ada jalinan cerita yang menguraikan secara logis sebab-sebab pemicu hal tersebut.

Logika tokoh juga mutlak untuk diperhatikan. Misal, seorang anak SD kelas 4, tapi dialog-dialognya terasa begitu wise layaknya seorang pertapa usia 60 tahun. Ini nggak logis. Maka sesuaikan saja secara alamiah level setiap tokoh yang kita buat dengan perannya, caranya berbicara, caranya beraktivitas, dan sebagainya.

So, mau dijadiin apapun tokoh-tokoh karya yang kita buat, bebaas. Tapi tetap memperhatikan aspek konsistensi peran dan logika ketokohannya.

KONFLIK

Setiap cerita harus ada konflik cerita. Tanpa konflik, cerita yang kita bikin meskipun sudah berhasil membangun alur,latar, dan penokohan, akan terasa sangat datar bin garing bin anyep kayak jomblo akurat. Konflik sesungguhnya merupakan jantung dari sebuah cerita. Berdasar konflik yang dibangun bisa dari awal langsung atau mengalir landai. Maka, kemampuan kita membangun titik konflik yang mendidih akan benar-benar menjadi jantung dari bagus atau tidaknya tulisan yang kita buat.

Dalam sebuah cerita,konflik memang tidak harus tunggal. Kalau tunggal, cerita akan terasa sangat sempit. Konflik boleh diciptakan sebanyak-banyaknya, asalkan kita mampu mengalirkannya dalam cerita. Meskipun begitu, tetap saja hanya ada satu konflik utama. Konflik-konflik lainnya bisa disebut dengan ‘bumbu konflik’ penyedap cita rasa masakan cerita yang kita buat.

Kita harus ingat benar bahwa konflik yang membahana, yang disajikan dengan alur yang mengalir, latar yang detail, dan penokohan yang kuat, akan benar-benar menjadi pelengkap bangunan cerita yang kita buat. Karena itu, jangan memilih konflik ala kadarnya. Kita harus bisa memilih konflik yang cetar, yang tidak monoton, yang bakal bisa menyedot rasa penasaran pembaca. Dukunglah konflik cetar dengan item-item lainnya dari akur sampai penokohan, maka niscaya cerita kita akan mampu menyeret pembaca.

Cerita yang baik adalah cerita yang mampu’menyeret’ : rasa penasaran pembaca agar terus membaca, emosi pembacanya sampai dia merasa benar-benar menjadi bagian dari jalan cerita dan kehidupan si tokoh.

Kalian pernah kan merasa sebel,sampai mau banting hape, nangis dan senyum-senyum sendiri. Berarti kalian udah terseret dalam cerita tersebut. DRAMATIS guys.

ENDING

Apakah ending harus selalu ada?? Tidak juga sih. Lha kenapa kok memasukkan aspek ending dalam rangka membuat cerpen atau novel? Sengaja dimasukkan untuk membantu supaya kita mengerti bahwa setiap cerita tentu akan memiliki akhirnya. Sekalipun menulis novel romance setebal 500 halaman, tetap saja akan ada akhirnya. Nah akhir itulah yang disebut ending.

Ending tidak harus berupa ‘akhir cerita tokoh’. Ending tidak mesti berupa mati atau bahagia. Menikah. Punya anak. Kaya raya! Itu udah basi. Ending pun tidak harus ada di akhir bagian novelmu. Bisa ada di mana saja, misal di depan atau tengah, dengan catatan harus mampu memelihara alur dan logikanya dengan kuat dan baik.

Pada tahu istilah ending menggantung kan? Nah ending menggantung adalah menutup cerita dengan sebuah adegan atau suasana atau dialog bahkan yang dibiarkan menggantung begitu saja. Dan ini sah-sah saja

Mau gimanapun endingmu, buatlah ending yang menyentak! Ya, yang menampar, menyergap,ngagetin. Itu penting lho agar pembaca kita menjadi lebih teraduk-aduk emosinya.

Ini salah satu contoh ending:

“Maafkan tak setiaku selama ini. Kalau boleh kuminta sesuatu padamu, tolong sampaikan ini pada anak-anakku bahwa aku sangat menyayangi mereka. Tolong peluk mereka setiap malam jelang tidur, dan katakan bahwa pelukanmu adalah pelukan sayang ayah buat mereka…”

#JumatBarokah #2

Selamat malam teman-teman KBY. Ketemu lagi di #JumatBarokah edisi ke-2 untuk bulan Oktober. Pada bingung dan bertanya-tanya ya, edisi pertamanya mana? #JumatBarokah edisi pertama waktu itu live dari #KampungBukuYogya bersama kak Danti dan kak Valen.

Kok nggak ada live twit atau live report-nya? Nggak sempat kak, kami yang datang aja waktu itu terlalu terhipnotis dengan sulap mereka yang mengubah bekas botol UC 1000 jadi asbak portable yang keren banget.

Untuk hari ini di #JumatBarokah ini saya akan berbagi sedikit mengenaiSocial Protection.

Udah tau belum apa itu social protection?

Dalam Pembukaan UUD 1945 dan batang tubuh UUD 1945 secara jelas sudah disebutkan bahwa Indonesia menjamin kesejahteraan warga masyarakatnya.

Nah loh? Lalu apa hubungannya antara social protection dan kesejahteraan warga masyarakat?

Salah satu cara untuk mensejahterakan warga negara adalah dengan memberikan social protection. Social protection ini secara sederhana bisa diartikan sebagai perlindungan sosial atau jaminan sosial bahasa kerennya. Kalau dibandingkan dengan negara-negara dunia pertama atau negara dunia kedua, Indonesia bisa dibilang lambat mengadopsi sistem ini. Pada mulanya penyelenggaraan jaminan sosial ini terbatas pada penyelenggaraan jaminan kesehatan dan pemberian pensiun,  namun saat itu hanya diperuntukkan bagi pegawai negeri dan pegawai swasta. Ada banyak permasalahan yang timbul ketika itu, jaminan yang diberikan kepada PNS tentu saja menjadi beban bagi APBN yang jumlahnya tidak seberapa dan menjadi beban bagi para pemberi kerja di sektor swasta.

Setelah perdebatan panjang di parlemen barulah pada tahun 2004, DPR menyetujui UU No 40 mengenai Sistem Jaminan Sosial Nasional. SJSN ini lahir sebagai sebuah bentuk perlindungan sosial yang menjamin agar setiap pesertanya bisa memenuhi kebutuhan dasar hidup agar kesejahteraan sosial bisa terwujud.

Sampai disini ada yang mau bertanya? Kalau nggak ada saya lanjutkan ya.

Walaupun sudah ada UU No 40 tahun 2004, dalam prakteknya SJSN masih jauh dari kata dapat menyejahterakan warga negara. Hal ini dikarenakan belum ada badan hukum yang bertugas untuk menyelenggarakan SJSN. Kemudian disiapkanlah RUU Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS). RUU BPJS ini pun sempat terkatung-katung selama lima tahun. Kenapa? Karena terjadi tarik ulur antara pemerintah dan lembaga tinggi negara. Perbedaan kepentingan juga menjadi salah satu penyebab BPJS ini terkatung-katung.

Nah, kalau ada teman-teman yang baru di PHP gebetan atau digantung gebetan sebulan dua bulan, nggak usah galau dulu, nggak usah sedih sampai mau bunuh diri dulu, RUU BPJS aja digantung pemerintah dan lembaga tinggi negara selama kurang lebih lima tahunan.

Lembaga-lembaga penyelenggara yang sudah ada sebelumnya semenjak adanya UU ini diminta untuk menyesuaikan diri dengan UU yang baru ini, salah satunya adalah menjadi lembaga yang non-profit atau not for profit. Yang diatur dalam UU ini termasuk jumlah iuran, manfaat, sistem pendanaan, serta mekanisme pemberian layana, terutama sekali dalam program jaminan kesehatan. Makanya belakangan ini BPJS identik dengan pesakitan atau rumah sakit.

Lanjut ya?!

Tapi sebelum saya lanjutkan, saya ingin bertanya, ada yang tau nggak contoh-contoh lain dari social protection atau jaminan sosial yang sudah diberikan oleh pemerintah Indonesia kepada warga negaranya?

Ya benar, program-program bantuan sosial, jamkesmas, bantuan langusng tunai dan juga raskin itu sebenarnya beberapa bentuk social protection yang bisa diberikan negara kepada warga masyarakatnya.

Sesuai dengan UU No 40 Tahun 2004, program-program jaminan sosial yang akan diselenggarakan meliputi: jaminan kesehatan, jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, jaminan pensiun dan jaminan kematian.

Jaminan Kesehatan (JK)

Prinsip utama dari jaminan kesehatan ini adalah asuransi sosial dan ekuitas yang bertujuan untuk memberikan manfaat pemeliharaan kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan masyarakat. Mengenai besaran, cakupan pelayanan yang diberikan dan untuk menghindari terjadinya penyalahgunaan semua sudah ditetapkan pemerintah dalam UU. Kedepannya diharapkan melalui adanya sosial protection di bidang kesehatan ini akan berdampak pada pemerataan pelayanan kesehatan, memperbesar peluang serta kesempatan kerja tenaga medis dan paramedic, meningkatkan keahlian dibidang kedokteran dan diharapkan akan muncul teknologi-teknologi baru yang bisa semakin meningkatkan standar serta mutu pelayanan yang diberikan kepada masyarakat.

Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK)

Tujuan utama dari diselengarakannya JKK ini adalah agar para peserta memperoleh manfaat pelayanan kesehatans serta santunan uang tunai apabila mengalami kecelakaan kerja atau menderita penyakit akibat kerja. Besarannya sudah diatur oleh pemerintah menyesuaikan dengan upah dan dibebankan kepada pemberi kerja.

Jaminan Hari Tua (JHT)

Tujuan utama dari JHT ini adlah agar para peserya menerima uang tunai ketika memasuki masa pensiun, mengalami cacat total tetap atau meninggal dunia. Iuran JHT ini dibebankan kepada pekerja dan pemberi kerja, dengan mekanisme yang diatur sesuai dengan kebutuhan.

Jaminan Pensiun (JP)

Salah satu tujuan JP ini adalah untuk mempertahankan kehidupan yang layak pada saat peserta kehilangan atau berkurangnya penghasilan ketika memasuki usia pensiun. Tiap bulan, selama masa kerja, pekerja akan dipotong penghasilannya yang kemudian nantinya akan diberikan ketika sudah pensiun. Namun saat ini mekanisme pemberian dana pensiun hanya sebatas pada PNS saja.

Jaminan Kematian (JKm)

Jaminan kematian ini diberikan tiga hari setelah peserta meninggal dunia, yang menjadi tanggung jawab dari pemberi kerja. Namun sayangnya di Indonesia sendiri program ini baru akan berjalan sekitar 20 hingga 25 tahun yang akan datang.

Kedepannya apabila program social protection yang diberikan oleh negara ini dapat dijalankan sebagaimana seharusnya tentunya akan berdampak pada meningkatnya kesejahteraan masyarakat, mengurangi angka ketergantungan dan membantu mobilisasi dana masyarakat yang mampu membentuk tabungan nasional.

Dengan skema jaminan sosial yang diberlakukan saat ini, dimana pemerintah menghimpun dana dari masyarakat untuk kemudian ‘diputar’ atau disalurkan kembali, secara tidak langsung akan membantu peningkatan pembangunan di sektor ekonomi dan kedepannya diharapkan Indonesia bisa menjadi negara yang mampu membiayai program pembangunannya dari dana domestik yang dimiliki.

Lalu sebenarnya apa sih dampak adanya social protection atau yang oleh pemerintah diterjemahkan sebagai sistem jaminan sosial ini?

  1. Meningkatnya perekonomian dalam negeri dengan banyaknya pemberian kredit/investasi kepada masyarakat yang sumber dananya dari masyarakat itu sendiri.
  2. Meningkatnya jumlah lapangan kerja, mengurangi penangguran, mengurangi sektor nonformal dan meningkatkan keinginan masyarakat untuk ikut dalam keanggotaan jaminan sosial.
  3. Terbentuknya dana nasional/tabungan yang besar, dimana hal ini juga dapat membantu meningkatkan kemampuan dan kemandirian bangsa dalam membiayai program-program pembangunan.
  4. Meningkatnya standarisasi dibidang kesehatan karena kesadaran masyarakat akan kesehatan semakin meningkat.
  5. Adanya pengendalian tarif pelayanan kesehatan termasuk didalamnya harga obat-obatan.

Cakupan social protection ini menggambarkan kemampuan ekonomi sebuah negara. Semakin bagus perekonomian sebuah negara, semakin bagus dan banyak pula cakupan pelayanan yang diberikan oleh negara kepada masyarakatnya dalam pemberian perlindungan sosial.

Kenapa negara maju bisa memberikan social protection kepada warga negaranya tidak hanya dalam pemberian pelayanan kesehatan tetapi juga mencakup pendidikan dan ‘bantuan langsung tunai’ bagi pengangguran ataupun warga negara tidak mampu? Itu karena pajak yang mereka tarik dari warganya cukup besar, yaitu sekitar 60% dari penghasilan yang mereka terima. Wajar saja kalau social protection yang mereka miliki bagus dan menjangkau siapa saja.

Akhir kata, mari kita kembali bertanya, Apakah Indonesia sudah mampu dan sanggup untuk menjadi sebuah negara yang memberikan kesejahteraan melalui social protection? Atau skema social protection seperti apa yang harusnya ada di Indonesia?

Terimakasih.

Host : Kak Ahmad
Pemateri: Kak Mo

#SelasaKreatif #1

Malam ini saya ditunjuk untuk mengisi #SelasaKreatif.

Jujur saya grogi karena ini pertama kalinya sharing tentang materi menulis..kebetulan saya juga sedang mempelajarinya jadi kita belajar bareng-bareng aja ya *asli ini saya grogi*

Aku pingin tahu dulu disini yang ada keinginan untuk jadi penulis siapa ya? Menurut kalian yang lagi nulis nih. Nulis itu susah gak? Trus yang sedang kalian tulis itu apa?

Sebenernya nih menulis itu gampang.. Mudah. Itu juga kata Arswendo Atmowiloto

Aku coba uraikan satu-satu ya nanti kenapa sebagian orang merasa menulis itu susah.

Dalam dunia kepenulisan dibagi menjadi dua macam: nulis non fiksi dan fiksi. Berhubung saya anak fiksi jadi pembahasan kali ini tentang menukis fiksi

Kalo menurut kak rara, menulis itu gampang apa susah?

Gampang2 susah karena masih sering terjangkit writers block. Tapi sejauh ini sih terus berusaha.

Jika ada dari kalian yang ingin menjadi penulis itu adalah salah satu pilihan yang luar biasa. Why?? Karena penulis itu membutuhkan kecerdasan dan kreatifitas yang lebih, dan mampu mempengaruhi opini dan bahkan prinsip hidup pembacanya. Nah karena luar biasa itu tentu nggak banyak orang yang bisa bener2 jadi penulis

Mnurut ilmu yang pernah saya dapat, setidaknya ada 3 kelebihan mnjadi penulis:

  1. Mampu brpikir tidak biasa. Harus mengetahui lebih banyak pengetahuan diluar bidang yang pernah kita pelajari supaya tema dan ide yang kita tulis gak monoton itu-itu aja.
  2. Mampu berpikir logis dan sistematis. Nggak mau kan bikin pusing pembaca dengan tulisan kita yang kacau.
  3. Mampu menciptakan interpretasi. Sebagian pembaca ada yang hidupnya berubah setelah dia membaca sebuah novel karena sudah trpengaruh dengan ide yang melahirkan tafsir baru.

Tapi ada yg bilang writer’s block itu mitos kak?

Hampir sama kayak kita terjangkit penyakit tapi karena hal mistis. Pak Edi Divapress selaku orang yang sudah memberi saya banyak ilmu tu juga tidak mau percaya dengan yang namanya writers block. Bagi beliau writers block=rasa malas.

Buat kalian yang nggak pede buat memulai nulis, dari sekarang tancepin mindset bahwa kalian pasti bisa nulis (fiksi). Kenapa yakin gitu?? Nah gini setiap perjalanan kehidupan kita adalah cerita. Sama seperti apa yang mau kita tulis itu juga adalah sebuah cerita. Setiap hari, setiap saat bahkan setiap detik pasti cerita itu ada.

Misal nih kita ketemu temen, adek,kakak,keluarga lain bahkan tetangga, kita pasti selalu ngobrol kan sama mereka tentang segala sesuatu yang tanpa kita sadari sebagian besarnya adalah sebuah cerita. Iya nggak? Nah sudah jelas dari situ bisa dikatakan bahwa setiap dari kita adalah pencerita. Hanya saja, kali ini kita menghadapi sebuah tantangan…yang biasanya kita bercerita lewat lisan, sekarang kita harus belajar menuangkannya lewat tulisan.

[Materi oleh: Kak Rara]

#JumatBarokah #1

asbak portable

KBY pertama kali bertemu dengan Asbak Portable ini pada saat meet up di Semesta. Adalah kak Danti yang memperkenalkan asbak dari botol UC 1000 bekas yang dililit-lilit tali hingga terlihat semakin eye catching.

Kemudian pada tanggal 9 Oktober 2015, kak Danti dan Kak Valent (founder #BringButtKeeper) berbagi di #JumatBarokah dan mengajari teman-teman KBY cara membuat asbak cantik ini.

Ramah lingkungan bukan?

Yang tertarik dengan Asbak Portable ini bisa langsung menghubungi kak Danti.