#Selasa Kreatif 26 Januari 2016

Selamat malam teman-teman KBY dimanapun berada.

Apa kabar?

Sudah siap untuk #SelasaKreatif malam ini?

Setelah minggu lalu ada beberapa tips untuk menjaga buku agar tetap awet, pada kesempatan kali ini kita akan membahas beberapa cara menyusun atau menata buku.

Bagi seorang penyuka apalagi pencinta buku, mempunyai banyak buku bacaan dirumah merupakan sebuah keharusan dan ‘heaven on earth’ yang tak ternilai harganya.

Orang-orang semacam ini juga tidak sungkan menghabiskan banyak uang untuk menambah jumlah koleksi yang dimilikinya.

Koleksi buku yang semakin lama semakin bertambah banyak terkadang juga merepotkan, terutama dalam penataan.

Salah penataan bisa jadi buku favorite atau yang sedang diperlukan akan sulit ditemukan karena berada tidak sesuai tempatnya.

Penataan rak buku yang rapi dan menarik merupakan kunci utama agar koleksi buku semakin ‘enak dilihat’.

Berikut ada beberapa cara menata buku yang mungkin bisa teman-teman terapkan:

  1. Menata berdasarkan genre/tema

Buku-buku yang ada bisa dikelopokkan sesuai dengan genrenya. Salah satu yang paling gampang adalah dengan memisahkan antara buku yang ‘berat’ atau serius (buku pelajaran, buku text, kamus, ensiklopedia, pengetahuan umum dll) dengan buku-buku yang lebih ringan (novel, komik, dll). Bisa juga berdasarkan fiksi dan non fiksi. Bisa juga dipisahkan berdasarkan bidang ilmu (politik, agama, sejarah, sastra dll). Susun buku yang setema dalam rak yang sama. Untuk semakin mempermudah, bisa memberikan label nama sebagai penanda.

 

  1. Menata sesuai ukurannya

Agar susuan buku didalam rak lebih enak dilihat, bisa di susun dengan cara mengelompokkan sesuai dengan ukurannya, missal yang besar dengan yang besar atau yang kecil dengan yang kecil. Buku-buku ini kemudian sebaiknya diposisikan berdiri agar tidak memakan banyak tempat.

 

  1. Menata berdasarkan warna

Mengelompokkan buku berdasarkan warna cover ini jarang digunakan oleh orang-orang kebanyakan. Padahal gradasi warna yang diperoleh dari penataan semacam ini akan terlihat bagus. Dan salah satu kelemahan pengelompokan buku berdasarkan warna adalah sulit ditemukan ketika dibutuhkan.

 

  1. Menyusun berdasarkan alphabet.

Penataan dan penyusunan berdasarkan alphabet ini sangat mempermudah ketika mencari sebuah buku yang ingin dibaca. Cara penyusunannya pun mudah, tinggal di jajarkan buku-buku koleksi berdasarkan judulnya. Sangat-sangat efektif ketika ingin mencari sebuah buku bukan? Tinggal menyusuri judul-judulnya dan menemukan buku tersebut dengan lebih cepat.

 

  1. Menyusun berdasarkan penulis.

Sama seperti cara-cara sebelumnya, buku-buku dari penulis yang sama bisa dikelompokkan dalam satu rak. Tapi tentunya tidak semua koleksi buku bisa disusun seperti ini.

 

Demikian beberapa tips untuk sesi #SelasaKreatif malam hari ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Mungkin ada diatara teman-teman KBY yang ingin menambahkan beberapa tips atau sharing bagaimana cara penataan buku-buku koleksinya?

 

 

 

 

 

#Selasa Kreatif 19 Januari 2016

Selamat malam teman-teman KBY dimanapun berada.

Apa kabar di malam ini? Sehat kah?

Sesuai janji saya tadi siang, Selasa malam kali ini akan diisi dengan #SelasaKreatif.

Di #SelasaKreatif hari ini saya akan berbagi sedikit mengenai cara-cara merawat buku agar tetap awet.

Sebelumnya saya mau bertanya, disini siapa yang koleksi bukunya yang sudah mencapai 2000 judul? Repot nggak sih merawatnya? Banget kan?

Berikut ada beberapa tips yang dapat disimak supaya buku koleksi teman-teman tetap awet:

  1. Sampul dengan rapi.

Pemberian sampul (terutama sampul plastik) ini ampuh banget untuk melindungi buku-buku koleksi dari serangan debu, kalaupun akhirnya tetap berdebu membersihkannya lebih mudah. Selain itu dengan disampul plastik juga akan menjaga ujung-ujung buku tetap dalam keadaan rapi dan terlihat bersih walaupun sudah lama.

Untuk teman-teman yang menyampul sendiri, jangan lupa pilihlah bahan sampul plastik yang agak tebal atau plastik berbahan doff, dan hindari bahan plastik lengket yang sering membuat buku-buku menempel satu sama lainnya. Dalam menyampul buku, salah satu hal yang harus diingat adalah jangan terlalu ketat, hal ini lama kelamaan malah akan membuat cover buku melengkung atau malah terlipat.

Kalau di Yogya sih enaknya beberapa toko buku sudah menyediakan jasa penyampulan gratis.

 

  1. Tata dengan posisi berdiri.

Alih-alih menyusun dengan ditumpuk, sebaiknya susunlah buku-buku koleksi dalam posisi berdiri. Kenapa? Dengan posisi berdiri, masih memungkinkan udara untuk masuk ke sela-sela buku. Selain mengganggu sirkulasi udara, penyusunan buku dengan cara ditumpuk ini juga bisa merusak buku. Dalam waktu lama hal ini akan merusak jilid buku dan covernya. Penyusunan buku dengan cara berdiri juga akan semakin memudahkan dalam pencarian. Oya, walaupun sudah d susun dengan cara berdiri, jangan lupa sisakan sedikit ruang kosong agar memudahkan dalam mengambil koleksi.

 

  1. Beri kapur barus (kamper)

Ada yang punya pengalaman ‘horor’ bukunya habis dilahap rayap? Atau malah lengket karna lembap?

Rayap dan lembap adalah dua musuh utama buku. Salah satu cara untuk mengusir rayap adalah dengan menebar kamper di rak atau lemari buku. Selain mengusir rayap, kamper juga ampuh untuk mengurangi bau tidak sedap. Kalau mau bahan yang alami, bisa menggunakan bubuk cengkeh untuk menjaga buku dari serangan rayap.

Untuk mengurangi kelembapan, bisa memakai alat penyerap kelembapan, banyak tuh dijual di supermarket-supermarket.

 

  1. Hindari melipat dan menekuk buku

Salah satu cara paling gampang untuk menandai halaman terakhir yang dibaca adalah dengan melipat atau menekuk buku. Tapi akibatnya adalah bekas lipatan atau tekukan yang merusak halaman buku. Untuk menghindari hal ini, gunakanlah pembatas buku.

Nah, makanya KBY rajin membagi-bagikan pembatas buku tiap kali ada acara ngumpul-ngumpul.

Kalau mau lebih kreatif, ada banyak hal yang bisa dijadikan pembatas buku. Mulai dari struk belanjaan, kertas bekas kalender, kartu nama, flyer, uang kertas, bahkan foto gebetan atau mantan. Untuk yang terakhir ini, pastikan selalu mengeluarkan foto (gebetan atau mantan) begitu selesai tugasnya sebagai pembatas buku. Nggak pengen kan kalau foto (gebetan atau mantan) ini ditemukan oleh peminjam buku yang ternyata, ehm, ……… (silakan lanjutkan sendiri).

 

  1. Keluarkan dari rak atau lemari buku secara rutin

Buku yang disimpan dan dibiarkan bertahun-tahun didalam lemari bisa sangat rawan dipenuhi debu, bahkan laba-laba suka iseng membikin sarang disana. Kelamaan didalam lemari juga nggak bagus untuk kesehatan buku, sirkulasi udara yang jelek akan merusak kondisi buku. Kalau ada waktu luang, nggak ada salahnya untuk membersihkan debu yang menempel sekalgus memberikan kesempatan bagi buku-buku tersebut untuk bernapas di luar rak. Mengeluarkan buku dari rak atau lemari ini bisa dilakukan satu atau dua bulan sekali, atau tiap minggu dicicil sedikit-sedikit. Tapi kalau jumlah koleksi sudah banyak banget, kok ini malah merepotkan ya?

 

Demikian beberapa tips merawat buku untuk sesi #SelasaKreatif malam hari ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Mungkin ada diatara teman-teman KBY yang ingin menambahkan beberapa tips agar buku koleksi terjaga keawetannya?

Atau mungkin ada yang mau pamer foto rak buku?

Atau ada yang mau berbagi cerita ‘horor’ mengenai buku kesayangannya?

Ditunggu loh.

 

Kertas berubah warna menjadi kekuningan karena telah mengalami proses oksidasi. Kayu yang diolah menjadi kertas mengandung zat yang disebut lignin dan selulosa. Lignin adalah kandungan zat dalam kayu yang berguna untuk mempertahankan kayu dari hama dan kerusakan.

Selain itu, zat lignin bisa membuat kayu keras dan berdiri tegak. Zat inilah yang digunakan untuk membuat kertas seperti karton dan dus. Semakin banyak lignin, maka semakin keras pula kertasnya dan berwarna coklat.

#SelasaKreatif #2

Malam ini kita akan jabarkan 5 unsur dalam teknis menulis. 5 unsur dalam teknik menulis itu antara lain:

  1. Alur cerita
  2. Setting/ latar cerita
  3. Penokohan
  4. Konflik
  5. Ending

ALUR CERITA

Alur cerita adalah jalan cerita. Apapun bentuknya. Sebuah fiksi harus memiliki jalan cerita. Alur cerita ini mempunyai 3 jenis bentuk, yaitu, alur maju (A-Z), alur mundur (Z-A atau biasa disebut flashback), atau alur maju-mundur (non linear). Semuanya bisa menjadi pilihan satu-satu atau bahkan gabungan sekaligus. Bebas! Intinya adalah kita harus menciptakan alur cerita. Nah, untuk mengalirkan yang namanya jalan cerita, hal pertama yang harus kita miliki adalah ‘gambaran jalan cerita’. Mau dikemanakan sih jalan cerita (cinta) kita.

Gambaran jalan cerita itubisa kita tuangkan ke dalam sebuah outline (semacam kerangka cerita) sebelum memulai menulis. Kira-kira ceritanya akan dialirkan gimana? Outline ini salah satu cara efektif untuk membantu kita mengingat rencana alur cerita yang sudah tergambar di otak.

Untuk pemula diasarankan lebih baik membuat outline dulu dan disiplin dengan outline itu sendiri. Tentu akan terjadi pergeseran-pergeseran alur di tengah proses penulisannya nanti. Dikhawatirkan, jika terus menerus menuruti pergeseran-pergeseran itu cerpen atau novel kita nggak akan pernah jadi lantaran terus berubah-ubah. Nglambyar gitu deh jadinya.

Selanjutnya, mengalirkan cerita bisa kita bangun melalui narasi dan dialog. Kita bisa mengombinasikan keduanya secara proporsional. Imbang lah. Kebanyakan narasi juga akan membuat pembaca bosan, pun sebaliknya. Kalau terlalu dominan dialog bisa membuat pembaca meyakini kita bahwa kita lebih rewel dan cerewet dari Omas.

Jangan pernah membuat narasi dan dialog yang tanpa peran untuk membangun cerita. Basa basi gitu deh maksudnya. Itu sangat tidak menarik. Juga, jangan mengulangi inti dari narasi dalam bentuk dialog atau sebaliknya. Karena pengulangan yang seperti itu akan  mencederai karya kita.

Ini contoh kombinasi narasi dan dialog yang berperan mengalirkan cerita:

Kyoto mulai beku. Lalu-lalang yang tadi tamoak berisik kini melengang. Siklus alam, ya, selalu saja orang akan kembali pulang saat malam kian kencang menorehkan lelah. Tapi tidak buatku! Aku masih saja duduk di taman yang gigil ini, setia menunggumu. Setia menanti janjimu, Dewi. Kulirik lagi arlojiku, sudah pukul 2 dini hari.

“Benar ya, pukul 10 nanti?” tanyaku penuh semangat.

Dewi tersenyum manis, menjereng deretan giginya yang putih mempesona, menaklukkan hatiku.

“Ya, aku akan datang,” sahutnya.

“Aku akan menunggumu, lebih dulu dari jam yang kamu janjikan. Pasti itu!”

Ah, kembali, lagi-lagi, ia mengingkari janjinya. Pukul 10? Sekarang sudah pukul 2 dini hari, dan tak ada secuil kabar pun darinya. Selalu begini!

Tetapi aku masih saja selalu setia memberikan dada lebarku padanya untuk mengerti dan mengerti, meski tentu saja aku sama dengan lelaki lain yang tersuruk kecewa saat kekasihnya kembali ingkar janji.

LATAR CERITA

Setiap cerita selalu membutuhkan latar yang menjadi tempat ia hidup. Apa pun dan bagaimana pun latar tu diciptakan, entah itu nyata atau imajiner dan fantasi, latar itu harus ada. Latar bukan hanya lukisan tentang temoat. Bukan! Latar juga mencakuo suasana emosi yang terbangun dalam tokoh-tokoh itu. Karenanya, latar bisa dibangun dengan model narasi dan dialog pula. Dan yang harus diingat: lukisan latar itu harus natural, jangan dipaksakan. Ini bukan berarti tidak boleh membuat latar yang fantasi atau imajiner, bukan! Latar yang natural itu alamiah dan logis. Kalau malam pasti gelap donk. Nah, kalau tahun 1945 ya otomatis suasananya harus revolusi. Saat itu belum ada blackberry, kan jadi jangan bikin latar yang gak logis.

Hal lain yang kudu diperhatikan dalam membangun latar cerita adalah jangan terjebak untuk menjadi reporter.

Memang benar, bahwa fiksi yang berhasil menyajikan latar dengan kuat dan detail tentu akan memiliki kekuatan lebih. Pasti itu! Sebuah novel yang berhasil menceritakan kota Manchester dengan detail, pasti akan memiliki kekuatan lebih di mata pembaca. Dan kita sekarang beruntung banget hidup di era mbah Google yang selalu sedia membantu kesulitan-kesulitan kita. Jadi kita nggak perlu keliling dunia hanya karena riset latar novel.

Nah yang dimaksud jangan terjebak sebagai reporter adalah kita keasyikan menuturkan latar sampai-sampai lupa bahwa kita sedang menulis cerita, bukan berita.

Misal nih ya:

Al Shafwa Royale Orchid, Room 734. Dari kamar ini, pesona misterius Masjidil Haram begitu terang di depan mataku. Ya, begitu dekat! Aku hanya perlu waktu 5 menit untuk sampai ke hadaoan Ka’bah. Turun ke lift dua kali, lalu di pintu keluar hotel sudah berjulang jelas bangunan dominan abu-abu berarsitektur Timur Tengah ini.

Selalu saja, seperti yang kali ini pun kukatakan pada istriku tanpa bosan, Masjidil Haram beda auranya dengan Masjid Nabawi. Jika Masjid Nabawi bernuansa anggun elegan, Masjidil Haram kental suasana misterius-mistik. Dia mengangguk, membenarkan: ah, senangnya memang punya isteri yang nyaris selalu menyetujuiku untuk hal-hal yang tidak prinsipil.

“Kamu ngerasa kayak disambut bara tungku nggak setiap keluar pintu lobby hotel?”

“Iya, panas sekali, maklum suhunya sekarang sampai 47 derajat…” sahut istriku sambil sedikit menghempaskan napas.

Kujawil lengannya, “Lihat itu, di pojok, dekat wanita berjubah hitam yang jualan tasbih dan Al-Quran itu. Anak tanggung di sebelahnya itu tangannya terpotong. Apa kena qishas ya?”

Istriku menoleh, lalu menepi sejenak saat rombongan besar jamaah dari Turki melintas membelah jalannya. Sebagian besar gundul. Seluruhnya tambun-tambun kayak timbunan lemak.

“Awas, minggir…!” teriakku sambil menepikannya lagi.

Sebuah bus yang berkaca hitam berhenti di sebelahnya. Hafil, kubaca tulisan itu di body bus itu

Coba bandingkan dengan ini:

Malam hari terasa masih terang sajadi sekitaran Eiffel ini. Ada banyak sekali orang-orang yang berjualan segala macam merchandise khas Paris di sekitarnya. Anak-anak kecil juga banyak melintas, bermain-main di taman yang hijau membentang ini. Sebuah hotel bertuliskan Hilton bersiri gagah sekali. Di ujung barat taman yang mengitari Eiffel ini, ada sebuah gang kecil yang jika diikuti akan menuju ke sebuah perkampungan penduduk Paris kelas bawah. Suasana yang bertolak-belakang dengan jalan-jalan besar yang mengitari taman Eiffel ini, yang dipenuhi oleh mobil-mobil lalu-lalang tanpa terputus.

Eiffel memang memikat mata. Menjulang tinggi. Para pelancong tampak bersemangat semua untuk menaiki Eiffel dengan cara antri di depan lift itu.

Kalian nemuin tokoh nggak di sana? Alur ceritanya ada nggak? Kayak berita kan? Nah, itulah mengapa penting dipahami bahwa sebuah karya bisa memiliki kekuatan plus jika mampu membangun latar yang detail, tetapi tetap kudu dalam bingkai cerita, baik melalui narasi atau dialog.

PENOKOHAN

Di dalam sebuah cerita, tentu wajib hukumnya untuk ada tokoh-tokoh. Tokoh utama hingga tokoh sambilan. Semua tokoh ini harus diciptakan karakternya. Dari watak sampai kebiasaan harian atau pun fashionnya. Posisi peran setiap tokohnya pun harus terang dalam cerita yang kita buat. Itulah yang disebut penokohan. Semua penokohan ini harus diciptakan oleh penulis secara konsisten dan logis. Kalaupun di bagian tengah atau akhir ada perubahan terhadap penokohan seorang tokoh, maka tetap harus ada penjelasan cerita yang logis sebab dari perubahan karakter tokoh tersebut.

Misal nih, tokohnya sedari awal diceritakan cewek penggila nongkrong di cafe. Di bagian tengah, cewek ini berubah style jadi cewek rumahan, maka harus ada jalinan cerita yang menguraikan secara logis sebab-sebab pemicu hal tersebut.

Logika tokoh juga mutlak untuk diperhatikan. Misal, seorang anak SD kelas 4, tapi dialog-dialognya terasa begitu wise layaknya seorang pertapa usia 60 tahun. Ini nggak logis. Maka sesuaikan saja secara alamiah level setiap tokoh yang kita buat dengan perannya, caranya berbicara, caranya beraktivitas, dan sebagainya.

So, mau dijadiin apapun tokoh-tokoh karya yang kita buat, bebaas. Tapi tetap memperhatikan aspek konsistensi peran dan logika ketokohannya.

KONFLIK

Setiap cerita harus ada konflik cerita. Tanpa konflik, cerita yang kita bikin meskipun sudah berhasil membangun alur,latar, dan penokohan, akan terasa sangat datar bin garing bin anyep kayak jomblo akurat. Konflik sesungguhnya merupakan jantung dari sebuah cerita. Berdasar konflik yang dibangun bisa dari awal langsung atau mengalir landai. Maka, kemampuan kita membangun titik konflik yang mendidih akan benar-benar menjadi jantung dari bagus atau tidaknya tulisan yang kita buat.

Dalam sebuah cerita,konflik memang tidak harus tunggal. Kalau tunggal, cerita akan terasa sangat sempit. Konflik boleh diciptakan sebanyak-banyaknya, asalkan kita mampu mengalirkannya dalam cerita. Meskipun begitu, tetap saja hanya ada satu konflik utama. Konflik-konflik lainnya bisa disebut dengan ‘bumbu konflik’ penyedap cita rasa masakan cerita yang kita buat.

Kita harus ingat benar bahwa konflik yang membahana, yang disajikan dengan alur yang mengalir, latar yang detail, dan penokohan yang kuat, akan benar-benar menjadi pelengkap bangunan cerita yang kita buat. Karena itu, jangan memilih konflik ala kadarnya. Kita harus bisa memilih konflik yang cetar, yang tidak monoton, yang bakal bisa menyedot rasa penasaran pembaca. Dukunglah konflik cetar dengan item-item lainnya dari akur sampai penokohan, maka niscaya cerita kita akan mampu menyeret pembaca.

Cerita yang baik adalah cerita yang mampu’menyeret’ : rasa penasaran pembaca agar terus membaca, emosi pembacanya sampai dia merasa benar-benar menjadi bagian dari jalan cerita dan kehidupan si tokoh.

Kalian pernah kan merasa sebel,sampai mau banting hape, nangis dan senyum-senyum sendiri. Berarti kalian udah terseret dalam cerita tersebut. DRAMATIS guys.

ENDING

Apakah ending harus selalu ada?? Tidak juga sih. Lha kenapa kok memasukkan aspek ending dalam rangka membuat cerpen atau novel? Sengaja dimasukkan untuk membantu supaya kita mengerti bahwa setiap cerita tentu akan memiliki akhirnya. Sekalipun menulis novel romance setebal 500 halaman, tetap saja akan ada akhirnya. Nah akhir itulah yang disebut ending.

Ending tidak harus berupa ‘akhir cerita tokoh’. Ending tidak mesti berupa mati atau bahagia. Menikah. Punya anak. Kaya raya! Itu udah basi. Ending pun tidak harus ada di akhir bagian novelmu. Bisa ada di mana saja, misal di depan atau tengah, dengan catatan harus mampu memelihara alur dan logikanya dengan kuat dan baik.

Pada tahu istilah ending menggantung kan? Nah ending menggantung adalah menutup cerita dengan sebuah adegan atau suasana atau dialog bahkan yang dibiarkan menggantung begitu saja. Dan ini sah-sah saja

Mau gimanapun endingmu, buatlah ending yang menyentak! Ya, yang menampar, menyergap,ngagetin. Itu penting lho agar pembaca kita menjadi lebih teraduk-aduk emosinya.

Ini salah satu contoh ending:

“Maafkan tak setiaku selama ini. Kalau boleh kuminta sesuatu padamu, tolong sampaikan ini pada anak-anakku bahwa aku sangat menyayangi mereka. Tolong peluk mereka setiap malam jelang tidur, dan katakan bahwa pelukanmu adalah pelukan sayang ayah buat mereka…”

#SelasaKreatif #1

Malam ini saya ditunjuk untuk mengisi #SelasaKreatif.

Jujur saya grogi karena ini pertama kalinya sharing tentang materi menulis..kebetulan saya juga sedang mempelajarinya jadi kita belajar bareng-bareng aja ya *asli ini saya grogi*

Aku pingin tahu dulu disini yang ada keinginan untuk jadi penulis siapa ya? Menurut kalian yang lagi nulis nih. Nulis itu susah gak? Trus yang sedang kalian tulis itu apa?

Sebenernya nih menulis itu gampang.. Mudah. Itu juga kata Arswendo Atmowiloto

Aku coba uraikan satu-satu ya nanti kenapa sebagian orang merasa menulis itu susah.

Dalam dunia kepenulisan dibagi menjadi dua macam: nulis non fiksi dan fiksi. Berhubung saya anak fiksi jadi pembahasan kali ini tentang menukis fiksi

Kalo menurut kak rara, menulis itu gampang apa susah?

Gampang2 susah karena masih sering terjangkit writers block. Tapi sejauh ini sih terus berusaha.

Jika ada dari kalian yang ingin menjadi penulis itu adalah salah satu pilihan yang luar biasa. Why?? Karena penulis itu membutuhkan kecerdasan dan kreatifitas yang lebih, dan mampu mempengaruhi opini dan bahkan prinsip hidup pembacanya. Nah karena luar biasa itu tentu nggak banyak orang yang bisa bener2 jadi penulis

Mnurut ilmu yang pernah saya dapat, setidaknya ada 3 kelebihan mnjadi penulis:

  1. Mampu brpikir tidak biasa. Harus mengetahui lebih banyak pengetahuan diluar bidang yang pernah kita pelajari supaya tema dan ide yang kita tulis gak monoton itu-itu aja.
  2. Mampu berpikir logis dan sistematis. Nggak mau kan bikin pusing pembaca dengan tulisan kita yang kacau.
  3. Mampu menciptakan interpretasi. Sebagian pembaca ada yang hidupnya berubah setelah dia membaca sebuah novel karena sudah trpengaruh dengan ide yang melahirkan tafsir baru.

Tapi ada yg bilang writer’s block itu mitos kak?

Hampir sama kayak kita terjangkit penyakit tapi karena hal mistis. Pak Edi Divapress selaku orang yang sudah memberi saya banyak ilmu tu juga tidak mau percaya dengan yang namanya writers block. Bagi beliau writers block=rasa malas.

Buat kalian yang nggak pede buat memulai nulis, dari sekarang tancepin mindset bahwa kalian pasti bisa nulis (fiksi). Kenapa yakin gitu?? Nah gini setiap perjalanan kehidupan kita adalah cerita. Sama seperti apa yang mau kita tulis itu juga adalah sebuah cerita. Setiap hari, setiap saat bahkan setiap detik pasti cerita itu ada.

Misal nih kita ketemu temen, adek,kakak,keluarga lain bahkan tetangga, kita pasti selalu ngobrol kan sama mereka tentang segala sesuatu yang tanpa kita sadari sebagian besarnya adalah sebuah cerita. Iya nggak? Nah sudah jelas dari situ bisa dikatakan bahwa setiap dari kita adalah pencerita. Hanya saja, kali ini kita menghadapi sebuah tantangan…yang biasanya kita bercerita lewat lisan, sekarang kita harus belajar menuangkannya lewat tulisan.

[Materi oleh: Kak Rara]