Program Baru 2018

Halo, rekan-rekan Klub Buku Yogyakarta!

Tahun sudah berganti, KBY pun berubah dalam beberapa hal. Sabtu (20/1) kemarin diadakan rapat internal dan terjadi reorganisasi. Hari itu kami juga rapat agenda apa saja yang akan kami coba adakan selama tahun 2018. Kami butuh dukungan rekan-rekan agar semua program dapat dijalankan dengan baik. Jadi, inilah program kami di tahun 2018 berdasarkan hasil rapat:

A. PROGRAM OFFLINE

Program offline adalah program yang memungkinkan para anggota KBY dan teman-teman lain untuk bertatap muka. Kapan saja kita bisa berjumpa?

  1. BBK (Bengong Bersama KBY)

Bengong Bersama KBY atau yang sering disingkat BBK adalah kegiatan rutin bulanan KBY untuk bertatap muka dan berdiskusi membahas satu buku yang sudah ditentukan sebelumnya. Satu orang anggota KBY akan ditunjuk untuk jadi pemantik diskusi dan koordinator kegiatan online akan bertugas menjadi moderator untuk menggiring diskusi agar kondusif. BBK pertama akan diadakan Februari ini. Pantau akun medsos kami untuk info lebih lanjut, yaa~

 

  1. Perpustakaan Jalanan

Setelah absen sekian lama, kali ini perpustakaan jalanan akan kembali hadir melapak beberapa koleksi KBY untuk dibaca teman-teman semua. Perpustakaan jalanan direncakan akan digelar pada bulan Maret, Mei, Juli, September, November. Apa sih perpustakaan jalanan?

Perpustakaan jalanan adalah perpustakaan yang dibuka di jalan, semua orang boleh berkunjung dan membaca di tempat. Bukunya belum bisa dibawa pulang, ya. Oya, kadang kami menyediakan kesempatan untuk mewarnai di tempat untuk teman-teman atau adik-adik yang ingin mewarnai. Tempatnya di mana? Pantau akun medsos kami untuk info lebih lanjut, yaa~

 

  1. KBY Goes To Publisher

Yuk, kita berkunjung ke penerbit-penerbit yang ada di Yogyakarta untuk tahu seperti apa sih proses pembuatan buku! KBY goes to publisher rencananya akan diadakan 4 bulan sekali dimulai dari bulan April, Agustus, terkahir Desember 2018. Akan ke mana saja kita? Pantau akun medsos kami untuk info lebih lanjut, yaa~

 

  1. Workshop

Melihat antusiasme rekan-rekan datang ke workshop di Tahun Baru di JBS Musim Kelima kemarin, kami mengagendakan untuk mengadakan workshop lagi. Materi apa, kapan, dan siapa pematerinya? Pantau akun medsos kami untuk info lebih lanjut, yaa~

 

  1. Nonton Bareng KBY

Nah, ini nih agenda yang cukup seru: nobar. Tahun ini kami akan menggelar Nobar KBY untuk kemudian dilanjut berdiskusi tentang film yang selesai ditonton. Rencananya, nobar akan diadakan pada bulan Juni dan Oktober. Tunggu info lebih lanjut, yaa~

 

 

B. PROGRAM ONLINE

Program online adalah program yang diadakan tanpa perlu tatap muka, dilakukan remote via internet. Apa saja program online KBY tahun 2018?

  1. Diskusi Mingguan

Diskusi Mingguan adalah diskusi yang akan dilaksanakan rutin di WhatsAppp Klub Buku Yogyakarta dan semoga terjadwal. Hari-hari tersebut kami akan menunjuk salah satu anggota kami untuk menjadi pemantik diskusi dan diskusi akan dipandu oleh seorang penanggung jawab (PIC). Kami punya #SeninMovie untuk mengulas film, #SelaSastra untuk membahas dunia sastra, #RaBuku untuk membahas buku, #KamisLebihDekat untuk kepo-in sesama anggota KBY, #JumatBarokah untuk membahas segala hal yang barokah (filsafat, seni, cara mengupas nenas, dll), dan #SabtuKenangan untuk membahas hal-hal yang sudah terjadi di masa lampau tapi masih membekas di ingatan.

Berikut jadwal diskusi:

JUDUL DISKUSI JADWAL DISKUSI
#SeninMovie Minggu pertama dan ketiga
#SelaSastra Minggu kedua dan keempat
#RaBuku Minggu pertama dan ketiga
#KamisLebihDekat Minggu kedua dan keempat
#JumatBarokah Minggu pertama dan ketiga
#SabtuKenangan Minggu kedua dan keempat

 

  1. Satu Hari Satu Review

Agenda baru KBY yang satu ini diadakan di Instagram. Kalian yang belum bergabung jadi anggota juga boleh ikut mengirimkan ulasan buku dengan cara mengontak admin di kolom komentar atau DM.

 

  1. Satu Bulan Satu Tulisan

Sesuai permintaan rekan-rekan, tahun ini akhirnya KBY punya wadah bagi rekan-rekan yang senang menulis. Satu Bulan Satu Tulisan adalah program di mana setiap bulan akan ada satu tema yang dilempar di grup WhatsApp dan teman-teman bebas boleh menulis apa saja (esai, puisi, prosa) sesuai tema yang diberikan. Tenggat waktu akan diberikan di akhir bulan. Hasil tulisan kemudian akan diunggah ke blog Klub Buku Yogyakarta ini.

 

Gimana? Seru-seru, kan? Bagi kalian yang tertarik bergabung, sila kontak 0856-4771-8171 atau 0857-2666-8050. Syaratnya mudah: berpartisipasi aktif di forum. Sampai jumpa di salah satu kegiatan, yaa~

 

Salam,

Pengurus KBY

#SelaSastra 8 Desember 2015

Gaya Bahasa [1]

Untuk sesi #SelaSastra kali ini, saya akan coba membahas sedikit mengenai ‘Gaya Bahasa’.

Ayo di sini siapa saja yang suka menulis? Kalau yang pengen jadi penulis? Mau nulis apa?

Secara sederhana, karya tulis bisa dibagi menjadi dua yaitu: fiksi dan non fiksi.

Fiksi merupakan sebuah prosa naratif yang bersifat imajiner, meskipu begitu sebuah karya fiksi harus masuk akal. Contohnya: cerpen, novel, prosa, puisi, drama, lirik dll

Sedangkan non-fiksi merupakan tulisan yang bersifat factual, hal-hal yang terkandung didalamnya nyata dan benar terjadi, bukan hasil imajinasi atau rekaan penulisnya. Contoh: berita, kritik, essai, tulisan ilmiah, skripsi, thesis dll.

Tidak semua penulis pada awalnya mampu menghasilkan sebuah tulisan yang ‘menggoda’ untuk dibaca. Untuk itu perlu diingat bahwa kalimat pertama di paragraph pembuka harus mampu menggoda pembaca untuk terus melanjutkan membaca hingga selesai.

Agar dapat menulis kalimat atau paragraph yang menggoda penulis hendaknya mampu memilih kata-kata yang tepat, kosa katanya harus luas, harus mampu menggunakan kamus yang ada, dan yang paling penting harus mampu menyampaikan ide atau gagasan yang ingin disampaikan kepada pembaca. Gaya bahasa juga mempengaruhi apakah seorang pembaca akan melanjutkan membaca sampai tuntas atau berhenti pada halaman pertama.

Gaya bahasa setiap orang tidaklah sama. Gaya bahasa bisa dipelajari tetapi tidak bisa diambilalih. Seorang penulis bisa menemukan gaya bahasa pada saat pertama kali menulis, bisa juga setelah melalui serangkaian proses panjang dengan jam terbang yang juga tidak sedikit.

Lalu sebenarnya gaya bahasa itu apa?

Menurut Gorys Keraf gaya bahasa atau style ini adalah sebuah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakaian bahasa).

Gaya bahasa ini tidak hanya melulu mengenai diksi atau pemilihan kata, tetapi didalamnya terkandung juga cocok atau tidaknya penggunaan kata-kata tersebut, pilihan frasa, klausa , kalimat dan kesinambungan paragraph secara keseluruhan.

Sebuah gaya bahasa yang baik setidaknya harus mengandung tiga unsur yaitu:

Kejujuran

Kejujuran dalam bahasa berarti seorang penulis mengikuti aturan-aturan, kaidah-kaidah yang baik dan benar dalam berbahasa. Pemilihan dan penggunaan kata-kata yang kabur dan tidak terarah, penggunaan kalimat yang berbelit-belit bisa mengundang ketidakjujuran dalam menulis. Penulis tidak menyampaikan pikirannya secara terus terang, seolah menyembunyikan apa yang sesungguhnya ingin disampaikan melalui kata-kata dan kalimat berbelit. Banyak penulis yang memilih menggunakan kata yang ‘sophisticated’ dan kalimat berbelit hanya untuk terlihat lebih intelek dan hebat. Padahal bisa jadi ini sebuah jebakan.

Sopan-santun

Sopan santun yang dimaksud disini adalah memberi penghargaan atau menghormati orang yang membaca melalui penggunaan kata-kata yang jelas dan singkat. Menulis dengan jelas ini berarti tidak membuat pembaca memeras keringat atau otak untuk mencari tahu apa yang ditulis penulis, pembaca tidak perlu membuang waktu untuk membaca sesuatu yang panjang lebar yang sebenarnya dapat disampaikan dalam beberapa kalimat saja. Singkat berarti menggunakan kata-kata secara efisien, mengurangi dan menghindari tautology (pengulangan gagasan, pernyataan, atau kata yang tidak diperlukan).

Menarik

Kejujuran, kejelasan serta kesingkatan merupakan langkah dasar dan langkah awal. Apabila gaya bahasa hanya mengandalkan hal itu saja, maka sebuah tulisan masih terasa hambar atau tawar. Untuk itu gaya bahasa harus menarik. Menarik atau tidaknya gaya bahasa seorang penulis dapat diukur melalui beberapa hal, yaitu: variasi, humor, pengertian, dan imajinasi.

Demikian sedikit penjelasan mengenai ‘Gaya Bahasa’ untuk #SelaSastra malam ini. Nantikan penjelasan lebih lanjut mengenai ‘Gaya Bahasa’ di #SelaSastra minggu depan. Lebih dan kurang saya mohon maaf.

Ayo teman-teman yang ingin bertanya atau berpendapat, dipersilakan.

[Momo]

#SelaSastra 10 November 2015

Tips-tips Praktis dalam Menulis Fiksi (lanjutan)

Jangan jadi Ustaz

Benar adanya bahwa penulis pasti tidak kosong subyektivitas. Di dalamnya ada visi dan misi tentang apa yang dia tulis. Ada pesan moral yang terkandung. Selalu ingat bahwa yang kita tulis adalah sebuah cerita, bukan sedang menjadi seorang juru dakwah. Oleh karena itu, tidak perlu menjadi ustadz dalam menuliskan cerita. Berikut beberapa tipsnya:

  1. Kita harus bisa menyajikan pesan moral tetap dalam bingkai sebuah cerita.
  2. Paling mudah menyodorkan pesan moral melalui dialog tokoh-tokohnya
  3. Smooth, lembut, kalem, begitulah caranya.
  4. Hindarkan berkalimat panjang-panjang pada bagian pesan moral ini. Karena rentan menyulapmu jadi penceramah.
  5. Jangan memvonis! Kita hanya cukup menyodorkan sebuah ‘nilai moral’, tapi tidak perlu menghakimi ini benar itu salah secara verbal. Biarkan pembaca tetap asyik dengan cerita yang kita buat tanpa perlu merasa digurui.
  6. Hindarkan penggunaan-penggunaan kutipan yang straight! Dibiarkan dalam kutipan dalil, misal, tapi kemaslah dalan sebuah cerita.
  7. Wajib diingat!! Terseret untuk banyak menyodorkan pesan moral, bahaya menjadikan cerita yang kita buat, bisa-bisa malah kayak pamflet, kitab, dll.
  8. Pastikan semua itu berjalan secara alamiah dan tidak terkesan dipaksakan masuk dalam cerita.
  9. Kita harus bisa menjaga keutuhan logika cerita, jangan sampai tidak logis. Misal seorang nenek menasehati cucunya dengan mengutip wikipedia.

Kalimat Tidak Kaku

Agar kalimat-kalimat yang kita buat, baik narasi maupun dialog, tidak kaku dan membosankan, simak tips berikut ini:

  1. Kombinasikan kalimat panjang dan pendek secara harmonis. Jangan oanjang terus atau oendek terus. Itu membosankan.
  2. Kombinasikan antara narasi dan dialog secara seimbang. Dialog melulu, kesannya encer banget dan kayak nggak penting. Narasi melulu kesannya berat dan membosankan.
  3. Buat tokoh-tokoh bergerak dinamis, jangan lelet, beku dan stuck. Caranya? Sisipkan kalimat-kalimat naratif yang menjelaskan perubahan suasana latar atau emosi tokoh di antara dialog-dialog yang mengalirkan cerita.
  4. Pastikan kalimat yang kita bikin itu tuntas. Maksudnya, jangan terjebak pada frase. Setiap kalimat pasti punya (minimal) predikat. Kalau frase tidak ada predikatnya.
  5. Gunakan tanda baca dengan tepat yang mencerminkan suasana cerita yang sedang berjalan.
  6. Kita bisa menyelipkan teknik flashback untuk memvariasikan alur yang sedang berjalan.
  7. Pastikan kalimat yang diucapkan tokoh sesuai dengan karakter logisnya.
  8. Jangan terlalu kaku membuat kalimat yang berpedoman pada EYD atau tata bahasa baku. Yang penting kalimatnya sudah benar (bukan sebagai frase).
  9. Gunakan kata-kata kecil penyambung, seperti: ah, huh, wah, heh, nah, dll.
  10. Kombinasikan penggunaan kata pengganti untuk subyek, misal: aku,ku,dia,nya. Tambahkan kombinasi kata aktif dan pasif, misa: ‘dia memukul’ jadi ‘dipukulinya’, dst.
  11. Pastikan setiap perubahan pengucap atau suasana dipecah dalam paragraf sendiri.
  12. Dalam dialog, pastikan setiap pengucap yang berbeda di letakkan pada paragraf sendiri, jangan ditumpuk-tumpuk.
  13. Bisa menggunakan pola-pola yang variatif. Misal: mengangkat kalimat-kalimat yang dipakai dalam adegan SMS, BBM,FB,twitter,pamflet,spanduk, dsb.
  14. Jangan bebani kalimatmu dengan idiom-idiom puitik atau pun makna-makna yang tidak berkepentingan sesuai konteksnya.
  15. Bersikaplah alamiah,natural, sesuai dengan alur dan tokoh yang dialirkan

Tanda Baca dalam Dialog dan Narasi

Kesalahan teknis penulisan tanda baca benar-benar sangat mengganggu pembaca. Berikut beberapa tips yang harus diperhatikan:

  1. Pahami bahwa tanda baca itu berguna untuk membangun suasana emosi atau karakter latar dan tokoh, bukan hiasan belaka.
  2. Pahami bahwa tanda baca itu sama persis dengan ‘intonasi’ dalam bahasa lisan.
  3. Perkuat tanda baca dengan kata sambung untuk menegaskan suasana cerita (dalan dialog).
  4. Jika sebuah dialog diakhiri dengan tanda tanya (?) dan atau tanda seru (!), maka tidak perlu titik lagi dan kata sambungnya ditulis dengan huruf kecil. Misal: “Apa maumu?!” Teriakku keras.
  5. Jika sebuah dialog tidak diakhiri dengan tanda tanya (?) dan atau tanda seru (!), maka gunakan koma (,) dan tanda sambung (kecuali pengucap sudah jelas, kata sambung tidak perlu ada lagi). Misal: “Ah, kamu memang selalu punya alasan.”
  6. Jika sebuah dialog dilanjutkan dengan keterangan suasana latar atau berganti adegan, maka cukup diakhiri dengan titik. Misal: “Sudahlah, aku capek bahas ini terus.” Kubuang mataku ke seberang jalan.

Beberapa tips tambahan:

  1. Jika tulisan sudah jadi, endapkan sekitar 2-3 hari. Lalu baca lagi. Jangan begitu jadi langsung dikirimkan, karena pasti akan merasa tulisan kalian sudah sangat bagus, padahal banyak kelemahan di sana-sini. Jeda itu diperlukan untuk mengendurkan emosi pada karya kalian yang sangat tinggi akibat efek psikis menulis itu.
  2. Perbanyak membaca novel orang dan cermati tekniknya. Jangan cuma menikmati ceritanya, tapi juga amati bagaimana cara penulisembuat alur, konflik, kalimat,idiom (kosa kata), dll.
  3. Rajin-rajin sharing,perkaya wawasan, bergaul, dll.
  4. Yang utama dan terutama: TERUS BERLATIH MENULIS.

#SelaSastra 3 November 2015

Tips-Tips Praktis Dalam Menulis Fiksi

Pembuka Cerita

Diantara kita pasti pernah membaca novel atau cerita pedek kan? Pernah nggak, baru baca beberapa halaman atau baru baca beberapa paragraph, udah nggak mau lanjut baca lagi? Pernah nggak menemukan kalimat awal atau paragraph awal yang membosankan? Itulah kenapa seorang penulis yang baik harus bisa membuka ceritanya dengan sebuah awalan yang membuat pembaca terus penasaran dan terhanyut hingga ceritanya berakhir. Banyak penulis yang memiliki ide cemerlang namun gagal dalam membuka ceritanya. Berikut ini ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk membuat sebuah kalimat atau awalan yang baik:

  1. Buatlah kalimat yang simple. Sebisa mungkin hindari kalimat panjang yang membuat pembaca buku kita bosan. Sekali-sekali jangan pernah memulai kalimat pertama dengan bahasan yang bertele-tele.
  2. Cobalah untuk mencari sesuatu yang berbeda dari tema yang diangkat.
  3. Nggak ada salahnya memulai kalimat pertama dengan sebuah quoteatau kutipan yang membuat orang penasaran lebih jauh dengan buku yang mereka baca.
  4. Ciptakan karakter yang kuat semenjak dari awal kalimat atau awal cerita.

Suspensi = Kejutan = Dramatisasi

Banyak pembaca yang meninggalkan buku bacaannya karena bosan. Ada banyak alasan kenapa sebuah buku itu membosankan, mulai dari penyajiannya yang biasa-biasa saja, hingga tidak adanya masalah atau kejutan atau twist yang mereka dapatkan dari buku tersebut. Ada banyak penulis yang tidak mampu menyajikan tulisannya dengan baik sehingga buku yang mereka tulis terkesan membosankan dan ditinggalkan pembaca. Berikut ini terdapat beberapa tips yang untuk menambah ‘bumbu’ dalam penyajian tulisan:

  1. Kuasai tema yang akan ditulis. Ini hukumnya wajib. Seorang penulis harus tau apa yang mereka tulis. Kalau perlu lakukan riset yang mendalam tentang tema yang akan ditulis.
  2. Ciptakan plot twist ataupun penokohan yang membuat pembaca penasaran. Kalau perlu dramatisir cerita yang dibuat. Tapi ingat, jangan berlebihan.
  3. Tidak ada salahnya mencoba membuat plot yang melompat-lompat, tetapi masih dengan alur yang harmonis.
  4. Panjang pendek kalimat harus disesuaikan dengan kondisi emosi yang dibangun dalam tulisan tersebut.
  5. Berpikirlah out of the box.

Logika Cerita dan Dialog

Logika cerita merupakan salah satu poin yang harus dijaga konsistensinya. Hal ini akan sangat mempengaruhi keseuruhan cerita. Jangan sampai ada bagian yang menjadi tidak logis dan tidak lekat dengan cerita yang dibangun. Berikut ini ada beberapa tips yang bisa digunakan untuk membuat logika cerita atau dialog:

  1. Setiap bagian yang diceritakan dalam tulisan haruslah sesuatu yang masuk akal.
  2. Ciptakanlah tokoh dengan karakter yang konsisten.
  3. Kesesuaian lainnya seperti umur, status sosial, jenjang pendidikan, lokasi dan lain sebagainya harus selalu diperhatikan. Jangan memaksakan sesuatu yang malah akan membuat cerita menajadi tidak logis.
  4. Buatlah pembaca yakin kalau cerita yang disusun berdasarkan pada kenyataan yang sebenarnya dan dengan logika yang dapat dipahami oleh pembaca kebanyakan.

Eksplorasi Setting

Setting atau latar belakang adalah sebuah kekuatan dalam tulisan, yang jika berhasil dibangun dengan baik maka akan semakin memperindah sebuah cerita dan menguatkan cerita itu sendiri. Berikut ini ada beberapa tips dalam menciptakan setting yang baik:

  1. Kumpulkan data tentang setting yang akan dibuat. Jangan pernah mengandalkan apa yang diketahui saja, karena ini akan menjadi pelemah cerita yang ditulis. Kalau memungkinkan kunjungilah lokasi yang menjadi latar belakang dalam cerita.
  2. Data yang sudah dikumpulkan tadi sebisa mungkin dipilah terlebih dahulu agar tidak ‘membebani’ cerita dengan bagian-bagian yang tidak penting. Data yang didapatkan tidak harus dimasukkan semuanya kedalam cerita.
  3. Data yang didapat sebisa mungkin dikemas dalam sebuah alur cerita yang padu, baik itu dalam bentuk narasi maupun dalam kalimat-kalimat dialog.
  4. Hindarilah menjadi reporter yang melaporkan semuanya. Ini hanya akan mencederai cerita yang kita bangun.
  5. Berpikirlah dari sudut pandang lainnya, terutama sudut pandang pembaca.
  6. Tidak ada salahnya mencoba mengembangkan sebuah settingancerita dalam dialog-dialog antar tokoh yang ada dalam cerita.

Materi #selasastra 3 November 2015
[dengan perubahan oleh Tim Admin]